Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kenalkan Praktik Baik, Masjid Baitul Mukhlisin Ponorogo Sajikan 900 Porsi Jumat Berkah

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kenalkan Praktik Baik, Masjid Baitul Mukhlisin Ponorogo Sajikan 900 Porsi Jumat Berkah
Sekretaris Takmir Baitul Mukhlisin, H. Khoirul Anwar ketika menerima penghargaan dari panitia Musywil ke-XIII PWNA Jawa Timur (Huda/PWMU.CO)
pwmu.co -

Masjid Baitul Mukhlisin, Ponorogo, mengembangkan pelayanan sosial melalui program Jumat Berkah yang kini menyediakan hampir 900 porsi makanan setiap pekan. Program tersebut menjadi salah satu upaya masjid memperluas manfaat bagi masyarakat di luar kegiatan peribadatan.

Sekretaris Takmir Masjid Baitul Mukhlisin, H. Khoirul Anwar, menyampaikan hal itu dalam pemaparan Best Practice: CRM Award PP Muhammadiyah. Ia menjelaskan, program Jumat Berkah pada awalnya hanya menyediakan sekitar 100–150 porsi makanan dan minuman.

Seiring waktu, jumlah penerima manfaat terus bertambah. Kini, pengurus harus menyiapkan hampir 900 porsi setiap Jumat.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya takmir menjadikan masjid sebagai ruang pelayanan yang dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Pada dasarnya, sebelum kami mengelola masjid itu, sebetulnya sama dengan masjid-masjid,” kata Khoirul saat menjelaskan perubahan yang dilakukan setelah kepengurusan takmir mulai menjalankan program pengembangan.

Dimulai dari komitmen pengurus

Khoirul menjelaskan, salah satu langkah awal pengembangan masjid adalah membangun komitmen dari internal pengurus. Dalam sebuah pertemuan, ketua takmir mengajak para pengurus untuk memulai gerakan dengan berinfak.

Saat itu, pengurus yang berjumlah sembilan orang mengumpulkan dana hingga sekitar Rp125 juta. Dana tersebut menjadi modal awal untuk menggerakkan berbagai kegiatan masjid.

Selain Jumat Berkah, Masjid Baitul Mukhlisin menjalankan kegiatan keagamaan secara rutin. Kajian Subuh dilaksanakan setiap hari, sementara kegiatan pengajian dan pembelajaran Al-Qur’an bagi ibu-ibu diselenggarakan pada hari-hari tertentu, termasuk Selasa dan Jumat.

Berbagai kegiatan itu dikembangkan untuk memperkuat fungsi masjid sebagai tempat ibadah sekaligus ruang belajar dan pembinaan masyarakat.

Membangun masjid yang ramah bagi masyarakat

Takmir juga berupaya menjadikan Masjid Baitul Mukhlisin sebagai tempat yang nyaman bagi anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat umum. Pengembangan fasilitas dan pelayanan diarahkan agar jamaah dari berbagai kalangan dapat memanfaatkan masjid dengan baik.

Dalam pemaparannya, Khoirul menyebut masjid menyediakan sejumlah fasilitas yang dapat digunakan secara gratis. Di antaranya, fasilitas tempat singgah atau guest house bagi tamu dan pengunjung. Pelayanan makanan juga menjadi bagian dari upaya memberikan kenyamanan kepada masyarakat.

Takmir berusaha membangun suasana masjid yang terbuka dan tidak membedakan jamaah berdasarkan latar belakang sosialnya.

Upaya tersebut juga diwujudkan melalui pendekatan kepada masyarakat yang selama ini mungkin merasa jauh dari lingkungan masjid. Khoirul mencontohkan, masjid berusaha menerima orang-orang dengan pengalaman hidup yang beragam, termasuk mereka yang pernah menghadapi persoalan hukum atau mendapatkan stigma sosial.

Bagi pengurus, masjid perlu menjadi ruang pembinaan yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperbaiki kehidupan, bukan sekadar tempat untuk menjalankan ibadah.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Berkolaborasi dengan lingkungan dan pemerintah

Pelayanan Masjid Baitul Mukhlisin juga diarahkan untuk mendukung kehidupan masyarakat di sekitar masjid. Khoirul menyampaikan, wilayah yang menjadi perhatian mereka mencakup 14 RT.

Dalam pemaparannya, ia menyebut adanya bantuan sebesar Rp11 juta untuk setiap RT. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung kegiatan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Rincian pembagian dana perlu dikonfirmasi kembali kepada narasumber agar tidak terjadi kekeliruan dalam penyebutan peruntukannya.

Pengurus juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, kecamatan, dan kepolisian. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan baik antara masjid dan masyarakat.

Menurut Khoirul, masjid perlu hadir sebagai bagian dari kehidupan lingkungan. Kegiatan yang dijalankan tidak cukup hanya menyasar jamaah internal, tetapi juga perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat sekitar.

Mengelola masjid secara kolektif

Dalam sesi tanya jawab, Khoirul menjelaskan bahwa pengembangan masjid tidak dapat hanya mengandalkan sembilan orang pengurus takmir. Pengurus melibatkan unsur Persyarikatan, mulai dari PDM, PCM, hingga ranting, untuk berdiskusi mengenai arah pengembangan masjid.

Pada masa awal, pertemuan dan diskusi bahkan dilakukan setelah salat Subuh. Pengurus membahas program dan langkah yang perlu dilakukan agar kegiatan masjid terus berkembang.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan pengurus sebelumnya. Perbedaan pendapat, menurutnya, perlu disikapi dengan tenang dan tetap menghormati pihak yang telah berkontribusi dalam membangun masjid.

Selain menjaga kekompakan, pengurus harus memperhatikan kebutuhan operasional. Khoirul menyebut biaya pengelolaan masjid dapat mencapai sekitar Rp80–90 juta setiap bulan, termasuk kebutuhan fasilitas dan tenaga kerja yang disebut berjumlah sekitar 50 orang.

Besarnya kebutuhan tersebut membuat pengelolaan program, pembiayaan, dan sumber daya perlu dilakukan secara terencana.

Melalui program Jumat Berkah, kegiatan keagamaan, pelayanan masyarakat, dan kerja sama dengan lingkungan, Masjid Baitul Mukhlisin berupaya memperkuat perannya sebagai pusat ibadah sekaligus pemberdayaan sosial.

Praktik tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dibagikan dalam sesi Best Practice: CRM Award PP Muhammadiyah agar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengelola masjid lainnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 17/10/2026 22:31
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu