Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo, Drs. Muh. Syafrudin, M.A., mengingatkan pentingnya memadukan semangat dakwah dengan kepatuhan terhadap aturan persyarikatan. Pesan tersebut disampaikan saat menyambut peserta Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) III Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Jumat (16/10/2026).
Syafrudin menyambut kehadiran peserta dari berbagai daerah dan mengapresiasi kepercayaan PWNA Jawa Timur yang memilih Ponorogo sebagai lokasi kegiatan. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat gerakan organisasi dan merumuskan langkah kerja yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, ia mengaitkan gerakan persyarikatan dengan Surah Ali Imran ayat 102–104, khususnya ajakan untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap istilah al-khair dan al-ma’ruf penting dalam menjalankan dakwah. Al-khair merujuk pada kebaikan yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunah, sedangkan al-ma’ruf berkaitan dengan kebaikan yang dikenal dalam kehidupan masyarakat.
“Dalam konteks organisasi, kita juga perlu memahami aturan yang telah disepakati bersama,” ujarnya.
Menurut Syafrudin, semangat berdakwah perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap ketentuan organisasi. Keduanya diperlukan agar kegiatan persyarikatan memiliki arah yang jelas dan dapat dijalankan secara terkoordinasi.
Ia kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan Surah An-Nahl ayat 125 yang memuat perintah untuk menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik.
“Dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik, sebagaimana tuntunan dalam Al-Qur’an,” tuturnya.
Syafrudin juga menyinggung pentingnya ijtihad dan tajdid dalam menghadapi persoalan yang terus berkembang. Menurutnya, gerakan persyarikatan membutuhkan upaya memahami ajaran Islam sekaligus menerapkannya sesuai kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi kader Nasyiatul Aisyiyah yang mengikuti Musykerwil untuk membahas program kerja organisasi. Penyusunan program tidak hanya membutuhkan semangat pengabdian, tetapi juga perencanaan, koordinasi, dan pemahaman terhadap pedoman organisasi.
Kenalkan Sejarah Muhammadiyah di Ponorogo
Selain menyampaikan pesan tentang dakwah dan organisasi, Syafrudin memperkenalkan sejumlah jejak sejarah Muhammadiyah di Ponorogo. Ia menceritakan kunjungan KH Ahmad Dahlan ke sebuah musala yang dahulu dikenal sebagai Langgar Wetan dan kini disebut Musala Nyai Dahlan.
Lokasi musala tersebut, menurut penuturannya, berada sekitar 50 meter di sebelah timur sebuah perempatan dekat Pasar Legi. Kisah itu menjadi bagian dari pengenalan sejarah perkembangan Muhammadiyah di Ponorogo kepada peserta yang datang dari berbagai daerah.
Syafrudin juga menyampaikan bahwa PDM Ponorogo menerima hibah tanah seluas 860 meter persegi dari seorang tokoh Muhammadiyah setempat. Tanah tersebut direncanakan untuk pembangunan kantor PDM Ponorogo yang baru. Saat ini, kantor PDM berada di Jalan Jawa Nomor 38.
Ia turut menjelaskan struktur organisasi Muhammadiyah di Ponorogo yang memiliki 23 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan 227 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM). Di sejumlah wilayah dengan kondisi geografis pegunungan, pembagian cabang mempertimbangkan jarak dan kemudahan koordinasi.
Pengenalan sejarah dan perkembangan organisasi tersebut memberikan gambaran mengenai perjalanan Muhammadiyah di Ponorogo kepada peserta Musykerwil III Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur.
Melalui sambutannya, Syafrudin menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya menjalankan dakwah secara bijaksana, berpedoman pada nilai-nilai Islam, dan tetap memperhatikan aturan persyarikatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments