
PWMU.CO – Khatib Jumat, Taufiqur Rohman menyampaikan hakikat puasa puasa Ramadhan 1446 H pada Jumat (7/3/2025).
Hal ini disampaikan saat khutbah Jumat di masjid An-Nur yang beralamatkan di Jalan Dewata Genteng Kulon Banyuwangi.
Di awal khutbahnya ia mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah Swt. Karena banyak limpahan karunia-Nya, salah satunya dapat menghadiri majelis Jumat ini.
“Semoga ibadah Jumat yang kita lakukan pada siang hari ini menjadi amal shalih bagi kita semua,” ujarnya.
Kemudian khatib yang juga Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng itu berwasiat kepada jamaah untuk selalu meningkatkan kualitas takwa. Dengan cara menjalankan perintah puasa sebaik mungkin.
Selanjutnya ia menjelaskan bahwa kata puasa memiliki arti menahan. Namun menurutnya puasa itu bukanlah sekadar menahan lapar, dahaga, dan yang membatalkan puasa sejak Subuh hingga Maghrib.
“Tapi puasa itu hakikatnya adalah mengendalikan diri,” tandasnya.
Di hadapan jamaah yang terdiri jamaah masjid setempat dan warga Muhammadiyah Ranting Genteng Kulon 1 itu, ia menyampaikan bahwa puasa merupakan sarana self management (pengelolaan diri). Baik itu emosi, ucapan, maupun perbuatan.
Taufiqur Rohman meminta jamaah membayangkan bagaimana saudara-saudara lain yang terdampak musibah banjir saat puasa Ramadhan ini. Tentunya mereka kesulitan makan dan air bersih.
Dengan puasa menahan tidak makan dan minum itu mengajarkan rasa empati terhadap saudara-saudara kita yang terdampak musibah tersebut.
“Maka dari itu Islam mengajarkan kepedulian untuk berbagi rezeki kepada sesama yang kekurangan,” sambutannya.
Di samping itu khatib mengingatkan bahwa target final puasa adalah menjadikan pelakunya sebagai orang-orang yang bertakwa.
Oleh karena itu, ia berpesan kepada jamaah untuk berhati-hati dalam melaksanakan puasa supaya puasanya berhasil dan tidak sia-sia. Sebagaimana hadits nabi Muhammad Saw riwayat al-Khamsah dari sahabat Abu Hurairah Ra.
Di hadits tersebut dijelaskan perintah
untuk menghindari ucapan yang mengandung unsur az-Zur, yakni perkataan dusta dan fitnah.
Pada riwayat lain juga ada larangan ucapan yang lagwu atau sia-sia. Serta perkataan yang mengandung rafast alias jorok.
Kalau ucapan az-zur, lagwu, dan rafast saja dapat merusak puasa dan menggugurkan pahalanya. Apalagi jika saat berpuasa melakukan perbuatan maksiat, tentu akan merusak kualitas puasa.
Mengakhiri khutbahnya Taufiqur Rohman berpesan kepada jamaah agar memperbanyak amal shalih selagi masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan yang mubarak ini. (*)
Penulis Ghulam Bana Islama Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments