Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khotbah Idulfitri 2026: Musibah dan Kepedulian Sosial

Iklan Landscape Smamda
Khotbah Idulfitri 2026: Musibah dan Kepedulian Sosial
Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Prof Dr dr Sukadiono MM (Foto: istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Deputi II Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan, Kemenko PMK

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ وَجَعَلَ هَذَا اْليَوْمَ عِيْدًا مُبَارَكاً باِلسَّلاَمِ اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ اْلعَلاَّمُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ اْلأَنَامِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اِلَي يَوْمِ اْلقِيَامِ اَمَّابَعْدُ فَيَاعِبَادَاللهِ اُوصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِلله الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita semua meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab hanya dengan takwa itulah manusia memiliki arah hidup, kekuatan hati, dan kejernihan akal dalam menghadapi segala keadaan. Baik saat lapang maupun sempit, baik saat senang maupun saat tertimpa musibah.

Pada pagi yang mulia ini, kita berkumpul di hari raya Idulfitri dengan hati penuh syukur. Setelah sebulan lamanya kita dididik oleh Ramadan, hari ini kita bertakbir, bertahmid, dan bersujud syukur kepada Allah. Kita merasakan kegembiraan karena diberi kesempatan menyelesaikan ibadah puasa, menunaikan zakat fitrah, memperbanyak doa, dan memperbaiki diri.

Namun, di tengah kebahagiaan ini, Islam mengajarkan kepada kita agar jangan larut dalam kegembiraan pribadi semata. Idulfitri bukan hanya hari kemenangan spiritual, tetapi juga hari untuk meneguhkan rasa kemanusiaan. Jangan sampai kita merasa telah selesai dengan urusan agama, padahal di sekitar kita masih ada saudara-saudara yang sedang memikul beban hidup yang berat.

Sehingga di pagi yang penuh hikmat ini, mari kita semua senantiasa meningkatkan rasa kepedualian sosial antar sesama dalam kondisi apapun. Tema ini penting karena kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari ujian. Tidak ada rumah tangga tanpa masalah. Tidak ada masyarakat tanpa persoalan. Tidak ada bangsa tanpa cobaan. Hanya bentuk ujian itulah yang berbeda-beda.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menjelaskan bahwa musibah adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan. Ada yang diuji dengan kehilangan pekerjaan. Ada yang diuji dengan sempitnya rezeki. Ada yang diuji dengan sakit yang tidak kunjung sembuh. Ada yang diuji dengan bencana alam. Ada yang diuji dengan hasil usaha yang menurun. Maka yang menjadi ukuran bukan sekadar besar-kecilnya musibah, tetapi bagaimana kita menyikapinya di hadapan Allah.

Sesuai dengan firman Allah SWT:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُون

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Kepedulian Sosial

Dalam merespons kondisi tersebut, maka kita harus senantiasa meninggikan kepedulian sosial kita. Islam tidak mengajarkan kita untuk melihat musibah hanya sebagai urusan pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Islam juga meletakkan tanggung jawab sosial di tengah umat. Bila ada saudara kita terkena musibah, maka kita diperintahkan hadir untuk menolong, bukan sekadar menonton.

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Mā’idah: 2)

Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّٰى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran iman bukan hanya rajin ibadah ritual, tetapi juga hidupnya rasa peduli. Orang yang ingin hidup tenang seharusnya juga memikirkan ketenangan orang lain. Orang yang tidak ingin keluarganya lapar seharusnya juga tergugah ketika melihat tetangganya lapar. Orang yang tidak ingin rumahnya roboh tanpa bantuan seharusnya juga bergerak ketika melihat rumah orang lain rusak diterpa musibah.

Kepedulian sosial adalah Manifestasi Syukur

Di sinilah kita juga perlu memahami bahwa kepedulian sosial adalah buah dari syukur yang benar. Sering kali syukur dipahami hanya sebatas ucapan alhamdulillāh. Padahal syukur yang benar bukan hanya di lisan, tetapi juga tampak dalam hati dan perbuatan.

Orang yang bersyukur kepada Allah akan lebih mudah menyadari bahwa dirinya selama ini hidup karena banyak pertolongan: pertolongan Allah, pertolongan orang tua, pertolongan tetangga, pertolongan guru, pertolongan sahabat, dan pertolongan banyak orang di sekitarnya.

Karena itu, syukur yang sejati tidak membuat seseorang sibuk menikmati nikmat sendirian, tetapi mendorongnya untuk menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.

Dalam kehidupan sosial, Foster (2022) dalam sebuah jurnal ilmiah mendefinisikan gratitude atau rasa syukur sebagai emosi positif yang dihasilkan saat seseorang mendapatkan manfaat dari orang lain dan ia dapat membentuk dan mempertahankan hubungan sosial. Artinya dari definisi ini, rasa syukur dalam kehidupan sosial adalah sebuah emosi positif karena mendapatkan sebuah manfaat dari orang lain.

Selain itu riset menunjukkan bahwa rasa syukur menjadi faktor penting untuk kesehatan mental (seperti rasa bahagia, tenang, dan sejuk) dan kesehatan fisik. Sebagaimana di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

“Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman: 12)

Jadi sebetulnya rasa syukur itu sendiri dalam ayat di atas sebenarnya memberikan manfaat secara personal. Artinya dari sisi kesehatan fisik dan mental, rasa syukur memiliki peran penting. Selain itu, filsuf Cicero kemudian menyebutkan bahwa orang yang bersyukur karena manfaat yang diterima, diharapkan memberi manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan masyarakat luas.

Ma’asyiral muslimin,

Para ahli menjelaskan bahwa rasa syukur memiliki tiga fungsi moral. Pertama, syukur sebagai Barometer Moral. Maksudnya, syukur membuat kita peka bahwa kita telah menerima kebaikan atau manfaat dari orang lain. Kita jadi sadar: “Saya pernah dibantu.” “Saya pernah ditolong.” “Saya pernah diringankan bebannya.” Orang yang tidak peka terhadap manfaat yang ia terima bisa jadi sedang kehilangan rasa syukur. Jadi, ketika kita masih ingat jasa orang tua, bantuan tetangga, atau pertolongan warga saat kita susah, itu tanda bahwa barometer moral kita masih hidup.

Kedua, syukur sebagai motivasi moral. Maksudnya, syukur mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada orang lain. Ketika dulu kita pernah dibantu saat kesulitan, maka rasa syukur itu menumbuhkan dorongan dalam hati: “Kalau suatu saat ada orang lain susah, saya juga harus membantu.” Jadi syukur bukan hanya mengingat kebaikan, tetapi juga menggerakkan tindakan kebaikan.

Ketiga, syukur sebagai penguat moral. Maksudnya, syukur membuat seseorang berkomitmen untuk terus berbuat baik lagi pada masa depan. Jadi syukur bukan hanya respons sesaat, tetapi kekuatan batin yang menjaga seseorang agar tetap menjadi pribadi yang ringan tangan, tahu berterima kasih, dan senang menebarkan manfaat.

Kalau dibahasakan sederhana, orang yang bersyukur itu adalah orang yang ingat kebaikan, tergerak membalas dengan kebaikan, dan ingin terus hidup dalam kebaikan. Rasa syukur seharusnya menjadikan kita lebih ringan bersedekah kepada mereka yang hari ini sedang berada pada posisi yang pernah kita rasakan.

Maka kepedulian sosial sesungguhnya adalah syukur yang bergerak. Syukur yang tidak berhenti di mulut. Syukur yang berubah menjadi empati. Syukur yang menjelma menjadi pertolongan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Adab dalam Membantu Sesama

Ada satu hal yang juga penting: dalam Islam, membantu orang lain harus disertai adab. Jangan sampai kita memberi sambil merendahkan. Jangan sampai menolong sambil menyakitkan. Jangan sampai bersedekah sambil pamer dan mengungkit-ungkit. Jangan sampai membantu hanya diniatkan hanya membuat konten di sosial media agar dirinya popular dan dikenal dermawan.

Allah berfirman:

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan.” (QS. Al-Baqarah: 263)

Maka bila kita membantu korban musibah, bantulah dengan hormat. Bila kita memberi kepada orang miskin, berilah dengan memuliakan. Hindarkan diri kita dari niat flexing atau pamer di sosial media. Bila kita menolong keluarga yang sedang sulit, jangan sampai bantuan kita justru melukai harga diri mereka. Sebab dalam Islam, tujuan filantropi bukan hanya memberi barang, tetapi juga menjaga martabat manusia.

Nabi SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمّٰى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan dengan tidak tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Karena itu, Idulfitri harus melahirkan empat perubahan. Pertama, perubahan iman. Bahwa setiap musibah harus kita hadapi dengan sabar, tawakal, dan husnuzan kepada Allah. Kedua, perubahan hati. Setelah Ramadan, hati kita harus lebih lembut. Jangan mudah menghakimi orang yang sedang tertimpa kesulitan. Ketiga, perubahan syukur. Syukur kita jangan berhenti di lisan, tetapi harus bergerak menjadi empati, kepedulian, dan kemauan menolong.

Keempat, perubahan tata sosial. Masjid harus hidup sebagai pusat kepedulian. Pengajian harus kuat dalam gerakan infak, santunan, dan bantuan darurat. Bila perlu, desa memiliki kas sosial, lumbung pangan, gerakan sedekah rutin, perhatian bagi lansia, anak yatim, keluarga sakit menahun, dan korban musibah. Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah puasa kita sudah membuat kita lebih memahami rasa lapar orang lain? Apakah syukur kita sudah menggerakkan kepedulian? Apakah zakat kita sudah menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial? Apakah takbir kita sudah membuat hati kita lebih peduli?

Maka sepulang dari lapangan salat ini, mari kita bawa pulang semangat untuk saling menguatkan. Bila di sekitar kita ada tetangga yang masih kesulitan makan, bantulah. Bila ada warga yang masih menanggung biaya pengobatan, ringankan. Bila ada rumah yang rusak dan belum sempat diperbaiki, ajak gotong royong. Bila ada anak yatim yang perlu perhatian, jangan tunggu mereka datang meminta. Bila ada lansia yang hidup sendirian, jangan biarkan mereka merasa ditinggalkan.

Mulailah dari yang paling dekat. Dari keluarga.Dari tetangga. Dari jamaah masjid. Dari dusun dan desa kita sendiri. Karena sering kali perubahan besar dalam masyarakat berawal dari kepedulian kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Dan sering kali pertolongan yang paling dibutuhkan oleh orang yang tertimpa musibah bukanlah bantuan besar, tetapi hati yang peduli, tangan yang terulur, dan kehadiran yang menenangkan.

Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu lapang untuk menolong. Jangan menunggu orang lain memulai. Sebab di hadapan Allah, yang dinilai bukan hanya seberapa besar yang kita beri, tetapi seberapa tulus kita memberi dan seberapa hidup rasa syukur kita dalam memuliakan sesama. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menang, bukan hanya karena selesai berpuasa, tetapi karena berhasil menjadi hamba yang lebih bertakwa, lebih bersyukur, dan lebih peduli kepada sesama.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ؛ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ ؛ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّك وَعَدُوِّهِمْ ؛ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلاَمِ ؛ وَأَخْرِجْهُمْ مِنْ الظُّلُمَاتِ إلَى النُّورِ ؛ وَجَنِّبْهُمْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ؛ وَبَارِكْ لَهُمْ فِي أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ مَا أَبْقَيْتهمْ . وَاجْعَلْهُمْ شَاكِرِينَ لِنِعَمِك مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْك ؛ قَابِلِيهَا وَأَتْمِمْهَا عَلَيْهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذََابَ النَّار.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/03/2026 16:50
  • Muhkholidas - 19/03/2026 16:14
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡