Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khotbah Idulfitri 1447 H: Hikmah Tarbiyah Ramadan, Kesabaran Tanpa Batas dan Syukur Tanpa Syarat

Iklan Landscape Smamda
Khotbah Idulfitri 1447 H: Hikmah Tarbiyah Ramadan, Kesabaran Tanpa Batas dan Syukur Tanpa Syarat
Ahmad Mujaddid RA. Foto: Dok/Pri
Oleh : Ahmad Mujaddid RA, SH, M.Pd Wakil Ketua PDPM Kota Surabaya

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا إِلَـى اْلإِيْمَانِ وَ اْلإِسْلاَمِ، وَ اَلْحَمْدُللهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَاْلفِطْرِبَعْدَصِياَمِ رَمَضَانَ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الْهَـادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ – مُحَمَّدٍ – وَ عَلَي آلِهِ وَ صَحْبِهِ الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْـمِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَ الْمُسْلِمَاتُ رَحِمَكُمُ اللهِ، أُوْصِي بِنَفْسِي وَ إِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لِتَـفُوْزُوْا بِالْجَنَّةِ النَّـعِيْمِ، وَ السَّلاَمَةِ مِنَ الْعَذَابِ اْلأَلِيْـمِ. قَالَ اللهُ تَعَالَي فِي كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ: يَاأَيُّهاَالَّذِيْنَءَامَنُوااتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَ الْحَمْدُ لـِلَّهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً. لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَ هَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ.
اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Salat Id rahimakumullah.

Alhamdulillah, alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan pelimpah cahaya-cahaya, pembuka penglihatan, penyingkap rahasia-rahasia, dan penyibak selubung tirai-tirai. Dialah Allah, Yang Maha Awal tanpa permulaan, Yang Maha Akhir tanpa penghujung, dan Yang Maha Abadi tanpa perubahan.

Di pagi yang cerah ini, kita dapat melangkahkan kaki ke tanah lapang ini dengan suasana hati yang bahagia tiada bertepi. Puja dan puji syukur tak habis dipanjatkan kepada Sang Ilahi Rabbi. Hari ini umat Muslim di pelosok negeri merayakan hari kemenangan fitri atas digemblengnya kita dengan berbagai macam ritual Ramadan yang dikhususkan bagi kita yang beriman.

Hari kemenangan yang mengingatkan kepada kita semua tentang kenikmatan yang Allah berikan, bagaikan samudera gelombang di atas gelombang, yang oleh Allah dialirkan ke dalam kehidupan kita. Dan sejatinya, bukan karena bahagia kita harus bersyukur, namun bersyukurlah, maka Allah akan membahagiakan kita.

Seiring dengan waktu, kita semakin paham bahwa yang kita butuhkan bukan lagi kepuasan diri, tetapi kebahagiaan. Seiring dengan waktu, kita semakin paham bahwa yang manusia butuhkan bukanlah kemewahan, tetapi kecukupan. Seiring dengan waktu, kita akan semakin paham bahwa yang kita butuhkan bukanlah harta yang melimpah, tetapi ketika Allah memberikan keberkahan dalam hidup kita.

Dan sesungguhnya, hadirin, tidak akan mencapai kebahagiaan, tidak akan mencapai keberkahan, kecuali mereka yang menjadi hamba-hamba yang bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Inilah konsep iman yang jauh berbeda dengan konsep sekularisme. Inilah konsep iman yang sangat berbeda dengan konsep materialisme. Keduanya tidak akan mampu menjadikan kita sebagai pribadi yang puas dalam kehidupan, karena semuanya hanya ditakar dengan angka, dengan kalkulasi, dengan rugi dan untung dari apa yang kita peroleh dan lakukan.

Maka, syukur mementahkan konsep-konsep semacam itu. Syukur memberikan ketenangan, bukan sekadar kepuasan, dan hanya akan kita dapatkan ketika kita mampu mensyukuri setiap anugerah yang Allah berikan dalam kehidupan kita.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Jamaah Salat Id rahimakumullah.

Selawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada Nabi Muhammad saw, sang penyampai agama Islam dengan risalah rahmatan lil ‘alamin; sang pembebas yang membebaskan umat manusia dari gelap menuju cahaya; cahaya segala cahaya; pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa; kekasih Sang Penguasa Yang Maha Perkasa; pembawa berita gembira dari Yang Maha Pengampun; dan pembuka tabir kepalsuan kaum durhaka.

Demikian pula seorang rasul yang telah memberikan jawaban utama dalam kehidupan kita, sampai akhirnya kita tahu apa yang harus kita lakukan. Sebagai contoh, ketika ada seekor lalat yang hinggap pada gelas kita, kita tahu petunjuknya.

Ketika kita berada di kamar mandi, kita tahu aturannya. Ketika kita berada di tempat-tempat sepi, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Semua itu merupakan bagian dari petunjuk Nabi yang sangat sempurna. Kalaulah Islam bagaikan bangunan yang besar, maka tidak ada satu pun bagian di dalam bangunan itu kecuali semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Inilah sebabnya kita mencintai Rasulullah saw, karena beliau telah membebaskan kita dari blind spot (titik buta) dalam kehidupan. Kita tahu bagaimana jadinya jika kita tidak mengenal Rasulullah.

Apa yang harus kita lakukan di tengah malam? Apa yang harus kita lakukan di waktu pagi? Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan surga? Jika kita tidak mengenal Rasulullah, maka kita tidak akan tahu. Inilah yang menganjurkan kita untuk berselawat kepada Rasulullah saw.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dipantaskan untuk mendapatkan syafaat dari beliau. Siapa pun yang mendapatkan syafaat, yang ganjil dari amalannya, maka akan digenapkan oleh Allah SWT. Siapa pun yang mendapatkan syafaat, apabila ringan dalam timbangan amalnya, maka Allah akan memberatkan timbangannya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Maka, cukuplah Imam Qurtubi mengatakan, “Celakalah bukan hanya bagi orang yang lebih berat timbangan dosanya daripada kebaikannya, tetapi juga celaka bagi orang yang tidak dipantaskan mendapatkan syafaat dari Rasulullah.”

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Jamaah Salat Id rahimakumullah.

• Allah Yang Al-Hakim, Al-‘Alim

Tentu kita semua paham bahwa Allah tidak hanya mensifati diri-Nya sebagai Ar-Razzaq, Allah Yang Maha Memberi Rezeki, dan tidak hanya mensifati diri-Nya sebagai Ar-Rahman, Allah Yang Maha Penyayang. Namun salah satu nama yang harus kita pahami adalah bahwa Allah juga mensifati diri-Nya sebagai Al-Hakim, Allah Yang Maha Bijaksana. Sifat kebijaksanaan-Nya bertemu dengan sifat Al-‘Alim, Allah Yang Maha Mengetahui.

Ketika kita memahami bahwa Tuhan yang kita sembah dalam salat, dalam rukuk dan sujud kita, memiliki sifat Al-Hakim yang sempurna, maka kita akan paham bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia kecuali semuanya mengandung mutiara hikmah dan pelajaran yang Allah berikan kepada kita. Maka tidak ada istilah takdir pahit dan manis dalam kehidupan, karena semua peristiwa datang dari Zat (Allah SWT) Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Analogi sederhana, bukankah semakin seseorang cerdas, semakin tinggi ilmunya, maka setiap kata yang disampaikannya memiliki makna? Maka mustahil bagi Allah SWT Yang Maha Bijaksana menggulirkan setiap peristiwa dalam kehidupan manusia tanpa makna, tanpa hikmah, dan tanpa pelajaran.

Imam Ibnu Qayyim mengomentari hal ini dalam kitabnya Syifa’ul ‘Alil fi Masa’il al-Qadha’ wa al-Qadar: tidak ada kejadian, bahkan hingga daun yang jatuh, kecuali dengan ilmu Allah dan terjadi dengan hikmah. Hanya saja, mungkin karena keterbatasan dan kebodohan kita, kita tidak mampu menjangkaunya.

Maka Allah SWT menyatakan bahwa semakin seseorang memahami keimanannya, semakin ia mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap peristiwa yang Allah berikan dalam kehidupannya.

Sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam QS. Al-Baqarah ayat 26:

۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسۡتَحۡـيٖٓ اَنۡ يَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَةً فَمَا فَوۡقَهَا ۚ فَاَمَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا فَيَعۡلَمُوۡنَ اَنَّهُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّهِمۡۚ وَاَمَّا الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا فَيَقُوۡلُوۡنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيۡرًا وَّيَهۡدِيۡ بِهٖ كَثِيۡرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الۡفٰسِقِيۡنَ

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka. Tetapi mereka yang kafir berkata, ‘Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik.”

Di sinilah kita mengerti bahwa dalam kultur keimanan, kita tidak berhenti pada perintah salat, rukuk, sujud, tawaf, atau ritual keagamaan lainnya. Namun, kita juga dituntut untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan syariat yang disampaikan oleh Allah SWT.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡