Jamaah Salat Id rahimakumullah.
• Ramadan: Syahrul man qablana (bulan yang telah ada sejak umat sebelum Rasulullah).
Ramadan adalah bulan yang penuh makna yang harus kita temukan sebagai orang beriman kepada Allah, Zat Yang Maha Hakim. Ini menjadi sebuah tuntutan bagi kita. Ritual-ritual Ramadan—puasa, tadarus, tarawih, qiyamul lail, zakat, sedekah, infak, dan lain sebagainya—tidak berhenti pada aspek apa dan bagaimana (fikih). Bukan hanya persoalan hukum, bagaimana kita menahan lapar dan dahaga, atau hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, lebih dalam daripada itu.
Maka kesempatan khotbah ini mendorong kami untuk menyampaikan sisi lain atau kurikulum Ramadan yang Allah berikan kepada kita. Allah mensyariatkan puasa 29 atau 30 hari bukan hanya kepada kita, tetapi juga kepada umat sebelum kita, untuk memberi makna bahwa Ramadan tidak bisa dipahami dari sudut pandang fikih semata.
Maka, mari kita pahami bagaimana para ulama menjabarkan makna dan hikmah Ramadan agar dapat kita aplikasikan dalam kehidupan. Bukan hanya sukses secara fikih, tetapi juga mampu mengambil pelajaran sehingga menjadi panduan hidup selama 11 bulan ke depan.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Jamaah Salat Id rahimakumullah.
Tiga Makna dan Hikmah Ramadan sebagai Kurikulum Kehidupan:
1. Kerendahan hati sebagai jalan ampunan Allah
Sebagaimana nama “Ramadan” yang berasal dari kata ramadha yang berarti panas yang membakar. Hal ini melambangkan bahwa Ramadan membakar dosa-dosa manusia melalui amal saleh.
Tidak ada waktu di mana Allah begitu banyak mengampuni dosa hamba-Nya seperti di bulan Ramadan. Allah adalah Al-Ghafur dan Al-‘Afwu, namun sifat pengampunan-Nya begitu terasa di bulan ini. Inilah prime time ampunan, pembebasan dari dosa, dan penyelamatan dari api neraka.
Maka tujuan utama Ramadan bukanlah berapa kali kita mengkhatamkan Al-Qur’an, di mana kita beriktikaf, atau berapa rakaat tarawih kita, tetapi apakah kita mendapatkan ampunan Allah SWT.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Celakalah seseorang yang memasuki Ramadan, lalu Ramadan berlalu sebelum ia diampuni.”
Doa yang diajarkan kepada Aisyah ra.:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Namun sayangnya, ada yang rajin ibadah tetapi tidak mendapatkan ampunan karena hatinya dipenuhi kesombongan. Padahal ampunan Allah diibaratkan seperti air yang mengalir ke tempat rendah, bukan ke tempat yang tinggi.
Sebaliknya, bisa jadi orang yang sederhana ibadahnya tetapi hatinya rendah dan penuh penyesalan justru lebih dekat kepada ampunan Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 222:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيۡنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيۡنَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.”
Inilah pelajaran pertama: Ramadan mengajarkan kerendahan hati.
2. Kesabaran sebagai jalan menuju kemanisan hidup
Ramadan melatih jiwa untuk sabar. Dari hal-hal yang mubah seperti makan dan minum, tiba-tiba kita tinggalkan demi ketaatan.
Setidaknya ada tiga alasan Allah memberi ujian:
Pertama, menguji keimanan (QS. Al-Ankabut: 2):
“Apakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata ‘kami beriman’ tanpa diuji?”
Kedua, sebagai teguran atas kesalahan (QS. Ar-Rum: 41).
Ketiga, sebagai bentuk kasih sayang dan peningkatan derajat (QS. Al-Baqarah: 153):
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Semakin besar hadiah, semakin besar ujiannya. Sebagaimana kehidupan, tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan.
Ramadan mengajarkan bahwa kenikmatan sejati lahir dari kesabaran. Segelas es teh saat berbuka terasa luar biasa karena kita sabar menahan dahaga seharian.
Sebagaimana Ali bin Abi Thalib berkata:
الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ كَالرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ
“Kesabaran bagi iman seperti kepala bagi tubuh.”
3. Syukur sebagai kunci kenikmatan hidup
Ramadan mengajarkan kita untuk bersyukur. Saat berbuka, kita fokus pada apa yang ada, bukan membandingkan dengan orang lain.
Kualitas hidup ditentukan oleh rasa syukur. Hidup terasa nikmat bukan karena banyaknya harta, tetapi karena hati yang bersyukur.
Masalah utama manusia bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada hilangnya rasa syukur, digantikan oleh sifat istaghna (merasa cukup tanpa Allah), yang berujung pada keserakahan.
Sebagaimana firman Allah:
QS. Al-‘Alaq ayat 7:
أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
QS. ‘Abasa ayat 5:
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ
Sebagai contoh, orang yang korupsi bukanlah seseorang yang berpenghasilan kecil. Penghasilan mereka sebagian besar bisa mencapai dua atau tiga digit per bulan. Namun, ketidakpuasan dan keserakahanlah yang menjadikan mereka menghalalkan segala cara.
Berbeda dengan seorang yang beriman dan mampu mensyukuri nikmat Allah. Sekalipun sarapan pagi dengan lauk sederhana—seperti sayur asem, ikan asin klotok, dan nasi panas—ia mampu menikmatinya dengan lahap, sehingga menjadi sumber kekuatan bagi tubuh dan fisiknya. Ia tidak perlu iri dengan orang-orang yang makan di restoran atau rumah makan ternama dengan harga ratusan ribu.
Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tidak menghabiskan makanannya, atau justru berujung pada konsumsi obat-obatan karena ada makanan yang seharusnya tidak boleh mereka konsumsi.
Konsep syukur memang tidak menjanjikan kuantitas fasilitas hidup kita, tetapi menjamin kualitas hidup bagi orang-orang yang bersyukur. QS. Ibrahim ayat 7 menyatakan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
Banyak saudara kita yang hanya memiliki sepeda motor, namun ia bersyukur. Apakah ada jaminan ia akan bisa membeli mobil? Banyak pula yang memiliki mobil dan bersyukur. Apakah ada jaminan ia akan bisa membeli jet pribadi?
Jawabannya, tidak ada jaminan. Bisa jadi sepanjang hidupnya ia hanya memiliki motor atau mobil. Namun, “cita rasa” motor tersebut bisa jadi lebih membahagiakan daripada mobil, dan “cita rasa” mobil tersebut bisa jadi lebih menenangkan dibandingkan jet pribadi—terutama ketika sebagian orang justru hidup dalam tekanan utang dan dikejar debt collector.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Jamaah Salat Id rahimakumullah.
Ibnu Qudamah pernah menyebutkan dua indikator seseorang diterima syukurnya oleh Allah SWT:
- Disederhanakan cara pandangnya terhadap nikmat duniawi.
- Dicukupkan setiap kebutuhannya.
Bukankah yang sering menyiksa kita adalah cara pandang yang bias terhadap nikmat dunia? Ketika sudah memiliki satu motor, karena melihat orang lain membeli lagi, kita pun ingin menambah.
Sudah memiliki dua motor, lalu melihat rekan kerja membawa mobil, kita pun ingin membeli mobil. Sudah memiliki kendaraan, lalu ingin rumah. Sudah punya rumah di pinggiran kota, ingin pindah ke tengah kota. Begitu seterusnya tanpa ujung.
Allah menjanjikan bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Para mufasir menjelaskan bahwa tambahan nikmat tersebut bukan semata-mata penambahan materi, tetapi rasa cukup dalam kehidupan. Sehingga orang yang pandai bersyukur tidak lagi merasa kurang.
Hingga akhirnya ia mampu mengucapkan firman Allah dalam QS. Adh-Dhuha ayat 5:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Orientasi mereka adalah kedekatan kepada Allah, Rabb Yang Maha Kaya, Maha Memelihara, dan Maha Mencukupi. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Adh-Dhuha ayat 4:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Sesungguhnya kehidupan akhirat lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia.”
Sebagaimana saat kita berbuka puasa, berapa suapan yang benar-benar terasa nikmat di mulut kita? Mungkin hanya tiga sampai lima suapan pertama yang benar-benar terasa nikmat. Inilah pelajaran bahwa kenikmatan duniawi itu terbatas.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Wallahu a’lam bish-shawab.
Di akhir khutbah ini, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjadi hamba-hamba yang selalu rendah hati, mampu meluaskan kesabaran dalam hati, serta cerdas dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT.
Doa Penutup Khotbah
أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِ يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ و ءالهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ آمين يَا مُجِيْبَ السَـائِلِيْن اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، للهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ اَللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا اَللَّهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ اللَّهُمَّ اكْشِفْ عَنَّا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا مَالَا يَكْشِفُ غَيْرُكَ ٣×، اللَّهُمَّ اكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ وَالْوَبَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَفِتْنَةِ الدُّنْيَا مَالَا يَكْشِفُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَ الْوَبَاءَ وَالْفَخْشَاءَ وَ الْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدَنِاَ هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَنِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوالحمد لله رب العالمي





0 Tanggapan
Empty Comments