Menjadi khairu ummah atau umat terbaik tidak cukup hanya dengan menyandang identitas sebagai Muslim. Ada tanggung jawab besar di balik predikat tersebut: menghadirkan kebaikan melalui iman, amal, kedisiplinan, dan kepedulian kepada sesama.
Pesan itu disampaikan Ustaz Ainur Rofiq Shopiaan, mubaligh Muhammadiyah, dalam khotbah Jumat di Masjid Al-Badar, Kertomenanggal, Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Dia mengajak jamaah menjadikan disiplin sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Menurutnya, disiplin bukan sekadar persoalan datang tepat waktu atau menaati aturan. Lebih jauh, disiplin merupakan kemampuan untuk mengendalikan diri, menjalankan kewajiban, dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak selalu ada orang yang mengawasi.
“Disiplin itu dimulai dari diri sendiri,” pesan Ustaz Ainur dalam khotbahnya.
Ustaz Ainur mengingatkan jamaah pada firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 110:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Ayat ini, menurut dia, menunjukkan bahwa predikat khairu ummah bukanlah kebanggaan tanpa konsekuensi.
“Ada tiga karakter utama yang disebutkan dalam ayat tersebut: mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Ketiganya membutuhkan disiplin,” terang wakil ketua Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) PWM Jatim ini.
Mengajak orang lain kepada kebaikan, misalnya, tidak mungkin dilakukan jika seseorang sendiri tidak terbiasa melakukan kebaikan.
Demikian pula mencegah kemungkaran membutuhkan keberanian dan konsistensi. Sementara iman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Kalau ingin menjadi umat terbaik, maka harus dimulai dari pribadi-pribadi yang baik dan disiplin,” tutur Ustaz Ainur
Tidak Ada Keberhasilan Tanpa Disiplin
Untuk menjelaskan pentingnya disiplin, Ustaz Ainur juga mengutip gagasan Daniel Walter dalam buku The Power of Discipline: How to Use Self Control and Mental Toughness to Achieve Your Goals.
Walter menjelaskan, disiplin diri bukan sesuatu yang hanya dimiliki orang-orang tertentu sejak lahir. Disiplin merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih. Buku tersebut juga menekankan pentingnya kebiasaan, konsistensi, dan kemampuan bertahan ketika motivasi mulai menurun.
Karena itu, keberhasilan seseorang tidak cukup ditentukan oleh kecerdasan atau bakat. Seseorang bisa memiliki kemampuan tinggi. Bisa memiliki pendidikan yang baik. Bisa pula memiliki cita-cita besar.
Namun tanpa disiplin, semua potensi itu mudah berhenti sebagai rencana.
“Tidak ada orang sukses tanpa disiplin,” tegas Ustaz Ainur.
Dia kemudian mengajak jamaah melihat persoalan disiplin dalam konteks yang lebih luas.
Menurut dia, jika disiplin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh bangsa dan negara.
Ustaz Ainur juga menyinggung sejumlah pemeringkatan internasional mengenai kedisiplinan yang menunjukkan bahwa negara-negara Muslim belum menempati posisi teratas. Indonesia pun masih menghadapi persoalan kedisiplinan dalam berbagai bidang kehidupan.
Lalu bagaimana membangun disiplin?
Ustaz Ainur menawarkan tiga langkah sederhana. Pertama, membangun kebiasaan baik. Disiplin lahir dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan berulang kali. Bangun tepat waktu.
“Disiplin lahir dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus. Menunaikan salat tepat waktu,” papar dia.
Al-Qur’an bahkan berkali-kali mengingatkan manusia tentang waktu. Wal-‘ashr—demi masa. Wal-fajr—demi waktu fajar. Wal-lail—demi malam.
Waktu begitu penting hingga Allah bersumpah dengannya. Sebab waktu yang telah berlalu tidak pernah kembali.
Kedua, membangun mentalitas. Disiplin membutuhkan kemauan untuk melakukan sesuatu yang benar, bahkan ketika tidak sedang ingin melakukannya.
Ada kalanya seseorang malas bangun. Ada kalanya ingin menunda pekerjaan. Ada kalanya lebih tertarik bersantai daripada menyelesaikan kewajiban.
Ketiga, konsisten atau istikamah. Kebaikan yang dilakukan sekali belum menjadi karakter. Seseorang disebut disiplin ketika mampu menjaga kebiasaan baik secara terus-menerus.
“Karena itu, istikamah menjadi bagian penting dalam membangun disiplin,” cetus jurnalis senior tersebut.
Tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar. Yang lebih penting adalah memulai dari sesuatu yang kecil, kemudian menjaganya agar terus dilakukan.
Ustaz Ainur mengajak jamaah tidak menunggu orang lain berubah lebih dahulu.
“Perubahan umat dimulai dari perubahan pribadi. Jika ingin masyarakat tertib, mulailah dari diri sendiri,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments