Hujan yang mengguyur Kota Shenzhen tidak menyurutkan semangat rombongan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam melanjutkan agenda kunjungan pendidikan ke Tiongkok. Salah satu destinasi utama adalah Huaqiang Vocational and Technical School, sekolah kejuruan unggulan di kota tersebut.
Kunjungan diawali dengan penyambutan unik berupa pertunjukan robot hasil karya siswa. Robot tersebut memiliki spesialisasi dalam pengantaran barang, serupa dengan teknologi yang ditampilkan dalam Canton Fair, namun menariknya dikembangkan langsung oleh para siswa. Selain itu, rombongan juga disuguhkan atraksi aerial drone yang menunjukkan kemampuan teknologi siswa di bidang otomatisasi.
Dalam sesi diskusi, rombongan PWM Jatim disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Ren Zhihao, bersama jajaran guru lainnya. Ia menjelaskan bahwa sekolah yang berdiri sejak 1986 ini memiliki lokasi strategis di pusat Kota Shenzhen.
SMK Huaqiang memiliki fokus utama pada pengembangan teknologi, khususnya di bidang IT, Artificial Intelligence (AI), dan animasi. Secara keseluruhan, terdapat 17 program keahlian yang seluruhnya terintegrasi dengan teknologi digital.
Dengan slogan “Membalas Harapan dengan Keunggulan, Memberi Penghormatan kepada Zaman dengan Kerja Nyata”, sekolah ini memiliki dua tujuan utama: mendorong siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi serta memastikan mereka memiliki kompetensi kerja yang kuat.
Hasilnya, sekitar 90% lulusan berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri, menjadikan sekolah ini sebagai salah satu favorit di Shenzhen.
Dalam sesi tanya jawab, Muhammad Arif Luqman Hakim, Kepala SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, menanyakan keterlibatan dunia industri dalam proses pembelajaran.
Menanggapi hal tersebut, Ren Zhihao menjelaskan bahwa industri berperan dengan mengirim tenaga ahli untuk memberikan pelajaran teknis spesifik. Sementara itu, siswa juga melakukan kunjungan industri saat uji kompetensi berlangsung.
Salah satu hal menarik dari sistem pendidikan di Tiongkok adalah integrasi kurikulum SMK dengan perguruan tinggi. Beberapa mata pelajaran diakui oleh universitas, sehingga lulusan SMK dapat menyelesaikan pendidikan tinggi hanya dalam waktu sekitar dua tahun.
Kebijakan ini diambil untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri yang berkembang pesat di Tiongkok.
Menanggapi hal tersebut, Luqman menyebut Indonesia memiliki program serupa, yakni fast track, namun implementasinya belum optimal karena belum semua perguruan tinggi mengakui pembelajaran dari SMK.
Di akhir sesi, Tamhid, Wakil Ketua PWM Jawa Timur sekaligus ketua rombongan, menyampaikan kekagumannya terhadap pesatnya perkembangan Tiongkok.
“Melihat perkembangan di Tiongkok, ke depan kita perlu mulai pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia juga berharap terjalin kerja sama antara sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur, seperti SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, dan SMA Muhammadiyah 1 Taman, dengan SMK Huaqiang Shenzhen.
Menanggapi hal tersebut, Ren Zhihao menyatakan keterbukaan pihaknya untuk menjalin kerja sama di masa mendatang.







0 Tanggapan
Empty Comments