Ada orang yang sebenarnya benar, tetapi cara menyampaikannya membuat orang lain enggan mendengar.
Ada pula orang yang kata-katanya sederhana, bahkan tidak terdengar menggurui, tetapi justru membuat hati yang semula keras perlahan terbuka. Di situlah letak kekuatan lemah lembut.
Seorang ayah, misalnya, sedang menghadapi anaknya yang pulang terlambat. Ia bisa saja menyambut dengan suara tinggi.
“Dari mana saja kamu? Sudah berapa kali Ayah bilang jangan pulang malam!”
Mungkin anak itu akhirnya diam. Tetapi diam tidak selalu berarti mengerti. Bisa jadi ia hanya sedang menutup pintu hatinya.
Kalimat yang sama dapat disampaikan dengan cara berbeda.
“Ayah khawatir menunggumu. Kalau ada apa-apa di jalan, siapa yang paling cemas?”
Tidak ada bentakan. Tidak ada kata-kata kasar. Namun, justru karena itulah pesan bisa lebih jauh masuk ke dalam hati.
Lemah lembut bukan berarti membiarkan kesalahan. Bukan pula kehilangan ketegasan. Lemah lembut adalah kemampuan menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan manusia yang sedang kita hadapi.
Al-Qur’an memberi perhatian besar pada sikap ini. Ketika kelembutan menjadi kunci dakwah
Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw: “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS Ali Imran: 159)
Ayat ini menarik. Nabi Muhammad SAW membawa kebenaran, tetapi kebenaran itu tidak disampaikan dengan kekasaran.
Bahkan kepada orang-orang yang melakukan kesalahan, kelembutan tetap menjadi bagian penting dari dakwah.
Sebab manusia bukan hanya membutuhkan kalimat yang benar. Ia juga membutuhkan cara yang membuat kebenaran itu dapat diterima.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk membuktikan bahwa pendapat kita benar, sampai lupa bahwa orang lain juga memiliki hati. Bahkan kepada Fir’aun pun diperintahkan berkata lembut
Lebih menakjubkan lagi, kelembutan diperintahkan ketika Nabi Musa dan Nabi Harun menghadapi Fir’aun.
Allah berfirman: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS Thaha: 44)
Fir’aun bukan orang yang biasa-biasa saja. Ia adalah penguasa yang mengaku memiliki kedudukan tertinggi dan menindas Bani Israil.
Namun, Musa dan Harun tetap diperintahkan menggunakan kata-kata yang lembut.
Kalau kepada Fir’aun saja ada perintah untuk berkata lembut, bagaimana dengan pasangan kita? Anak-anak kita? Tetangga kita? Teman kerja kita? Saudara kita? Atau seseorang yang sekadar berbeda pendapat dengan kita?
Barangkali di sinilah kita perlu belajar menahan lidah.
Tidak semua kesalahan harus dijawab dengan suara keras. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan kalimat yang menusuk. Kata-kata bisa menjadi jembatan, bisa pula menjadi tembok
Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS Al-Isra: 53)
Perhatikan satu kata: lebih baik. Bukan sekadar benar. Tetapi lebih baik. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan antara dua kalimat kadang hanya beberapa kata.
“Kamu memang tidak pernah bisa dipercaya.”
berbeda dengan: “Saya kecewa karena kali ini kepercayaan saya tidak terjaga.”
Yang pertama menyerang pribadi. Yang kedua menyampaikan persoalan.
Keduanya mungkin lahir dari kekecewaan yang sama. Tetapi dampaknya bisa sangat berbeda.
Karena itu, sebelum sebuah kalimat keluar dari mulut, ada baiknya kita bertanya: apakah kalimat ini benar-benar perlu diucapkan? Jika perlu, apakah ada cara yang lebih baik untuk mengatakannya?
Sebab satu kalimat bisa selesai dalam lima detik, tetapi bekasnya mungkin tinggal bertahun-tahun. Membalas keburukan dengan cara yang lebih baik
Allah juga berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34)
Dalam kehidupan, kita tidak selalu bisa memilih bagaimana orang memperlakukan kita. Ada orang yang berbicara kasar. Ada yang salah memahami. Ada yang menuduh. Ada yang mungkin sengaja menyakiti. Tetapi kita masih memiliki pilihan atas cara kita merespons.
Seorang pedagang yang dimarahi pembeli tidak harus membalas dengan kemarahan. Seorang guru yang diprotes orangtua murid tidak harus membalas dengan merendahkan. Seorang pemimpin yang dikritik tidak harus menjadikan kekuasaannya sebagai alat untuk membalas.
Menahan diri bukan berarti kalah. Kadang justru orang yang mampu membalas, tetapi memilih tidak membalas dengan keburukan, sedang menunjukkan kekuatan yang lebih besar.
Rendah hati ketika berhadapan dengan orang yang kasar
Allah menggambarkan hamba-hamba Ar-Rahman: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS Al-Furqan: 63)
Menarik bahwa Al-Qur’an tidak mengatakan orang-orang itu tidak pernah berhadapan dengan orang jahil. Mereka tetap berhadapan dengan orang yang kasar. Tetapi mereka tidak ikut menjadi kasar.
Inilah ujian kelembutan. Mudah bersikap baik kepada orang yang baik kepada kita. Yang sulit adalah tetap menjaga adab ketika berhadapan dengan orang yang membuat emosi kita naik.
Di sebuah ruang kerja, misalnya, seseorang menerima kritik tajam dari rekannya. Ia sebenarnya memiliki banyak alasan untuk membalas. Ia tahu kelemahan orang yang mengkritiknya. Ia juga tahu kalimat apa yang paling mungkin membuat lawannya tersinggung.
Namun, ia memilih diam sejenak. Bukan karena tidak mampu menjawab. Ia hanya tidak ingin satu persoalan pekerjaan berubah menjadi permusuhan pribadi.
Barangkali, di situlah kelembutan bekerja: bukan menghilangkan kekuatan, tetapi mengendalikan kekuatan agar tidak menjadi keburukan.
Kelembutan adalah kekuatan yang terkendali Orang sering mengira bahwa yang kuat adalah mereka yang paling keras suaranya. Padahal, membentak ketika marah itu mudah. Membalas hinaan dengan hinaan juga mudah.
Yang lebih sulit adalah tetap menjaga lisan ketika kita mempunyai kesempatan untuk menyakiti. Kelembutan membutuhkan pengendalian diri. Ia bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang tahu kapan harus berhenti.
Ada saatnya kita harus tegas. Ada waktunya kita harus mengatakan tidak. Ada kesalahan yang memang harus dikoreksi. Tetapi ketegasan tidak harus berubah menjadi kekasaran.
Kita dapat tegas tanpa merendahkan. Kita dapat mengoreksi tanpa mempermalukan. Kita dapat berbeda pendapat tanpa membenci. Dan kita dapat mempertahankan prinsip tanpa kehilangan kelembutan.
Sebab tidak semua hati yang keras perlu dihantam. Sebagian justru perlu disentuh dengan cara yang lembut.
Mungkin karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kelembutan tidaklah berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali membuatnya menjadi buruk.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya mengingat apa yang pernah kita katakan kepada orang lain. Mereka juga akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat kita.
Apakah mereka merasa dihargai? Apakah mereka merasa aman untuk berbicara? Apakah setelah bertemu kita, hati mereka menjadi lebih lapang atau justru semakin sempit?
Kita mungkin tidak mampu membuat semua orang menyukai kita. Tetapi kita selalu bisa berusaha agar kehadiran kita tidak menjadi sumber luka bagi orang lain.
Lemah lembut bukan berarti lemah. Ia adalah kekuatan yang memilih kata ketika bisa membentak, memilih memaafkan ketika bisa membalas, dan memilih merendah ketika sebenarnya mampu meninggikan diri.
Barangkali dunia tidak selalu membutuhkan suara yang lebih keras. Barangkali dunia justru sedang menunggu lebih banyak manusia yang mampu menyampaikan kebenaran dengan hati yang tetap lembut. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments