Menjadi seorang suami bukan sekadar soal mencari nafkah, tetapi juga memikul amanah besar, yakni menjaga keselamatan istri dan keluarga, bukan hanya di dunia melainkan hingga kehidupan akhirat.
Tugas mulia sekaligus berat ini menjadi kunci terbangunnya rumah tangga yang harmonis, sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. Sholihin Fanani.
“Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Tanggung jawab terpentingnya adalah menyelamatkan istri dan keluarga dari siksa api neraka, sebagaimana firman Allah: quu anfusakum wa ahlikum nara, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka,” ujar Sholihin seperti dikutip dari kanal Youtube PWMU.TV
Kiai Sholihin memaparkan, setidaknya ada lima tugas utama yang harus dijalankan seorang suami:
Pertama, menyelamatkan keluarga dari siksa api neraka. Suami bertanggung jawab menjaga keluarganya agar selamat di dunia dan akhirat, tidak hanya dari segi lahiriah tetapi juga spiritual.
Kedua, mendidik istri dengan penuh kelembutan. Kiai Sholihin menekankan pentingnya pendekatan yang baik dalam mendidik istri.
“Rasulullah bersabda, ingatkanlah istrimu karena dia berasal dari tulang rusukmu. Ingatkan dengan baik, jangan dengan kasar. Masalah tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan, hasilnya justru kekerasan,” tegasnya.
Ketiga, memberi nafkah lahir dan batin. Nafkah yang layak, kata Sholihin, menjadi kunci keharmonisan rumah tangga.
“Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat, suami dituntut bekerja keras agar mampu memenuhi kebutuhan keluarga,” tandasnya.
Keempat, mengajak istri dekat kepada Allah dan menjaga silaturahmi. Suami juga harus menjadi teladan dalam mendekatkan keluarga kepada Allah, serta mendorong istri untuk menjaga hubungan baik dengan orang tua, tetangga, dan saudara.
Kelima, mendidik istri untuk berinfak dan berderma. Kiai Sholihin mengingatkan agar suami menanamkan nilai kepedulian sosial kepada istri.
“Dengan membiasakan infak dan derma, rumah tangga akan lebih berkah dan penuh rahmat,” ujar Kiai Sholihin.
Menurut dia, kelima tanggung jawab tersebut bila dijalankan dengan baik akan mengantarkan rumah tangga menuju kondisi sakinah, mawaddah, wa rahmah.
“Insya Allah, jika suami mampu menjalankan tugas-tugas ini, ia akan menjadi teladan yang dihormati oleh keluarganya dan disegani di lingkungannya,” katanya..
Pada akhirnya, imbuh Kiai Sholihin, suami yang bertanggung jawab tidak hanya meninggalkan warisan materi, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan, akhlak mulia, dan keluarga yang istikamah di jalan Allah.
“Itulah investasi terbesar yang akan terus mengalir pahalanya, bahkan setelah ia tiada,” tutupnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments