Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai upaya membuka kembali Selat Hormuz melalui kekuatan militer sebagai langkah yang tidak realistis. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungannya ke Seoul pada Kamis (2/4/2026).
Macron menjelaskan bahwa operasi militer berpotensi berlangsung tanpa batas waktu dan membuka risiko serangan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran, termasuk ancaman rudal balistik. Karena itu, ia menegaskan bahwa pendekatan militer bukan pilihan yang diambil Prancis.
Ia menekankan pentingnya menjaga jalur strategis tersebut tetap terbuka, mengingat perannya bagi distribusi energi, pupuk, dan perdagangan global. Namun, menurutnya, solusi hanya bisa dicapai melalui dialog dan kerja sama dengan Iran.
Macron juga mengusulkan langkah awal berupa gencatan senjata yang dilanjutkan dengan perundingan kembali. Ia turut mendorong pembentukan misi keamanan internasional guna memastikan kapal dagang tidak menjadi sasaran serangan.
“Dunia tidak bisa berada dalam situasi di mana Iran dapat sewaktu-waktu menutup atau membuka selat itu,” ujarnya.
Ketegangan di Timur Tengah telah mengganggu aktivitas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas alam cair dunia. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya siap mengambil langkah keras terhadap Iran hingga selat tersebut kembali dibuka.
Macron turut menyoroti bahwa pendekatan militer tidak akan mampu menghentikan pengembangan nuklir secara permanen. Ia mendorong kehadiran tim inspektur internasional untuk memverifikasi langsung fasilitas nuklir Iran.
Menurutnya, tanpa kerangka negosiasi yang jelas, baik secara diplomatik maupun teknis, situasi berisiko kembali memanas dalam waktu singkat. Ia pun menyindir klaim sebelumnya dari pihak AS yang menyebut kemampuan nuklir Iran telah sepenuhnya dilumpuhkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments