Jauh dari tanah air bukan berarti luput dari perhatian. Itulah semangat yang diusung mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya saat menggelar kegiatan pengabdian masyarakat internasional bertajuk “Enhancing Mental Health and Reducing Burnout among Indonesian Migrant Workers in Malaysia“, yang berlangsung di kediaman Bapak Munip, Jalan Klang Lama Batu 5, Kuala Lumpur, Ahad (5/4/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 20 Pekerja Migran Indonesia (PMI) ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad satu dekade Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Momentum 10 tahun FK UMSURA ini ditandai dengan langkah nyata melampaui batas negeri menegaskan bahwa kepedulian terhadap kesehatan komunitas, termasuk tenaga migran Indonesia di luar negeri, adalah bagian tak terpisahkan dari semangat pengabdian fakultas.
Kegiatan ini juga merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus wujud kepedulian institusi pendidikan terhadap nasib PMI yang kerap menghadapi tekanan psikologis berat selama bekerja di luar negeri. Beban kerja yang berat, jarak dari keluarga, hambatan bahasa, hingga minimnya akses layanan kesehatan mental menjadi latar belakang dipilihnya tema ini.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Kepala Program Studi MARS FK UM Surabaya, Prof. Dr. Pipit Festi Wiliyanarti, SKM., M.Kes, yang menegaskan pentingnya keberpihakan akademisi terhadap kelompok rentan.
“Pekerja migran kita adalah pahlawan devisa, tetapi kesehatan jiwa mereka sering kali terabaikan. Inilah tanggung jawab kita sebagai akademisi, hadir bukan hanya di ruang kuliah, tetapi juga di lapangan,” ujarnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Khozin, Ketua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, yang mengapresiasi inisiatif ini sebagai bentuk nyata sinergi antara gerakan Muhammadiyah dan institusi pendidikan dalam melindungi warga Indonesia di perantauan.
Materi utama disampaikan oleh dr. Ratih Rakhmawati, yang membawakan edukasi mengenai konsep dasar kesehatan mental, tanda-tanda burnout, manajemen stres, hingga strategi koping yang dapat dipraktikkan oleh PMI dalam mengatasi stres akibat tekanan pekerjaan.
Para peserta berdiskusi mengenai cara memahami dan mengatasi burnout: kelelahan fisik dan mental akibat tekanan kerja berkepanjangan yang tidak harus ditanggung sendiri.
“Banyak dari kita menganggap mudah lelah, sulit tidur, atau emosi yang tidak stabil sebagai hal biasa. Padahal itu adalah sinyal yang perlu direspons, bukan diabaikan,” ungkap dr. Ratih di hadapan para peserta.
Dalam sesi berikutnya, Dr. Era Catur, Sp.KJ menyampaikan materi mengenai cara mengatasi stres dan kelelahan (burnout) yang kerap dirasakan oleh PMI. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung antusias, terungkap bahwa banyak gejala fisik yang sebenarnya bersumber dari stres dan kelelahan yang selama ini dibiarkan, salah satunya karena keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan yang terjangkau di negeri perantauan.
Tak hanya edukasi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan fisik dan jiwa, meliputi pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol, serta skrining kesehatan jiwa menggunakan instrumen SRQ-20. Pemeriksaan fisik didampingi langsung oleh Dr. dr. Rachmad Cahyadi, M.Kes, yang memastikan setiap peserta mendapatkan atensi klinis yang memadai. Hal ini menegaskan bahwa kesehatan jiwa dan raga tidak bisa dipisahkan.
Seluruh rangkaian kegiatan dikelola oleh panitia dari kalangan mahasiswa S2 MARS UM Surabaya di bawah koordinasi Ketua Panitia Slamet Riyadi, dengan dukungan penuh dari para dosen pembimbing.
Solidaritas di Perantauan
Salah satu peserta yang hadir mengungkapkan bahwa kegiatan ini terasa sangat bermakna di tengah kehidupan yang serba jauh dari kampung halaman. Ia menyebut kegiatan ini sebagai pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
Melalui program ini, Prodi MARS FK UM Surabaya berharap dapat membuka jalan bagi lahirnya kelompok dukungan sosial (support group) di antara komunitas PMI di Malaysia — sebuah ruang berbagi yang tidak hanya memperkuat ketahanan psikologis, tetapi juga mempererat tali persaudaraan sesama perantau.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan pembagian leaflet edukasi kesehatan kepada seluruh peserta sebagai bekal pengetahuan yang bisa dibawa pulang.
Di usianya yang satu dekade, Fakultas Kedokteran UM Surabaya membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas wilayah — bahwa di mana pun putra-putri Indonesia berada, kesehatan jiwa dan raga mereka tetap layak diperjuangkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments