Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Masjid Dikelola Anak Muda: Ar-Royyan Buduran Raih Prestasi Digital yang Mengguncang Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Masjid Dikelola Anak Muda: Ar-Royyan Buduran Raih Prestasi Digital yang Mengguncang Indonesia
Penyerahan penghargaan Piagam LPCR PM PP Muhammadiyah oleh Nur Chasan Basri, ketua LPCR PM PDM Sidoarjo kepada perwakilan Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran. Foto: Syahensyah R/ PWMU.CO
pwmu.co -

Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, masjid tidak boleh tertinggal dari denyut energi generasi muda. Melibatkan anak-anak muda dalam pengelolaan masjid bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak agar masjid tetap menjadi pusat peradaban, ruang kreatif, dan tempat yang hidup bagi umat.

Saat anak muda diberi ruang, kesempatan, dan kepercayaan, masjid dapat menjadi lokomotif kemajuan dengan wajah yang lebih segar, relevan, dan berdampak. Inilah spirit yang mengiringi perjalanan Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran selama delapan bulan terakhir—sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa masa depan kemasjidan ada di tangan generasi muda.

Perjalanan Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran bukanlah perjalanan yang singkat. Pembangunan fisik masjid dimulai sekitar tiga hingga empat tahun lalu, jauh sebelum saya mengenal dan dikenal oleh kalangan Muhammadiyah di Buduran dan Sidoarjo.

Di wilayah dengan basis massa Muhammadiyah yang sangat minim—dari 15 desa, terdapat sekitar 50% ranting yang berdiri namun tidak semuanya aktif, hanya dua ranting yang memiliki masjid, dan satu yang memiliki musala—kehadiran Ar-Royyan adalah sebuah napas baru.

Hanya ada satu Amal usaha Muhammadiyah (AUM) di Buduran, yaitu TK ABA 1 Buduran. Kondisi ini menunjukkan betapa terbatasnya sumber daya Muhammadiyah di kawasan ini.

Momentum kebangkitan Ar-Royyan dimulai pada 1 Ramadhan 1446 H, ketika Pemuda Muhammadiyah Buduran, yang juga baru terbentuk, mulai menggaungkan masjid ini menjadi pusat dakwah yang progresif.

Delapan bulan setelah dibuka untuk umum, masjid ini telah bertransformasi menjadi ruang yang hidup: tempat shalat lima waktu, tempat istirahat dan menginap bagi musafir, ruang diskusi dan perumusan program, tempat upgrading skill, pusat kegiatan sosial, sekaligus inkubator ide-ide kreatif berbasis nilai-nilai Islam. Mereka menamai diri Ar-Royyan Youth Squad, kelompok pemuda yang visi terbesarnya sederhana: menjadikan masjid ini tempat yang nyaman untuk siapa saja.

Siapa pun boleh singgah, boleh istirahat, boleh tidur, boleh membuat kopi atau teh, boleh mandi, bahkan boleh mengakses Wi-Fi. Semua fasilitas disediakan gratis oleh takmir masjid sebagai bentuk keramahan dan dakwah bil hal yang menyentuh batin banyak orang. Layanan ini sekaligus menjadi pintu masuk bagi banyak kalangan—terutama anak muda—untuk merasa dekat dan diterima oleh masjid.

Sejak dibuka, Masjid Ar-Royyan digawangi oleh pemuda Muhammadiyah yang bergerak lincah melalui media sosial. Dari Facebook, Instagram, YouTube, hingga TikTok, semuanya digunakan sebagai mimbar dakwah modern.

Jika mimbar fisik memiliki jangkauan terbatas, media sosial memperluas radius dakwah hingga lintas kota bahkan lintas provinsi. Konten yang disajikan tidak monoton. Semuanya fresh, informatif, dan menjawab kebutuhan publik. Banyak jamaah digital memberikan infak secara online, terbantu oleh kemudahan layanan donasi yang disiapkan.

Salah satu pencapaian terbesar adalah akun TikTok Masjid Ramah Musafir, yang dibuat pada April 2025. Hingga Desember 2025, akun ini telah memiliki 16.900 pengikut, 732.400 like, dan beberapa konten viral menembus 7,7 juta views. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi bukti bahwa ketika anak muda berkarya dan diberi ruang, masjid dapat menjadi magnet kebaikan.

Energi inilah yang membawa Masjid Ar-Royyan meraih prestasi nasional dalam Cabang Ranting dan Masjid Awards VI yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR PM).

Dalam waktu kurang dari setahun, Ar-Royyan menyabet dua penghargaan, yaitu Juara III Lomba Vlog YouTube dan Juara Harapan Konten TikTok. Prestasi ini menjadi hadiah bagi Muhammadiyah Sidoarjo, Muhammadiyah Buduran, takmir masjid Ar-Royyan, jamaah, donatur, imam masjid, arroyyan youth squad dan marbot yang selama ini bekerja dengan sepenuh hati.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Nur Chasan Basri, S.Ag, Ketua LPCR PM PDM Sidoarjo, menyampaikan di depan ratusan jamaah Masjid Ar-Royyan yang hadir dalam Kegiatan peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah.

“Masjid ini adalah masjid yang ramah anak muda. Masjid yang dapat dikelola oleh generasi muda dengan ide segar dan mengikuti zaman. Semoga banyak masjid meniru jejak Ar-Royyan Buduran,” ujarnya.

Sementara itu, drh. Zainul Muslimin, Bendahara PWM Jawa Timur, memberikan tambahan spirit.

“Ar-Royyan mendapatkan juara karena kehebatannya mengelola dakwah dengan TikTok. Mari terus berdakwah dan tunjukkan bahwa masjid Muhammadiyah siap beradaptasi dengan zaman dan menebar kebermanfaatan lebih luas,” paparnya.

Tidak hanya di dunia digital, Ar-Royyan kini menjadi tempat diskusi dan sharing remaja-remaja masjid baik dari Sidoarjo maupun luar sidoarjo sperti Mojokerto, hingga Pasuruan. Di sini mereka berdiskusi, bertukar pikiran, dan merumuskan masa depan dakwah yang lebih segar.

Masjid Ar-Royyan membuktikan bahwa melibatkan anak muda bukan hanya mungkin, tetapi penting. Dari 35% komposisi pemuda dalam takmir, hingga keterlibatan mereka dalam musyawarah, pengambilan kebijakan, dan eksekusi program, semuanya menunjukkan keberhasilan regenerasi.

Bukankah pada masa Rasulullah, para pemuda yang disebut ahl al-suffah yang tinggal dan mendominasi kegiatan masjid? Lalu mengapa banyak masjid hari ini minim pemuda? Apakah mereka dianggap tidak layak?

Ar-Royyan menegaskan jawabannya: anak muda mampu, dan ketika diberi ruang, mereka menghadirkan keajaiban.

Pada akhirnya, perjalanan delapan bulan ini menunjukkan bahwa masa depan masjid adalah tentang kolaborasi lintas generasi. Tentang keberanian memberikan amanah kepada yang muda. Tentang kesediaan untuk mendampingi mereka berproses.

Karena anak-anak muda adalah generasi yang paling dekat dengan teknologi, paling peka terhadap perubahan zaman, dan paling kaya energi. Jika tidak diarahkan, mereka akan terseret pada hal-hal yang tidak baik. Namun jika dirangkul, mereka menjadi garda depan Fastabiqul Khoirot.

Mari libatkan mereka. Berikan ruang. Berikan kepercayaan. Dan bersama-sama kita bangun masjid sebagai pusat peradaban masa depan—tempat di mana energi muda, gagasan segar, dan nilai Islam bertemu untuk melahirkan perubahan yang nyata.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡