Pernahkah hati kita tetap hampa atau cemas? Padahal, lisan kita tiada lelah mengulang kalimat-kalimat thayyibah. Kita juga mungkin pernah memperdebatkan cara berdzikir, “apakah dzikir harus bersuara keras atau cukup dalam hati?”
Tanpa sadar, kita sering memperdebatkan tata cara berdzikir. Kita sibuk membicarakan wadah, tetapi melupakan isinya. Padahal, dzikir memiliki makna lebih dalam daripada sekadar ucapan.
Al-Qur’an memerintahkan kita untuk senantiasa mengingat Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah dengan dzikir sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Lantas, dzikir seperti apakah yang mengubah kualitas hidup manusia?
Menerobos Batas Bayangan
Secara sederhana, kita memahami Dzikrullah sebagai mengingat Allah. Namun, ada pertanyaan yang patut menjadi reungan kita, “bagaimana kita mengingat Dzat Allah tanpa pernah melihat-Nya?”
Islam mengarahkan pemikiran kita secara indah dan rasional. Rasulullah SAW melarang kita membayangkan rupa Dzat Allah. Sebab, akal manusia terbatas oleh ruang dan materi.
Sebagai gantinya, kita perlu memperhatikan dua hal nyata, yaitu: 1) ciptaan Allah di alam semesta, dan 2) petunjuk-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an.
Ketika menatap langit malam, kita dapat merenungkan kebesaran-Nya. Kita juga bisa mengamati siklus napas sendiri. Atau juga merenungi ayat Al-Qur’an tentang kejujuran.
Melalui perenungan itu, hati kita menyadari kehadiran Sang Pencipta. Kita tidak sedang membayangkan wujud Allah. Kita mengenali keberadaan-Nya melalui ciptaan dan petunjuk-Nya.
Memahami Dzikrullah dalam Perspektif Ilmu Al-Qulub
Dalam tasawuf, Ilmu Al-Qulub membahas dinamika kehidupan hati. Perspektif ini membantu kita memahami makna dzikrullah. Dzikir bukan sekadar aktivitas pita suara.
Dzikir juga menjadi penawar penyakit jiwa paling berbahaya. Penyakit itu bernama ghaflah, yaitu kelalaian batin.
Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan mendasar melalui sabdanya: “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menggambarkan pentingnya dzikir bagi kehidupan batin. Ilmu Al-Qulub menjelaskan kedalaman makna dzikir sejati. Dzikir menumbuhkan muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah mengawasi.
Kesadaran tersebut membuat hati senantiasa terhubung dengan Allah. Sebaliknya, dzikir lisan tanpa kesadaran hati kehilangan maknanya. Ucapan itu hanya menjadi cangkang yang kosong.
Ketika hati hidup, kesadaran spiritual akan tumbuh. Kesadaran tersebut kemudian memengaruhi seluruh tindakan kita.
Menyelaraskan Hati, Lisan, dan Perbuatan
Dzikrullah sejati melibatkan hati, lisan, dan perbuatan. Ketiganya harus berjalan selaras dengan petunjuk Al-Qur’an.
Prinsip tersebut terangkum dalam ungkapan berikut: Aqdun bil-qalbi, iqrarun bil-lisan, wa ‘amalun bil-arkan. Ungkapan tersebut menegaskan keyakinan, pengakuan, dan amal perbuatan.
Mari kita memahami hubungan ketiga unsur tersebut. Pertama, hati (al-qalbu). Karena hatilah yang menumbuhkan kesadaran muraqabah melalui ajaran Allah. Kesadaran itu membuat kita merasa dekat dengan-Nya. Kita juga menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi.
Kedua, lisan (al-lisan). Lisan kita tidak cukup hanya mengagungkan nama Allah, tetapi juga harus menjaga setiap perkataan. Kita perlu berkata jujur, bersikap santun, dan menghindari ucapan menyakitkan.
Ketiga, perbuatan (al-arkan). Nilai Al-Qur’an harus memandu setiap tindakan kita. Kita harus adil ketika memimpin dan jujur ketika berbisnis. Kita juga perlu menahan amarah ketika menghadapi ujian.
Ketiga unsur tersebut harus saling menguatkan. Keyakinan hati perlu tercermin melalui ucapan dan tindakan. Dengan demikian, dzikir hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seorang pekerja menolak kecurangan karena mengingat ajaran Allah. Sikap itu menunjukkan dzikir yang melampaui ucapan. Seluruh perilakunya mencerminkan kesadaran spiritual yang hidup.
Rahasia Bahasa Ilahi dan Ketenangan Jiwa
Kesadaran yang terhubung dengan Allah melahirkan ketenteraman. Al-Qur’an menggambarkan ketenteraman tersebut melalui ungkapan tathma’inul qulub.
Kita dapat menelaahnya melalui Ilmu Alat. Ilmu tersebut mencakup Nahwu, Sharaf, dan Balaghah. Salah satu ayat penting terdapat dalam QS. Ar-Ra’d: 28:
Alā bidzikrillāhi tathma’innul-qulūb. “ketahuilah, hanya dengan dzikrullah, hati menjadi tenteram.”
Susunan bahasa ayat tersebut menyimpan pesan yang mendalam.
Pertama, penggunaan kata alā.
Dalam kaidah Nahwu, alā merupakan huruf tanbih. Kata tersebut berfungsi menarik perhatian dan membangkitkan kesadaran.
Allah seolah mengajak kita berhenti sejenak. Kita perlu memperhatikan pesan penting yang akan disampaikan. Kita juga harus mewaspadai kelalaian dalam menjalani kehidupan.
Kedua, struktur taqdim mā haqquhu at-ta’khīr.
Struktur ini berarti mendahulukan unsur yang biasanya muncul belakangan. Dalam susunan bahasa Arab biasa, kata kerja dapat muncul terlebih dahulu.
Contohnya, tatma’innul-qulūbu bi-dzikrillāhi. Artinya, hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Namun, Al-Qur’an mendahulukan frasa bi-dzikrillāhi. Frasa tersebut muncul sebelum kata kerja tatma’innu.
Dalam Balaghah, susunan ini disebut taqdim al-majrur. Susunan tersebut dapat memperkuat penekanan terhadap makna tertentu. Penekanan itu berkaitan dengan konsep al-khasr atau al-hashr.
Keduanya mengandung makna pengkhususan atau pembatasan. Karena itu, ayat tersebut menegaskan pentingnya dzikrullah. Dzikir membantu manusia menemukan ketenteraman jiwa.
Meski demikian, kita perlu memahami konteks penafsiran ayat. Analisis kebahasaan tidak selalu menunjukkan pembatasan mutlak. Pemahaman ayat juga memerlukan pertimbangan tafsir yang menyeluruh.
Ketenangan sejati bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan tumbuh ketika kita mampu mengatasi perang batin. Kita tidak lagi mengalami pertentangan antara keyakinan dan tindakan.
Kita menyelaraskan keyakinan hati dengan perilaku sehari-hari. Al-Qur’an menyebut jiwa yang tenteram sebagai an-nafsul-mutma’innah. Jiwa tersebut membantu kita memandang kehidupan secara jernih.
Kita pun dapat memusatkan orientasi hidup pada ridha Allah. Dengan begitu, masalah tidak selalu mengguncang keteguhan batin.
Dzikrullah sebagai Perjalanan Menuju Kesadaran Diri
Pada akhirnya, dzikrullah merupakan perjalanan menuju kesadaran diri. Dzikir mengajak kita meninggalkan rutinitas yang kosong. Kita juga perlu mengakhiri perdebatan teknis yang melelahkan.
Sebaliknya, kita perlu menghidupkan hati melalui petunjuk-Nya. Kita juga harus menyelaraskan keyakinan, ucapan, dan perbuatan.
Dengan demikian, dzikrullah bukan sekadar aktivitas lisan. Dzikrullah berarti menjalani kehidupan berdasarkan ajaran Allah. Ajaran tersebut termaktub dalam Al-Qur’an.
Kita tidak perlu membayangkan rupa Dzat Allah. Kita perlu menghadirkan ajaran-Nya dalam kesadaran sehari-hari. Kesadaran itu menuntun kita menghadapi berbagai guncangan kehidupan.
Di situlah kita menemukan makna ketenangan yang sesungguhnya. Hati menjadi tenteram ketika kehidupan selaras dengan petunjuk-Nya. Wallāhu a’lamu bish-shawāb.***






0 Tanggapan
Empty Comments