Keempat, dihukum
Orang-orang yang dihukum atau mendapatkan hukuman juga tidak terlepas dari dosa dan salah yang telah diperbuatnya. Hukuman yang nyata dijalankan itu sebagai salah satu bentuk musibah yang dialaminya.
Musibah itu juga berhubungan dengan dosa. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seorang yang beriman sampai duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan untuknya atau diangkat (dihapuskan) darinya satu kesalahan (dosa)”. (HR. Bukhari No. 5640 dari Aisyah Radhiyallahu’ anha).
Kelima, kebakaran
Kebakaran yang menimpa manusia secara nyata juga sebagai bagian dari penghapusan dosa yang melekat dalam diri mereka. Bahkan orang yang meninggal karena menjadi korban kebakaran benar-benar dihapus dosa-dosanya dan dinyatakan syahid.
Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang mati syahid selain yang gugur di jalan Allah ada tujuh: korban wabah adalah syahid, orang tenggelam adalah syahid, penderita radang selaput dada adalah syahid, korban penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, orang yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Dawud dan An-nasa’i).
Dosa Terlihat Mata Kepala
Dosa juga dapat dilihat dan terlihat wujudnya dengan mata kepala. Hal ini bisa dilihat dan terlihat dari perilaku orang yang melakukan perbuatan dosa.
Perilaku manusia tidak bisa dipisahkan dengan hatinya. Dosa dalam hati memang tidak dapat dilihat atau terlihat. Namun dosa yang muncul pada perilaku itu yang dapat dilihat atau terlihat dengan mata kepala.
Pertama, gelisah
Pada saat melihat maling motor dan lainnya, pastilah orang tersebut akan gelisah, celingak -celinguk, untuk mengetahui apakah ada orang lain yang melihatnya atau tidak. Hal ini disebutkan dalam hadits berikut.
“Engkau datang bertanya tentang kebaikan dan dosa?” Wabishah menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menepuk dadanya dan bersabda: “Mintalah fatwa dari hatimu (tiga kali).
Kebaikan adalah apa yang ketenangan jiwa dan ketenangan hati padanya, sedangkan dosa adalah apa yang meragukan jiwa dan menggelisah kan dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan membenarkannya.” (HR. Ahmad dan Darimi).
Kedua, berdebar
Mencuri itu jelas perbuatan dosa bagi pelaku nya. Kenapa dia celingak-celinguk itu karena takut dan hatinya pun dalam keadaan berdebar-debar. Mereka takut ketahuan oleh orang lain, dan lebih berat lagi jika berhasil ditangkap dan dihukum rimba oleh masyarakat.
Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang membuat dadamu gelisah (ragu/berdebar), dan kamu benci jika hal itu tampak di hadapan manusia.” (HR. Muslim No. 2553).
Ketiga, melarikan diri
Dosa yang juga dapat dilihat dengan nyata adalah orang berpaling atau melarikan diri dari perang yang berkecamuk. Sesuai hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab (antara lain)… Orang yang berpaling (melarikan diri) dari perang yang berkecamuk…”. (HR. Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669).
Keempat, memukul
Memukul merupakan perbuatan dosa yang dapat dilihat oleh mata kepala. Memukul tanpa hak itu berdosa dan harus membayar kaffarahnya bagi orang yang melakukannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Barangsiapa yang memukul atau menampar seseorang tanpa hak, maka bentuk penebusan dosa (kaffarah) dari kezaliman tersebut adalah dengan memerdekakan budak, atau bertaubat sungguh-sungguh”. (HR. Muslim No. 30/1657).
Kelima, menyiksa hewan
Dosa dengan menyiksa hewan adalah perbuatan yang dapat dilihat dengan mata kepala. Perbuatan tersebut secara nyata sebagai suatu dosa besar.
Sebab pelakunya dapat dimasukkan ke dalam neraka. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Seorang perempuan masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati, maka dari itu ia masuk neraka karena kucing tersebut, disebabkan ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat ia mengurungnya, dan tidak pula ia membiarkannya memakan serangga di bumi” (HR Al-Bukhari no. 3482).






0 Tanggapan
Empty Comments