Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Menjaga Kewarasan di Tengah Zaman Kalabendhu

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Menjaga Kewarasan di Tengah Zaman Kalabendhu
Oleh : Pradana Boy ZTF Asisten Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji; Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Malang.

Sebuah video di media sosial memperlihatkan seorang gadis belia umur 20-an sedang berada di kafe. Di hadapannya, tersaji banyak makanan di atas meja. Tidak terlihat dengan jelas dengan siapa gadis itu berbicara.

Hanya saja, dia sedang melontarkan komentar negatif terhadap seseorang yang hendak membungkus makanan yang tersisa.

“Kayak orang susah gitu lho,” ucapnya dengan nada angkuh.

Ucapan si gadis itu pun menuai banyak komentar, mayoritas berupa kecaman, dari netizen yang melihatnya.

Warganet tersebut menilainya sebagai gaya yang sok kaya, tidak menghargai makanan, serta terjebak dalam israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (penghambur-hamburan).

***

Saya tidak tahu apakah tayangan video itu benar-benar menggambarkan kejadian yang sesungguhnya, atau sekadar konten demi untuk pemancing perhatian warganet.

Konten kontroversial memang berpotensi untuk mendatangkan tanggapan warganet dan menghasilkan uang.

Akibatnya, sebagian orang sengaja memproduksi konten negatif demi keuntungan materiil.

Jika kejadian itu nyata, tentu kita patut mempertanyakan motif di balik sikap si gadis, apakah sedang ingin menunjukkan status sosialnya dengan cara merendahkan orang lain?  Ataukah mungkin ia sekadar mengejar gengsi?

Jika hanya berupa konten, kita juga perlu mempertanyakan tujuan pembuatannya.

Terlepas dari motifnya, fenomena ini menunjukkan kecenderungan zaman ketika orang mengorbankan nilai demi pencitraan.

Tanpa sadar, proses tersebut memicu pembalikan nilai (value inversion).

Media sosial turut memperkuat kecenderungan itu melalui penyebaran melalui medsos yang menjadikan perilaku negatif sebagai tontonan.

Pembalikan Nilai dan Gejala Zaman Edan

Dalam khazanah Islam, terdapat hadis-hadis futuristik yang menggambarkan fenomena akhir zaman.

Salah satunya mengisahkan masa penuh tipu daya (sanawat khuda’at).

Pada masa tersebut, orang yang salah dibenarkan, sedangkan orang yang benar disalahkan.

Para pengkhianat mendapat kepercayaan, sementara orang jujur justru dianggap berkhianat.

Hadis tersebut juga menyebut kemunculan kelompok ruwaibidhah. Ketika ada seseorang yang bertanya tentang identitas mereka, Rasulullah pun menjawab, “Orang-orang bodoh yang berbicara tentang urusan masyarakat.”

Gambaran tersebut relevan untuk membaca fenomena pembalikan nilai di era sekarang.

Secara moral, merendahkan orang yang berhemat jelas mencerminkan kesombongan. Ironisnya, perilaku semacam itu berpotensi menjadi trend setter di luar layar.

Masyarakat kini kerap menjadikan media sosial sebagai sumber pengetahuan sekaligus rujukan perilaku.

Pengaruh tersebut menjadi persoalan serius ketika menyentuh kalangan generasi muda.

Anak-anak usia dini, misalnya, sedang berada dalam masa formatif. Mereka rentan meniru perilaku yang berulang kali muncul dalam tontonan.

Ketika popularitas menjadi ukuran kebenaran, batas antara perilaku pantas dan tidak pantas semakin kabur.

Fenomena ini mengingatkan kita pada konsep sanawat khuda’at dalam khazanah Islam. Dalam falsafah Jawa, gambaran serupa hadir melalui konsep zaman kalabendhu.

Prabu Jayabaya, raja Kerajaan Panjalu yang berkuasa pada abad ke-12, dipercaya memiliki pandangan futuristik.

Dia menggambarkan zaman tersebut sebagai masa penuh paradoks. Kemajuan teknologi memudahkan kehidupan, tetapi perubahan sosial juga berpotensi mengikis nilai dan norma masyarakat.

Jayabaya menggambarkan kemajuan itu melalui ungkapan mbesok yen wis ana kereta mlaku tanpa jaran, yakni kendaraan yang berjalan tanpa ditarik kuda.

Dia juga menyebut ana prahu mlaku ing dhuwur awang-awang, yaitu kapal yang melaju di angkasa.

Ungkapan lainnya ialah Tanah Jawa kalungan wesi, yang dimaknai sebagai pembangunan jalur transportasi modern. Gambaran tersebut kerap dikaitkan dengan rel kereta api dan jalan tol.

Namun, ramalan tentang kemajuan itu juga menyiratkan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Jayabaya menyebutnya wolak-walike zaman, yakni zaman yang mengalami pembalikan keadaan. Dalam ungkapan populer, masyarakat mengenalnya sebagai zaman edan atau zaman gila.

Gambaran tersebut tercermin dalam ungkapan wong bener thenger-thenger, wong salah bungah, sarta wong jujur disingkirke, wong culika linungguhake.

Ungkapan ini melukiskan keadaan ketika kebenaran kehilangan tempat, sementara kelicikan justru memperoleh penghargaan.

Secara harfiah dan hermeneutis, wong bener merujuk pada orang yang memegang teguh kebenaran.

Namun, mereka justru mengalami kebingungan dan kelumpuhan sosial (thenger-thenger).

Sebaliknya, orang yang licik dan manipulatif (culika) memperoleh panggung, kemuliaan, bahkan kekuasaan (linungguhake).

Jayabaya kemudian mengingatkan, amenangi jaman edan, sing ora edan ora keduman.

Artinya, orang yang menghadapi zaman gila dan tidak ikut menjadi gila berisiko kehilangan bagian.

Ungkapan ini menggambarkan tekanan sosial untuk mengikuti perilaku yang berlaku, meskipun bertentangan dengan nilai moral.

Dalam konteks media sosial, algoritma turut memperkuat tekanan tersebut. Pengulangan konten tertentu dapat membuat perilaku keliru tampak lumrah, bahkan seolah-olah benar.

Ketika popularitas menjadi ukuran keberhasilan, pembuat konten terdorong mengikuti arus demi perhatian publik. Algoritma pun berperan sebagai driving force dalam dinamika yang menyerupai zaman edan.

Karena itu, membaca ungkapan sing ora edan ora keduman dapat melalui konteks tersebut. Orang yang menolak mengikuti arus berisiko kehilangan perhatian dan ruang di panggung digital.

Tantangannya ialah tetap berpartisipasi tanpa mengorbankan kejujuran dan prinsip moral.

Eling lan Waspada: Menjaga Kebenaran di Tengah Kepalsuan

Menghadapi erosi kebenaran tersebut, masyarakat membutuhkan wacana tandingan yang kuat.

Khazanah keilmuan Islam dan kearifan lokal Jawa dapat menjadi sumber nilai sekaligus pedoman etis. Keduanya menawarkan pendekatan yang saling melengkapi untuk menyikapi kepalsuan zaman.

Selain Jayabaya, masyarakat juga mengenal Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita menawarkan pedoman menghadapi pusaran zaman gila melalui doktrin eling lan waspada.

Konsep eling mengajarkan keinsafan spiritual dan kesadaran transendental. Manusia perlu menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui sikap ngandel marang Allah.

Mereka juga harus berpegang teguh pada prinsip kebaikan universal.

Sementara itu, waspada menekankan kehati-hatian dan ketajaman berpikir kritis. Sikap ini membantu manusia menyaring informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Dengan demikian, mereka tidak mudah terombang-ambing oleh kebohongan kolektif dan histeria massal.

Kearifan Jawa tersebut menemukan padanan operasional dalam epistemologi Islam melalui prinsip tabayyun.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya memeriksa informasi untuk mencegah kesalahan dan kerugian sosial.

Masyarakat beriman perlu menyaring informasi berdasarkan pertimbangan etis dan kebenaran.

Sikap ini membantu mereka menghindari dampak kebodohan (jahl) dan kebohongan.

Pada akhirnya, menghadapi zaman kalabendhu tidak berarti menyerah pada keadaan.

Kita tetap dapat mengambil peran dan memperoleh manfaat (keduman) tanpa mengikuti kegilaan zaman.

Kuncinya terletak pada kemampuan menjaga kesadaran spiritual, berpikir kritis, dan memeriksa kebenaran. Dengan eling, waspada, dan tabayyun, kita dapat menghadapi perubahan tanpa kehilangan pegangan moral.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 15/10/2026 15:45
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu