Perempuan yang bekerja di sektor informal masih menghadapi tantangan dalam memperoleh perlindungan kerja, kepastian upah, dan jaminan kesehatan. Persoalan tersebut menjadi perhatian Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) Monica Subastia, M.Pd., yang mendorong penguatan ekonomi perempuan menjadi bagian dari gerakan organisasi.
Monica menyampaikan hal itu dalam sambutan pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Monica, penguatan ekonomi keluarga tidak cukup dilakukan dengan mendorong perempuan memiliki usaha. Organisasi juga perlu memperhatikan kondisi perempuan yang bekerja di sektor informal, terutama mereka yang belum sepenuhnya memperoleh hak dan perlindungan dalam pekerjaan.
“Pekerja-pekerja informal, jaminan kesehatannya, jaminan upahnya, jaminan keamanan kerjanya belum tentu mendapatkan haknya. Jaminannya undang-undangnya ada, tetapi masih menjadi tantangan apakah kemudian pekerja informal mendapatkan itu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang dihadapi perempuan ketika berusaha menopang ekonomi keluarga di tengah keterbatasan perlindungan kerja. Bagi sebagian perempuan muda, aktivitas ekonomi berlangsung bersamaan dengan tanggung jawab pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial.
Usaha Kecil di Tengah Aktivitas Organisasi
Monica mencontohkan kebiasaan kader Nasyiatul Aisyiyah yang membawa barang dagangan ketika mengikuti pengajian atau kegiatan organisasi. Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana perempuan berupaya memperoleh penghasilan tanpa sepenuhnya meninggalkan tanggung jawab lain dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, meskipun hasil usaha yang dijalankan tidak selalu besar, kegiatan tersebut tetap menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi rumah tangga.
“Ini bagian kecil upaya perempuan-perempuan muda, ibu-ibu muda untuk turut menguatkan ekonomi keluarga,” katanya.
Bagi Monica, upaya memperkuat ekonomi keluarga perlu dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk melalui usaha rumahan dan aktivitas produktif yang dapat dikembangkan perempuan di komunitas masing-masing.
Namun, pemberdayaan ekonomi tidak semestinya hanya berorientasi pada kemampuan menghasilkan pendapatan. Perempuan juga membutuhkan lingkungan yang mendukung, akses terhadap perlindungan sosial, dan pemahaman mengenai hak-haknya sebagai pekerja.
Karena itu, Nasyiatul Aisyiyah diharapkan hadir di tengah keluarga muda, komunitas, serta lingkungan desa melalui program yang dapat memperkuat posisi perempuan dalam kehidupan ekonomi.
Menghubungkan Pemberdayaan dengan Perlindungan
Monica menempatkan penguatan ekonomi sebagai salah satu pilar ketahanan keluarga. Menurutnya, kondisi ekonomi berkaitan erat dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar, menjaga kesehatan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Persoalan tersebut juga berhubungan dengan kesiapan perempuan dalam menjalani berbagai fase kehidupan, mulai dari menempuh pendidikan, memasuki dunia kerja, mempersiapkan pernikahan, hingga mengasuh anak.
Dalam konteks itu, program pemberdayaan perempuan perlu memperhatikan kebutuhan yang berbeda-beda. Perempuan yang menjalankan usaha rumahan, misalnya, dapat menghadapi tantangan yang berbeda dari perempuan yang bekerja dengan hubungan kerja formal.
Monica mengajak kader Nasyiatul ‘Aisyiyah di tingkat cabang dan ranting untuk mengambil peran dalam memperkuat perempuan di lingkungan masing-masing. Kehadiran organisasi di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya melalui kegiatan rutin, tetapi juga melalui pendampingan yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi perempuan.
Upaya tersebut dapat berjalan beriringan dengan program kesehatan dan edukasi keluarga yang selama ini menjadi perhatian Nasyiatul ‘Aisyiyah. Sebab, keluarga yang tangguh membutuhkan dukungan ekonomi sekaligus akses terhadap kesehatan dan lingkungan sosial yang aman.
Dari Gerakan Perempuan Menuju Kerja Nyata
Bagi Monica, penguatan ekonomi perempuan merupakan bagian dari tanggung jawab gerakan perempuan muda untuk menjawab persoalan masyarakat. Organisasi perlu menerjemahkan gagasan tentang perempuan berkemajuan menjadi program yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
Ia mengingatkan kader agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau membiarkan gagasan organisasi hanya menjadi wacana.
“Jangan menjadi gerakan yang terkurung dalam sekat seremonial. Jangan sampai gagasan besar kita hanya menguap tanpa wujud di tengah kenyataan,” pesannya.
Melalui Musywil XIII PWNA Jawa Timur, isu pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi salah satu hal yang relevan untuk dibawa ke dalam pembahasan arah gerakan organisasi. Tantangannya bukan hanya mendorong perempuan agar lebih produktif, tetapi juga memastikan upaya tersebut berjalan seiring dengan penguatan hak, perlindungan, dan kesejahteraan keluarga.
Dengan demikian, gerakan Nasyiatul Aisyiyah diharapkan mampu memperluas kontribusinya, tidak hanya melalui penguatan kapasitas perempuan, tetapi juga melalui kerja-kerja sosial yang menjawab persoalan nyata di masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments