
PWMU.CO – Perjalanan dakwah merupakan bagian tak terpisahkan dari pembentukan kader Muhammadiyah yang tangguh dan berjiwa sosial tinggi.
Dalam rangka mengasah keterampilan dakwah serta memperkuat karakter keislaman, para siswa kelas 11 Madrasah Aliyah Mu’allimin dan Mu’allimat Yogyakarta mengikuti program Muballigh Hijrah di Banyuwangi selama bulan Ramadan.
Ramadan tahun ini menjadi momentum spesial bagi peserta Muballigh Hijrah IPMMMATIM.
Mereka mendapat amanah untuk mengabdi kepada masyarakat Banyuwangi, sebuah kota dengan panorama alam yang indah serta budaya Islam yang kental.
Perjalanan mereka dimulai dari balai yang baru dibangun oleh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Banyuwangi. Sambutan hangat dari ibu-ibu ‘Aisyiyah menambah semangat para muballigh muda dalam menjalankan tugas dakwah.
Pada 2 Maret 2025, sebanyak 12 kelompok disebar ke berbagai daerah untuk membantu masyarakat dalam bidang keagamaan.
Salah satu daerah yang menjadi tempat pengabdian adalah Siliragung, tepatnya di PAM Ukhuwah Islamiyyah. Tugas yang diemban tidak hanya sebatas menjadi imam tarawih dan menyampaikan kultum, tetapi juga membimbing anak-anak TPA.
Berbagai tantangan dihadapi, mulai dari keterbatasan air, jarak masjid yang jauh, hingga mengajar dalam keadaan berpuasa. Namun, semua itu tidak menyurutkan semangat mereka dalam berdakwah.
Dakwah di Jalen, Genteng
Setelah menyelesaikan tugas di Siliragung, para muballigh hijrah melanjutkan perjalanan ke Jalen, Genteng pada 6 Maret 2025. Kedatangan mereka disambut dengan penuh kehangatan oleh para guru SD Muhammadiyah 9 Setail.
Masjid Al-Falah menjadi pusat dakwah mereka di Jalen. Kegiatan yang dilakukan mencakup tadarus al-Qur’an, Pondok Ramadan, serta diskusi keislaman bersama remaja masjid setempat.
Keakraban yang terjalin membuat perpisahan pada 10 Maret 2025 terasa berat. Sebelum meninggalkan Jalen, mereka mengadakan acara sharing session dengan anak-anak TPA, yang diakhiri dengan sesi foto bersama.
Hal menarik di Banyuwangi adalah tradisi masyarakatnya yang selalu meminta nomor telepon atau akun media sosial para muballigh sebelum mereka berpindah ke daerah lain. Ini menjadi bukti kuatnya keinginan untuk menjaga tali silaturahmi meskipun program telah berakhir.
Mengawal Pondok Ramadan di Pusat Kota
Setelah perjalanan panjang dari Jalen, para peserta Muballigh Hijrah menuju pusat kota dan menginap di Balqis, dekat Stadion Diponegoro.
Keesokan harinya, mereka bertugas mengawal Pondok Ramadan di SD Muhammadiyah 1 Banyuwangi, sebuah pengalaman berharga dalam menyusun konsep acara dan mengelola kegiatan secara mandiri.
Selain itu, mereka juga mengadakan berbagai kegiatan Ramadan yang menarik, seperti: Buka Bersama IKMAMMM, Bagi-bagi Takjil, Sahur on the Road, Tabligh Akbar, Reresik Tandang Gawe.
Perpisahan yang Mengharukan
Setelah 22 hari mengabdi, tibalah momen perpisahan pada Maret. Meskipun tubuh mereka telah meninggalkan Banyuwangi, semangat dakwah tetap menyala di hati para peserta Muballigh Hijrah.
Sebagai penutup, mereka meninggalkan pesan penuh makna:
“Banyuwangi harus tetap hidup. Nyalakan api perjuangan dakwahmu setelah kami pergi.”
Penulis Bait Sang Surya El-fath Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan





0 Tanggapan
Empty Comments