Dari ranah Minangkabau hingga panggung dunia, dua nama ini bukan sekadar tercatat dalam sejarah bangsa, tetapi juga mewariskan nilai-nilai Islam berkemajuan yang tetap relevan hingga kini: Agus Salim dan Emil Salim.
Keduanya terhubung oleh garis keluarga, tetapi lebih dari itu, disatukan oleh semangat intelektualitas, kesederhanaan, dan perjuangan Islam modern yang sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah.
Jejak Intelektual dari Koto Gadang
Emil Salim lahir di Lahat, Sumatera Selatan, 8 Juni 1930. Ia merupakan keponakan kandung dari Agus Salim, sosok yang dikenal sebagai The Grand Old Man.
Dari lingkungan keluarga ini, Emil mewarisi tradisi berpikir kritis, kecintaan terhadap ilmu, serta komitmen pada pengabdian. Ia menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor dari University of California Berkeley.
Kariernya dimulai sebagai akademisi di Universitas Indonesia, sebelum kemudian menjadi bagian dari tim ahli ekonomi presiden sejak 1966. Selama lebih dari dua dekade, ia menjabat sebagai menteri di berbagai bidang strategis.
Namanya kemudian dikenal luas sebagai “Bapak Lingkungan Hidup Indonesia”, tokoh yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.
Warisan Pemikiran Sang Paman
Agus Salim bukan sekadar tokoh keluarga, tetapi juga guru nilai. Lahir pada 1884, ia dikenal sebagai diplomat ulung, intelektual lintas bahasa, dan tokoh pergerakan Islam yang aktif di Sarekat Islam serta Muhammadiyah.
Pemikirannya mencerminkan Islam berkemajuan—rasional, moderat, dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Ia juga dipengaruhi oleh pemikir besar seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh.
Kedekatannya dengan Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa ia berada dalam arus besar kebangkitan Islam modern di Indonesia. Ia juga terlibat dalam forum penting seperti Kongres Al-Islam II di Garut.
Muhammadiyah sebagai Titik Temu
Baik Agus Salim maupun Ahmad Dahlan memiliki visi yang sama: menjadikan Islam sebagai kekuatan kemajuan umat dan bangsa.
Meski pernah berbeda pandangan dalam strategi gerakan, keduanya tetap berada dalam tujuan besar yang sama, yakni membebaskan umat dari kebodohan dan keterbelakangan.
Nilai-nilai ini kemudian tercermin dalam pemikiran Emil Salim. Meski tidak dikenal sebagai aktivis struktural Muhammadiyah, pendekatannya sangat selaras: rasional, ilmiah, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Dari Kebijakan ke Gerakan Lingkungan
Dalam kiprahnya, Emil Salim tidak hanya menjadi teknokrat, tetapi juga penggerak perubahan. Ia mendorong lahirnya gerakan lingkungan berbasis masyarakat, termasuk Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
Ia juga aktif dalam forum global seperti KTT Bumi di Rio de Janeiro 1992, serta berbagai inisiatif internasional terkait perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
Atas dedikasinya, ia menerima penghargaan internasional seperti The Leader for the Living Planet Award dari WWF dan Blue Planet Prize.
Selain itu, ia turut mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia, memperkuat peran masyarakat sipil dalam menjaga lingkungan.
Hidup Berkemajuan
Dalam perspektif Muhammadiyah, Islam tidak hanya dipahami sebagai ibadah ritual, tetapi juga kerja nyata untuk kemajuan peradaban.
Agus Salim menunjukkan dakwah melalui diplomasi global. Emil Salim membuktikan pengabdian melalui ilmu dan kebijakan publik.
“Jangan berhenti berpikir hingga liang lahat,” menjadi pesan hidup Emil yang mencerminkan semangat tajdid dalam Muhammadiyah.
Penutup: Teladan Lintas Zaman
Kini, Emil Salim tetap aktif memberikan kontribusi pemikiran, termasuk melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Dari Agus Salim hingga Emil Salim, kita belajar bahwa Islam berkemajuan bukan sekadar identitas, tetapi cara berpikir dan bertindak—mencintai ilmu, menjunjung akhlak, dan memberi manfaat bagi kemanusiaan.
Keduanya telah meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu—jejak intelektual yang terus menerangi generasi berikutnya.





0 Tanggapan
Empty Comments