Suasana hangat tampak di pelataran Masjid KH Ahmad Dahlan, Sengon, Jombang, pada Minggu pagi (setiap Minggu ke-2 setiap bulan). Sejumlah peserta dengan berbagai latar belakang berkumpul, sebagian menggunakan bahasa isyarat, sebagian lain meraba lembaran Al-Qur’an Braille.
Mereka datang bukan sekadar belajar membaca, tetapi juga meneguhkan semangat bahwa Al-Qur’an adalah milik semua, tanpa terkecuali.
Inilah kegiatan Belajar Al-Qur’an Isyarat dan Braille, agenda rutin yang digagas oleh Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) Jombang bersama Lembaga Studi Al-Qur’an Braille dan Isyarat Muhammadiyah (LASABIMU).
Kegiatan ini dipimpin oleh Achmad Fathul Iman, Ketua LASABIMU, yang selama ini aktif mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an inklusif bagi penyandang disabilitas.
“Program ini terbuka dan gratis untuk siapa saja,” ujar Achmad Fathul Iman.
“Kami ingin menghadirkan ruang bersama, tempat belajar dan bertumbuh bagi teman-teman dengan hambatan pendengaran dan penglihatan, sekaligus memperkenalkan metode Al-Qur’an Isyarat dan Braille kepada masyarakat luas,” tambahnya.
Setiap pertemuan digelar di Masjid KH Ahmad Dahlan, yang berlokasi di kawasan Jombang Muhammadiyah Center (JMC). Peserta datang dari berbagai kalangan—difabel, relawan, hingga warga sekitar. Mereka belajar bersama dalam suasana penuh semangat dan saling menghargai.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jombang, Prof. Abdul Malik, mengapresiasi inisiatif ini sebagai wujud nyata dakwah Muhammadiyah yang berkemajuan dan inklusif.
“Muhammadiyah Jombang hadir memberikan fasilitas bagi siapa pun yang ingin mempelajari Al-Qur’an. Teman-teman difabel punya hak yang sama untuk memahami dan mengamalkan Al-Qur’an,” tegas Prof. Abdul Malik.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam tidak hanya disampaikan lewat mimbar, tetapi juga melalui tindakan nyata: membuka akses, menumbuhkan empati, dan memperkuat ukhuwah di tengah keberagaman kemampuan.
Dengan semangat Al-Qur’an untuk Semua, Dakwah Tanpa Batas, HIDIMU dan LASABIMU berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang ramah difabel—karena setiap huruf wahyu sejatinya berhak disentuh oleh semua hati.






0 Tanggapan
Empty Comments