Tradisi literasi dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai metode dalam membangun peradaban. Hal ini disampaikan dalam Kajian Daring Ramadan (Kadar) sesi keempat yang diselenggarakan melalui Zoom pada Selasa (18/3/2026).
Kajian ini menghadirkan Ustaz Nur Fajri Romadhon, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Depok sekaligus pegiat dakwah, dengan moderator Dayat Wijanarko. Tema yang diangkat membahas cara ulama klasik berinteraksi dengan buku.
Dalam pemaparannya, Ustaz Nur Fajri menegaskan bahwa Ramadan merupakan bulan literasi. Hal ini berkaitan dengan turunnya wahyu pertama yang berisi perintah membaca (Iqra). Ia mengingatkan agar kebiasaan membaca tidak berhenti setelah Ramadan berakhir.
Ia juga menjelaskan metode Al-Tadrij, yaitu membaca secara bertahap. Mengutip Ibnu Khaldun, pembelajar dianjurkan memulai dari buku yang lebih ringkas untuk memperoleh gambaran umum sebelum melanjutkan ke kitab yang lebih tebal dan mendalam.
Selain aspek teknis, ia menguraikan sisi psikologis membaca melalui kisah Ibnu Taimiyah yang tetap membaca meskipun dalam kondisi sakit. Menurutnya, kegembiraan dalam menemukan ilmu baru dapat memberikan dorongan positif bagi kondisi jiwa.
Ia menyampaikan bahwa perasaan senang saat memperoleh ilmu dapat membantu memperkuat kondisi tubuh, sebagaimana tergambar dalam kisah dialog Ibnu Taimiyah dengan dokternya.
Ustaz Nur Fajri juga menekankan pentingnya menjaga adab terhadap buku. Ia mengingatkan agar pembaca tidak melipat halaman atau menggunakan pembatas yang terlalu tebal karena dapat merusak jilidan buku.
Selain itu, ia menyarankan teknik mencatat di pinggir halaman (hamisy) dengan tulisan miring ke atas agar tidak bercampur dengan teks utama.
Pada bagian akhir, ia membagikan metode Tahshil Tasnifi, yaitu belajar sambil menulis. Metode ini telah dipraktikkan oleh tokoh seperti Buya Hamka dan Tengku Hasbi Ash-Shiddieqy.
Ia menegaskan bahwa membaca satu buku secara berulang lebih efektif dibandingkan membaca banyak buku tanpa pendalaman.
Ahmad Soleh selaku pendiri Penerbit Irfani sekaligus penyelenggara menyampaikan bahwa sesi ini merupakan penutup dari rangkaian Kajian Daring Ramadan tahun ini. Tiga sesi sebelumnya telah membahas penulisan buku, komunitas literasi, serta literasi bagi perempuan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber, moderator, dan peserta yang telah berpartisipasi. Diharapkan kegiatan ini dapat kembali diselenggarakan pada tahun berikutnya dengan jumlah sesi yang lebih banyak.Tradisi literasi ulama





0 Tanggapan
Empty Comments