Senin (25/8/2025) pukul 15.00 WIB, Munahar, SHI, MPd., kembali akan dilantik menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Gadung, Surabaya.
Pelantikan ini menjadi momen istimewa bagi pria kelahiran Bojonegoro tersebut. Amanah sebagai kepala sekolah kembali dia emban untuk ketiga kalinya.
Acara pelantikan dijadwalkan dihadiri jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Surabaya, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, Majelis Dikdasmen, serta para guru/ karyawan dan tamu undangan.
Munahar menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah bukanlah kedudukan semata, melainkan amanah untuk berkhidmat.
“Tugas ini harus dijalankan sebaik-baiknya. Kepala sekolah adalah ladang pengabdian untuk mencetak generasi unggul, berilmu, berprestasi, berwawasan luas, sekaligus berkarakter Islami,” tutur pria yang juga Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur ini.
Dalam dua periode kepemimpinannya, SD Musix mengalami lonjakan kemajuan: prestasi siswa meningkat, program tahfidz dan kelas internasional diperkuat, serta pembelajaran berbasis digital berkembang pesat melalui aplikasi Gen Q Smart.
Keberhasilan inilah yang menjadi alasan kuat dirinya kembali dipercaya memimpin sekolah tersebut.
Munahar menargetkan periode ketiga kepemimpinannya berfokus pada peningkatan kualitas guru/ karyawan, memperbanyak prestasi siswa di bidang akademik maupun non akademik, fasilitas pembelajaran berupa pembangunan gedung Gen Q Center (Pusat Generasi Al-Qur’an) yang berada di jalan Ubi II No. 1, serta memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.
“Sekolah ini tidak hanya tempat belajar, tetapi rumah yang menyenangkan bagi anak-anak untuk tumbuh dengan akhlak mulia,” ujarnya penuh optimisme.
Filosofi Seorang Pendidik
Sebagai pendidik, Munahar selalu menekankan pentingnya keteladanan. Menurutnya, guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi figur yang membentuk karakter. Karena itu, dia berusaha hadir sebagai sosok disiplin, rendah hati, dan penuh perhatian.
Selain itu, Munahar dikenal terbuka terhadap gagasan baru. Dia mendorong para guru untuk berinovasi dengan metode kreatif dan teknologi digital.
“Pendidikan harus menumbuhkan semangat belajar berkelanjutan, bukan sekadar menuntaskan kurikulum,” jelas dia. Prinsip ini yang menjadi dasar lahirnya banyak program unggulan di SD Musix.
Munahar lahir dari keluarga buruh tani sederhana di Bojonegoro. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Meski serba terbatas, orang tuanya menanamkan prinsip: semua anak harus sekolah setinggi mungkin.
“Bapak dan ibu bersikeras agar anak-anaknya bisa kuliah, meski banyak yang mengejek,” kenang pria yang kini sedang menempuh S3 Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Setelah lulus Madrasah Aliyah, ia merantau ke Surabaya untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, jurusan Ahwal Al-Syakhsiyyah.
Bekalnya bukan harta, melainkan tekad yang kuat. Untuk bertahan hidup, ia tinggal di Masjid Al Huda Sidosermo, delapan tahun lamanya menjadi marbot, imam, muadzin, sekaligus guru TPQ.
“Kurang lebih 8 tahun saya jadi marbot, imam, muadzin, sekaligus mengajar TPQ,” ujarnya. Pengalaman itu ia jalani dengan penuh syukur. Baginya, masjid adalah rumah ilmu sekaligus tempat pembentukan karakter.
Di sela kesibukannya kuliah, Munahar memiliki kebiasaan unik: hampir setiap hari mengayuh sepeda ontel menuju perpustakaan kota. Aktivitas itu dilakukannya selama empat tahun penuh demi memperluas wawasan.
“Saya ingin menambah ilmu di luar kelas. Buku adalah jendela untuk membuka mimpi,” tuturnya.
Ketekunannya mengantarkan ia lulus sarjana dan kemudian melanjutkan magister di bidang Pendidikan Agama Islam di UM Surabaya. Masa-masa sulit itu menjadi bekal berharga ketika ia memasuki dunia kerja.
Karier Munahar dimulai dari bawah. Ia pernah menjadi guru ekstrakurikuler, petugas perpustakaan, hingga pemimpin redaksi media sekolah.
Tahun 2004–2011, ia menjadi guru di SD Muhammadiyah 6 Gadung, sebelum akhirnya dipercaya menjadi kepala sekolah pada 2017.
Di bawah kepemimpinannya, SD Musix tumbuh menjadi sekolah rujukan. Ia melahirkan berbagai inovasi, salah satunya program Qur’anic and International Insight yang menggabungkan pendidikan berbasis Al-Qur’an dengan wawasan global.
“Program ini untuk melahirkan generasi terbaik, berkelas, dan mendunia,” tegasnya.
Selain itu, ia menggagas program aplikasi Gen Q Smart, program pengontrol Ibadah siswa atau yang saat ini boleh disebut aplikasi pengontrol tujuh plus kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Ia juga menggagas Sekolah Qori’ Muhammadiyah Kota Surabaya, Students Care, Lazismu Kids, hingga menulis buku Pemimpin Sandal Miring, yang merefleksikan gaya kepemimpinannya: rendah hati, sederhana, namun penuh visi.
Kisah Munahar adalah cermin bahwa kesuksesan tidak lahir dari kemudahan. Dari anak seorang buruh tani, marbot masjid, hingga kini tiga kali dipercaya memimpin sekolah unggulan, ia membuktikan bahwa kerja keras, doa, dan ketekunan mampu menembus segala keterbatasan.
“Apapun keadaan kita, jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah berhenti berdoa. Karena dengan itu semua, Allah akan bukakan jalan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments