Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. Sholihin Fanani, menegaskan bahwa persoalan terbesar bangsa saat ini bukan terletak pada lemahnya ekonomi, melainkan pada hilangnya akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ceramahnya baru-baru ini, dia menyerukan agar umat Islam kembali meneladani Rasulullah saw dan menjadi muslim idaman, yakni sosok berakidah lurus, ibadahnya benar, dan akhlaknya mulia.
“Kita harus menjadi muslim yang dikagumi manusia dan bahkan dikagumi Allah. Muslim yang menjadi idaman, bukan hanya di lisan tapi juga dalam akhlak dan amalnya,” ujarnya seperti dikutip dari kanal Youtube Masjid Asy-Syifa’ RSML
Kiai Sholihin menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Segala sendi kehidupan manusia, baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa, telah diatur secara lengkap dalam ajaran Islam.
“Mulai dari pikiran, ucapan, tindakan, kebiasaan sampai karakter kita sudah diatur Islam. Tinggal mau belajar dan mengamalkan atau tidak,” tegasnya.
Dia menekankan, ajaran Islam tidak hanya mengatur persoalan spiritual, tetapi juga sosial, politik, dan budaya. Karenanya, umat Islam harus mampu menerjemahkan nilai-nilai agama itu ke dalam tindakan nyata di masyarakat.
Menurut Kiai Sholihin, akhlak menjadi penanda utama kualitas iman seseorang. Dia menegaskan, Rasulullah saw diutus bukan semata membawa syariat, tetapi untuk menyempurnakan akhlak manusia.
“Innama bu‘itstu liutammima makarimal akhlaq,” katanya mengutip sabda Nabi. “Akhlak adalah misi terbesar Rasulullah dan menjadi kunci kebahagiaan hidup manusia.”
Namun, lanjutnya, krisis yang dihadapi umat saat ini bukan kekurangan orang pintar atau orang beragama, tetapi kekurangan orang yang berakhlak mulia.
“Kita ini tidak kekurangan orang berilmu, tapi kekurangan orang jujur dan amanah,” ujar dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) ini.
Empat Akhlak Utama Rasulullah
Kiai Sholihin juga menguraikan empat sifat utama Rasulullah yang harus diteladani oleh umat Islam:
- Sidq (jujur). Hidup harus dibangun di atas kejujuran, karena ketidakjujuran adalah sumber kerusakan sosial.
- Amanah (dapat dipercaya). Dalam kehidupan modern, orang yang bisa dipercaya semakin langka.
- Tabligh (menyampaikan kebenaran). Muslim sejati harus berani berkata benar walau pahit.
- Fathonah (cerdas). Orang cerdas tahu apa yang harus dikerjakan dan tahu apa yang harus dihindari.
“Orang cerdas itu bukan yang banyak tahu, tapi yang tahu mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak. Dan hidupnya bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, KH. Sholihin menyampaikan bahwa muslim idaman memiliki tiga pilar utama:
Pertama, akidah yang lurus. Akidah harus murni tanpa campuran keyakinan lain. “Hanya kepada Allah kita menyembah, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan,” tegasnya.
Untuk menjaga akidah tetap kuat, ada tiga “pupuk” yang harus ditanam: ilmu, istikamah, dan ikhlas.
Kedua, ibadah yang berdampak. Ibadah yang baik harus memberi pengaruh terhadap perilaku sehari-hari.
“Salat yang baik akan mencegah perbuatan keji dan mungkar,” ujarnya. Ibadah yang diterima Allah memiliki tiga syarat: dilakukan karena perintah Allah, sesuai contoh Rasulullah, dan dilandasi keikhlasan.
Ketiga, akhlak yang mulia. Akhlak yang baik tercermin dari tiga hal: suka menolong, sabar, dan mudah memaafkan.
“Akhlak tertinggi adalah menjaga perasaan orang lain. Akhlak terendah adalah iri dan dengki,” kata Kiai Sholihin.
Dia mengingatkan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Dia menukil hadis Nabi, “Khairunnas anfa‘uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
Salah satu bentuk manfaat itu, katanya, adalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (watawaṣaw bil-ḥaqqi watawaṣaw biṣ-ṣabr), serta melakukan amar makruf nahi mungkar.
“Ini bukan hanya tugas ustaz atau kiai, tapi kewajiban semua muslim,” tegasnya.
Muslim idaman, lanjut Kiai Sholihin, adalah sosok yang menjadi teladan di berbagai lingkungan: keluarga, tempat kerja, masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita harus menjadi inspirasi, bukan pengikut arus. Jangan sampai justru terpengaruh oleh hal-hal negatif dari globalisasi,” katanya.
Menurutnya, di era digital saat ini, kemajuan teknologi membawa dampak besar terhadap moral dan perilaku manusia. “Internet bisa jadi ladang kebaikan, tapi juga sumber kerusakan. Kalau kita mencari keburukan, pasti ketemu. Maka carilah sisi positifnya,” nasihatnya.
Dalam bagian akhir ceramahnya, KH. Sholihin menyoroti fenomena krisis moral yang melanda masyarakat. Ia menyebut, banyak perilaku menyimpang yang muncul karena hilangnya nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita bukan sedang krisis ekonomi, tapi krisis moral. Agama hanya dipakai di masjid, begitu keluar seolah-olah ditinggalkan,” ujarnya prihatin.
Selain itu, ia juga memperingatkan bahaya sekularisasi, yaitu pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan sosial dan politik. “Kalau agama sudah tidak dijadikan pedoman hidup, manusia tak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati,” tegasnya.
Kiai Sholihin menutup ceramahnya dengan ajakan untuk terus berpegang pada iman dan amal saleh secara istikamah.
“Kita sering kali bukan tidak bisa berbuat baik, tapi tidak istikamah. Terlalu sering istirahat dalam kebaikan,” ujarnya disambut tawa jamaah.
“Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang semakin yakin, semakin rajin, dan semakin istiqamah dalam iman serta amal saleh,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments