Kajian Inspirasi Subuh yang digelar di Masjid Attaqwa Pogot Surabaya pada Rabu (15/4/2026) menghadirkan Ust. Muchamad Arifin dengan tema “Menjaga Hati di Era Perkembangan Media Sosial.”
Kajian ini menyoroti urgensi kekuatan hati sebagai benteng utama dalam menghadapi derasnya arus informasi digital yang tak terbendung.
Dalam penyampaiannya, ditegaskan bahwa perkembangan informasi hari ini telah melampaui batas ruang dan waktu. Setiap individu terus-menerus dibanjiri konten melalui pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran. Dalam kondisi ini, hanya hati yang beriman yang mampu menjadi pengendali.
Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur’an, QS. An-Nahl ayat 78:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh perangkat informasi dalam diri manusia—indra dan akal—harus diarahkan oleh hati yang bersyukur dan beriman, bukan dibiarkan liar tanpa kendali.
Lebih lanjut, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan mendalam tentang posisi hati dalam kehidupan manusia. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa hati adalah pusat kendali moral dan spiritual. Ketika hati terjaga, maka sikap terhadap informasi pun akan bijak. Sebaliknya, jika hati rusak, maka informasi yang salah akan mudah dipercaya bahkan disebarkan.
Dalam konteks bermedia sosial, Allah juga memberikan peringatan tegas dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
Namun, tantangan era digital saat ini semakin kompleks. Jika dahulu berita bohong identik dengan individu tertentu, kini hoaks justru banyak datang melalui gadget yang setiap saat berada di tangan manusia.
Selain itu, Allah juga mengingatkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap informasi yang diterima dan disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga kehati-hatian menjadi sebuah keharusan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Hadits ini sangat relevan dengan fenomena media sosial saat ini, di mana banyak orang dengan mudah membagikan informasi tanpa verifikasi.
Kajian ini menegaskan bahwa di tengah derasnya arus informasi, hati yang bersih dan beriman harus menjadi filter utama. Tanpa itu, manusia akan mudah terombang-ambing oleh hoaks, provokasi, dan informasi yang menyesatkan.
Sebagai penutup, jamaah diajak untuk senantiasa menjaga hati dengan memperkuat iman, memperbanyak dzikir, serta bersikap selektif terhadap setiap informasi.
“Di era ini, bukan sekadar cerdas yang dibutuhkan, tetapi hati yang jernih. Mari kita jaga hati kita agar tidak terhanyut oleh derasnya arus hoaks, dan tetap menjadi hamba Allah yang bijak dalam menerima dan menyebarkan kebenaran,” pungkas beliau. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments