Indonesia mendapat kado Lebaran yang ciamik melalui karya terbaru Ryan Ardhiandy. Sutradara film Jumbo ini mengadaptasi novel karya Reda Gaudiamo berjudul Na Willa, yang mengisahkan keseharian anak-anak di Gang Krembangan, Surabaya, pada tahun 1968.
Tokoh utama, Na Willa, digambarkan sebagai anak yang aktif, penuh rasa ingin tahu, dan kaya imajinasi. Dengan nuansa dunia anak-anak yang ceria dan penuh warna, Ryan berhasil menghadirkan karya sastra tersebut menjadi tontonan yang dapat dinikmati berbagai kalangan.
Film ini menampilkan Surabaya pada masa pascakemerdekaan, khususnya era 1950–1960-an, melalui sudut pandang seorang anak berusia enam tahun. Namun, tulisan ini tidak berfokus pada ulasan film semata, melainkan pada gambaran kondisi sosial Indonesia di masa awal Orde Baru.
Sebagai salah satu pusat perdagangan dan pelayaran sejak masa Hindia Belanda, Surabaya dipenuhi bangunan yang sarat budaya. Pengaruh Eropa, Arab, Tionghoa, dan Jawa berpadu dalam kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan.
Dalam film Na Willa, kawasan Pasar Kapasan dan Kembang Jepun—yang menjadi pusat perekonomian di Surabaya bagian utara—digambarkan ramai dengan aktivitas perdagangan. Beragam etnis berbaur di satu ruang, meski kawasan ini didominasi oleh pertokoan milik etnis Tionghoa, sebagaimana karakteristik kawasan Pecinan pada umumnya.
Kehidupan Na Willa bersama Farida, Bud, dan Dul juga digambarkan di sebuah gang yang berdekatan dengan jalur kereta api. Hal ini selaras dengan kondisi wilayah Krembangan yang memang dilintasi rel kereta, termasuk jalur yang melintasi kawasan Tugu Pahlawan.
Dari sisi sosial, film ini menampilkan kehidupan masyarakat yang menjunjung toleransi di lingkungan tempat tinggal Na Willa. Namun, suasana berbeda muncul ketika cerita memasuki kehidupan sekolah. Di sinilah tergambar kondisi Indonesia pada masa akhir Demokrasi Terpimpin hingga awal Orde Baru, terutama terkait isu rasial.
Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa menjadi salah satu sorotan, sejalan dengan tingginya sentimen masyarakat saat itu. Kondisi tersebut diperkuat oleh kebijakan seperti Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tiongkok di Indonesia.
Melalui novelnya, Reda Gaudiamo berani mengangkat isu tersebut. Meski bukan menjadi fokus utama, penggambaran ini cukup merefleksikan keprihatinan terhadap kondisi sosial masyarakat pada masa itu. Ryan Ardhiandy pun berhasil menerjemahkan kegelisahan tersebut ke dalam film, sehingga mampu menggugah empati penonton terhadap tokoh Na Willa.
Kini, Na Willa dapat disaksikan di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Film ini menjadi kado Lebaran yang hangat, terutama bagi anak-anak, dengan pesan tentang kejujuran, keberanian, dan arti persahabatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments