Realitas dunia hari ini menunjukkan ironi yang menyayat hati. Di satu sisi, negeri-negeri di kawasan Timur Tengah dilanda konflik berkepanjangan, penderitaan, dan kehilangan nyawa. Namun di sisi lain, sebagian umat Islam (termasuk kita) justru hidup dalam kenyamanan, bahkan terkadang larut dalam kelalaian.
Fakta berbicara jelas. Konflik di Gaza, Suriah, Yaman, hingga Lebanon masih terus berlangsung. Dalam krisis Timur Tengah yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, jumlah korban jiwa telah mencapai puluhan ribu. Bahkan di Gaza saja, korban tewas telah melampaui 75.000 jiwa . Ini bukan sekadar angka, tetapi manusia; anak-anak, perempuan, dan keluarga yang kehilangan segalanya.
Belum lagi konflik yang semakin meluas. Tahun 2026 menyaksikan eskalasi perang antara Iran dan Israel-Amerika, yang bahkan melibatkan serangan lintas negara dan ancaman perang multi-front .
Kelompok Houthi di Yaman pun kembali meluncurkan serangan sebagai bagian dari konflik regional yang semakin kompleks . Sementara itu, jalur perdagangan global terganggu akibat serangan di Laut Merah, menandakan bahwa konflik ini bukan lagi lokal, tetapi berdampak global .
Semua ini menunjukkan satu hal: dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, sedang tidak baik-baik saja.
Namun pertanyaannya, di mana posisi kita?
Dalam ajaran Islam, umat ini diibaratkan seperti satu tubuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)
Hadis ini bukan sekadar retorika, tetapi panggilan iman. Ketika saudara kita di Palestina menangis, seharusnya hati kita ikut pedih. Ketika negeri-negeri Islam dilanda perang, seharusnya kita tidak bisa merasa sepenuhnya tenang.
Al-Qur’an juga menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Ayat ini meneguhkan bahwa ukhuwah Islamiyah bukan batas geografis, melainkan ikatan iman. Maka penderitaan mereka adalah tanggung jawab moral kita.
Sayangnya, realitas menunjukkan sebagian dari kita justru sibuk dengan urusan duniawi yang melalaikan. Media sosial dipenuhi hiburan, gaya hidup, dan perdebatan yang tidak produktif, sementara penderitaan umat hanya menjadi sekilas informasi yang segera dilupakan.
Bukan berarti kita harus hidup dalam kesedihan tanpa akhir. Islam tidak melarang menikmati nikmat hidup. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika kenikmatan itu membuat kita lupa, tidak peduli, bahkan apatis terhadap kondisi umat.
Setidaknya ada tiga sikap yang seharusnya kita bangun.
- Pertama, kepedulian hati; merasakan bahwa ini adalah bagian dari diri kita.
- Kedua, doa: sebagai senjata orang beriman yang tidak boleh diremehkan.
- Ketiga, kontribusi nyata sesuai kemampuan, baik melalui edukasi, donasi, maupun menyebarkan kesadaran.
Kita mungkin tidak berada di medan konflik, tetapi bukan berarti kita bebas dari tanggung jawab. Justru kenyamanan yang kita rasakan hari ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Jika hari ini kita masih bisa tertawa tanpa memikirkan penderitaan saudara kita, maka yang perlu dipertanyakan bukan keadaan dunia, tetapi kepekaan hati kita.
Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi bagian dari solusi. Karena umat ini tidak akan kuat jika sebagian merasa cukup dengan kenyamanan, sementara yang lain berjuang dalam penderitaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments