Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nuzulul Quran di Era Digital: Menjawab Disrupsi, Hoaks, dan Krisis Akhlak

Iklan Landscape Smamda
Nuzulul Quran di Era Digital: Menjawab Disrupsi, Hoaks, dan Krisis Akhlak
Ridwan Manan. Foto: Dok/Pri
Oleh : Ridwan Manan Ketua Takmir Masjid 'Ramah Musafir" Ar Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo, Kepala SMA Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo
pwmu.co -

Nuzulul Quran peristiwa turunnya Al-Qur’an pada malam 17 Ramadan bukan hanya sekadar sejarah spiritual belaka. Tetapi titik awal berubahan besar dari masyarakat tidak beradab (jahiliah) menuju peradaban dengan ilmu dan akhlak.

Perubahan teknologi yang cepat menyebabkan terjadinya perubahan besar terhadap cara berfikir, berinteraksi dan mengambil keputusan dilakukan secara instan.

Dunia hari ini dikuasai kecerdasan buatan, interaksi global, big data terkadang derasnya informasi yang kita terima tanpa verifikasi, mudah menyebarkan berita sebelum memastikan validitasnya.

Hoaks, fitnah, dan provokasi sering kali lebih cepat viral daripada kebenaran. Lisan dengan mudah terucap tanpa kontrol, jari jemari menulis tanpa etika di kolom komentar sehingga dunia hari ini mengadapi bentuk “jahiliah baru” disrupsi digital.

Wahyu agung yang diturunkan Allah pertama kali di Gua Hira ” iqra” termaktub dalam surat Al Alaq 1-5 memberikan pelajaran sangat berharga tentang pentingnya ilmu dan membuka kesadaran jati diri manusia.

Banjir Informasi dan Hoaks

Informasi menyebar begitu cepat, berita palsu dan ujaran kebencian tanpa batas, mudah memprovokasi dan diprovokasi. Tanpa klarifikasi (tabayyun).

Al-Qur’an mengajarkan setiap berita hendaknya disaring terlebih dahulu validitasnya. Gosip dan `aib serta `aurat (kehormatan) orang lain sebagai komoditas untuk meraup keuntungan dunia. Bahkan untuk tujuan popularitas ada yang menyebarkan gosip dan fitnah yang menyangkut diri dan keluarganya.

Firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Hujarat: 6)

Maraknya Kebohongan Di Era Digital

Kebohongan di era digital dianggap hal yang biasa. Sebagian masyarakat beranggapan kebohongan sebagai bagian strategi sosial untuk meraih keberhasilan, menghindari konflik. Fenomena ini semakin jelas ketika informasi dengan mudah dimodifikasi dan sisebarkan dalam waktu singkat.

Masyarakat Indonesia termasuk diantara sepuluh negara yang sangat relegius di dunia. Tetapi sangat kontradiktif dengan perilaku warganya.

Riset yang dilakukan oleh Global Fraud Index 2025 , Indonesia tercatat sebagai negara dengan perlindungan penipuan terendah sepanjang tahun 2025. Indonesia menempati urutan 111 dari 112 negara yang diteliti. Jadi Indonesia menempati urutan ke 2 negara tingkat kebohongan tertinggi di dunia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Allah memerintahkan berkata dan berbuat jujur. Firman Allah

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوۡلُوۡا قَوۡلًا سَدِيۡدًا ۙ‏

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al Ahzab: 70)

Perintah berkomunitas dengan orang yang jujur

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)

Akhlak Al Quran

Di era revolusi industri yang memasuki fase 5.0 pentingnya membuka kembali makna Nuzulul Quran. Al-Qur’an bukan sekadar teks formal turun dari langit hanya sekadar dibaca tetapi harus menjadi petunjuk hidup, penentu arah kehidupan bagi umat Islam.

Wahyu Allah yang membimbing manusia digital agar berakar pada nilai ilahiyah dan menjadi manusia bermartabat di era peradaban digital.

Ketika ‘Aisyah ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam tentang ahlak Rasulullah saw jawabnya: “Bukankah engkau mrmbaca Al-Qur’an?. Aku menjawab”Ya”. ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya akhlak nabi Saw adalah Al-Quran.” (HR. Muslim).

Selama 23 tahun Al-Qur’an telah mampu menjawab tantangan zaman. Pola hidup jahiliah ditandai dengan rusaknya mental kemanusiaan berubah menjadi menusia berperadaban terbaik, generasi berahlak qurani dalam petujuk wahyu Allah.

Oleh karena itu, Nuzulul Quran hendaknya tidak berhenti pada seremonial belaka, tetapi menjadi momentum penting mendekatkan diri pada Al-Qur’an dengan membaca, memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu