Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perbedaan Hisab dan Rukyatul Hilal, Khutbah Idul Fitri Ajak Umat Perkuat Moderasi Beragama

Iklan Landscape Smamda
Perbedaan Hisab dan Rukyatul Hilal, Khutbah Idul Fitri Ajak Umat Perkuat Moderasi Beragama
Foto: (tengah) Ustadz Dr. H. Suli Da’im, SM., S.Pd., MM, Komisi E DPRD Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua MPID PWM Jatim. PWMU.CO
pwmu.co -

Setiap tahun, perbedaan dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri senantiasa menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Islam Indonesia.

Dalam khutbah Sholat Idul Fitri 1447 H yang digelar khidmat pagi ini, tema tersebut kembali diangkat dengan pesan utama yang tegas, yakni perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah tidak boleh menjadi sumber perpecahan, melainkan harus menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam.

Dua metode yang selama ini digunakan umat Islam dalam menentukan awal Ramadan maupun Idul Fitri adalah hisab atau perhitungan astronomis dan rukyat atau pengamatan hilal secara langsung.

Keduanya memiliki dasar hukum yang sah dalam Islam dan telah lama menjadi bagian dari tradisi keilmuan umat Muslim di seluruh dunia.

Hisab dan Rukyat Sama-Sama Memiliki Dasar Syar’i

Metode rukyat merujuk pada hadis Rasulullah SAW:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang dari melihatnya maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”

Hadis tersebut menegaskan bahwa pengamatan hilal secara langsung merupakan salah satu landasan utama dalam penentuan ibadah puasa.

Di sisi lain, metode hisab berlandaskan pada firman Allah dalam Q.S. Yunus ayat 5:

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui.”

Ayat ini menjadi dasar ilmiah sekaligus syar’i dalam penetapan tanggal Hijriah. Hisab secara harfiah berarti perhitungan yang pasti. Melalui ilmu falak atau astronomi Islam, para ilmuwan Muslim telah sejak lama mengembangkan kemampuan untuk menghitung posisi bulan dan matahari secara akurat.

Keteraturan alam semesta sendiri menjadi bukti kebesaran Allah. Matahari dijadikan penentu kalender Masehi, sedangkan bulan menjadi acuan kalender Hijriah, sekaligus menjadi patokan dalam penentuan waktu salat dan arah kiblat.

Perbedaan Ijtihad Harus Menguatkan Moderasi Beragama

Kedua metode ini, meskipun berbeda dalam pendekatan, sejatinya lahir dari semangat yang sama, yakni ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Para ulama dari berbagai ormas Islam di Indonesia pun telah lama berdialog dan berijtihad dalam menyikapi perbedaan ini dengan penuh kedewasaan dan kearifan.

Di tengah arus globalisasi, muncul pula wacana penyatuan kalender Islam secara internasional sebagai upaya memudahkan koordinasi umat Muslim di seluruh dunia. Gagasan ini bukan dimaksudkan untuk memperkeruh suasana atau memenangkan salah satu pihak, melainkan sebagai ikhtiar bersama demi persatuan dan kemudahan umat secara global.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin selalu membuka ruang dialog dan ijtihad demi kemaslahatan bersama.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Khutbah Ajak Umat Perkuat Ukhuwah Islamiyah

Pesan khutbah ini mengajak seluruh umat Islam untuk mengamalkan nilai-nilai persaudaraan sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Perbedaan dalam masalah ijtihad, termasuk dalam hal penentuan awal bulan, hendaknya disikapi dengan lapang dada, saling menghormati, dan tidak saling menyalahkan.

Khutbah ditutup dengan seruan untuk berpegang teguh pada tali Allah dan menjauhi perpecahan, sebagaimana perintah dalam Q.S. Ali-Imran ayat 103:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu masa jahiliah bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.”

Persatuan umat bukan berarti menyeragamkan seluruh perbedaan, melainkan memperkuat ukhuwah Islamiyah, yaitu ikatan persaudaraan yang dilandasi iman, saling memahami, dan semangat untuk menjadikan Islam sebagai agama yang moderat, damai, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Nasihat khutbah tersebut disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Suli Da’im, SM., S.Pd., MM, selaku Komisi E DPRD Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua MPID PWM Jatim.

Salat Id Bersama Jadi Inovasi Dakwah Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan Punto Cahyo Al Adin, M.Pd., C.ITQ dari PRM Cemengbakalan menyampaikan bahwa sebagai inovasi dakwah, pihaknya sengaja berkolaborasi dengan PRM sekitar untuk menggelar salat Id bersama.

“Kami menyadari perlunya membangun jalan dakwah melalui inovasi dan relasi yang dibangun untuk berjuang bersama di Muhammadiyah dan mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran sebagai wujud lii’lai kalimatillaah,” ujar Punto Cahyo yang juga Ketua Majelis Pemberdayaan PCM Sidoarjo itu.

Dalam kesempatan tersebut, Karmujiono selaku Ketua PRM Cemengbakalan juga menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak, mulai dari PRM Sarirogo dan PRM Sumput, sehingga salat Id berlangsung dengan lancar.

“Tentunya kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak, terutama dari Dankikav 3/TSC Kapten Kav Reza Eko Nugroho, S.T. Han atas fasilitas lokasi sehingga salat Id bisa berlangsung,” ujarnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 20/03/2026 12:58
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡