Muhammadiyah bukan gerakan anti-mazhab, melainkan gerakan yang menghormati seluruh madrasah fikih sambil kembali kepada dalil yang terkuat.
Penegasan ini disampaikan Prof. Achmad Zuhdi, DH, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, dalam Pengajian Insyirah yang digelar di Masjid Al Khoory Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Kamis (27/11/2025).
“Banyak yang mengira Muhammadiyah tidak bermazhab. Itu keliru. Muhammadiyah menghormati semua mazhab. Tarjih hadir untuk memilih dalil yang paling kuat, bukan untuk menegasikan mazhab,” katanya.
Ustaz Zuhdi hadir sebagai pemateri dengan membawa pesan penting tentang pemurnian ajaran Islam serta sikap moderat Muhammadiyah dalam memahami mazhab.
Dia kemudian mengulas perjalanan keputusan Majelis Tarjih terkait pemajangan foto Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Ustaz Zuhdi menyebut dua momen sejarah. Pertama, Munas Tarjih 1964 yang menetapkan keharaman memajang foto Kiai Dahlan guna mencegah unsur pengkultusan.
Kedua, Munas Tarjih Sidoarjo 1968 yang meluruskan keputusan sebelumnya dengan memperbolehkan pemasangan foto tersebut selama tidak berlebihan.
“Ketetapan tarjih itu bukan untuk menyalahkan pihak lain. Tidak ada ruang untuk fanatisme. Tarjih memberi panduan ibadah yang berdalil dan mencerahkan,” jelasnya.
Makna Wudu
Memasuki materi fikih, Ustaz Zuhdi mengajak jamaah memahami bahwa wudu tidak sekadar syarat sah salat, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam.
“Kenapa harus wudu sebelum salat? Karena wudu itu bersih, indah, dan bercahaya. Semakin sering seseorang berwudhu, semakin ia membersihkan lahir dan batinnya,” tuturnya.
Ustaz menekankan bahwa wudu tidak boleh dilakukan sembarangan. Tata cara wudu harus tertib, benar, dan sesuai tuntunan Nabi sebagaimana dijelaskan dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah.
“Wudu itu harus benar-benar dilakukan dengan tertib. Ia bukan rutinitas mekanis, tetapi ibadah yang memancarkan nilai spiritual,” tambahnya.
Pengajian berlangsung khidmat selama lebih dari satu jam, diikuti dialog singkat antara jamaah dan pemateri.
Takmir Masjid Al Khoory Dr. Abdul Wahab menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk menguatkan literasi keislaman yang moderat, berkemajuan, dan berdalil.
“Kami ingin masjid menjadi pusat pencerahan. Pengajian seperti ini penting untuk membangun pemahaman agama yang jernih, dewasa, dan berbasis dalil. Mahasiswa, dosen, maupun masyarakat bisa memperoleh panduan keislaman yang autentik dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama serta pengumuman bahwa seri berikutnya dari Pengajian Insyirah akan kembali menghadirkan pembicara kompeten untuk memperkaya pemahaman keagamaan warga kampus dan masyarakat.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments