Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Puasa, Obat Penyakit Hati: Membersihkan Qalbu dari Riya, Hasad, dan Takabur

Iklan Landscape Smamda
Puasa, Obat Penyakit Hati: Membersihkan Qalbu dari Riya, Hasad, dan Takabur
Foto: Freepik
Oleh : Muhsin MK Pegiat Sosial
pwmu.co -

Qalbu atau hati yang ada dalam diri manusia berupa segumpal daging. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik (sehat) maka baik (sehat)-lah seluruh tubuhnya. Jika se gumpal daging itu rusak (sakit), maka rusak (sakit)-lah seluruh tubuhnya. Daging itu adalah qalbu (hati)”.(HR. Muslim).

Disinilah urgensi memelihara diri, (QS . At-Tahrim: 6), khususnya hati manusia dari berbagai jenis penyakit yang berbahaya dan merusak hidup dan kehidupan manusia.

Penyakit hati beraneka ragam bentuknya. Semuanya itu perlu dibersihkan dan diobati agar tidak menjadi semakin berat, sehingga sangat sulit untuk di sembuhkan hingga hari Kiamat datang.

Saat Kiamat, manusia tidak bisa lagi melakukan ikhtiar membersihkan hati yang sakit, termasuk dalam mengobati dan menyembuhkannya.

Apalagi kehidupan modern dan globalisasi di zaman kemajuan ilmu dan teknologi (IPTEK) dewasa ini. Berbagai penyakit hati semakin meningkat dan bertambah jenisnya.

Egoistis, masa bodoh, sok pintar, takabur, ujub, riya, koruptif dan sebagainya. Selain itupun gila ber- medsos yang tidak pantas di publikasikan semakin semarak.

Apalagi ucapan buruk, celaan, ejekan dan hal hal negatif lainnya semakin berkembang. Semua ini menunjukkan berbagai penyakit hati yang melekat pada diri manusia.

Penyebab penyakit hati pada manusia tidak terlepas dari ulah dan perbuatannya sendiri. Salah satunya orang yang tergolong munafik, pura pura beriman padahal mereka tidak beriman.

Orang- orang seperti ini yang menjadikan diri mereka diberikan penyakit dalam hatinya. Jika penyakit hati ini dibiarkan, maka akan bertambah lagi penyakitnya. Mereka ini cenderung suka berdusta atau berbohong. (QS. Al Baqarah:10).

Islam memiliki obat dan pengobatan yang canggih dalam menyembuhkan penyakit hati. Islam sebagai agama dari Allah memiliki konsep yang benar, jelas, mudah, konkrit, otentik dan kapan saja dapat dan untuk digunakan dan dipraktikkan secara langsung.

Tidak cuma bersifat teoritis tapi juga praktis, tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Itupun bisa dilakukan oleh diri sendiri secara individual atau berjamaah.

Beberapa obat penyakit hati disebutkan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai berikut. Pertama, mengobati dan menyembuhkannya dengan menegakkan ibadah salat dan dzikrullah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Salat untuk mengingat Ku (Dzikrullah). (QS. Thaha:14). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (Dzikrullah) hati menjadi tenteram”. (QS. Ra’d:28)

Selain itu dalam firman-Nya: “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (QS. Al-Angkabut:45). Ini maknanya dengan ibadah salat dan dzikrullah, membuat hati menjadi sehat, tenang, tenteram dan damai.

Selain itu hatinya terhindar dari berbagai dosa akibat perbuatan keji dan mungkar yang jelas -jelas menimbulkan beragam penyakit hati pelakunya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua, ibadah puasa. Berpuasa juga dapat mengobati dan menyembuhkan penyakit hati. Penyakit hati yang dapat disembuhkan dengan puasa antara lain: Sifat bakhil bisa berubah menjadi sifat pemurah.

Di bulan Ramadan (puasa), mereka yang memiliki harta benda tidak segan-segan memperbanyak bersedekah dan berinfak, termasuk berzakat dan fitrah. Apalagi mereka menyadari bahwa di bulan puasa bahwa rezeki mereka akan di lipat gandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apalagi hal ini disebutkan dalam sebuah hadis: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. adalah orang yang paling pemurah dengan kebaikan. Dan beliau lebih pemurah lagi pada bulan Ramadan ketika ditemui oleh Jibril. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadan untuk membacakan Al-Qur’an kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditemui oleh Jibril lebih pemurah daripada angin yang berembus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu ghibah, gosip dan suka gunjing, ini juga termasuk penyakit hati dan berbahaya. Penyakit ini bisa sembuh dengan melaksanakan ibadah puasa.

Sebab dengan berpuasa, pengamalnya akan berusaha bukan hanya menahan haus dan lapar saja, tetapi juga berusaha menahan panca indera, termasuk mulutnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Puasa adalah perisai selama seorang yang berpuasa tidak merusaknya”. Para Sahabat bertanya dengan apa seseorang merusak puasanya? Beliau menjawab, “dengan kebohongan atau ghibah” (HR. Tabrani).

Berpuasa termasuk juga mengendalikan ucapan yang buruk, mencela, menghina, menghujat, menghardik, mengejek, mengumpat, mengungkit- ungkit, memarahi, membenci, menghasut, memfitnah, mencari-cari keburukan orang dan lain lain. Semua juga termasuk penyakit hati.

Hal ini dapat diobati dan disembuhkan dengan ibadah puasa, sesuai sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Puasa adalah perisai. Maka jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata keji dan jangan berteriak- teriak. Apabila ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).

Berzakat juga dapat membantu dalam mengobati dan menyembuhkan penyakit hati. Dia ntaranya adalah penyakit bakhil (kikir dan pelit). (QS. At- Taubah:103, Muhammad:38).

Termasuk juga dalam mengobati dan menyembuhkan penyakit hati yang lain, seperti serakah (tamak). suka menimbun dan mengumpulkan harta benda (QS. Al-Humazah, 2-4), hobi monopoli (menumpuk dan menyimpan) uang, emas, perak tanpa disalurkan kepada orang banyak. (QS. Al-Hasyr:7, At-Taubah: 34-35).

Ibadah haji termasuk berpengaruh besar dalam mengobati dan menyembuhkan berbagai penyakit hati. (QS . Al-Baqarah:197). Seperti penyakit syirik (mempersekutukan Allah), kufur (ingkar), (QS. At Taubah:3). nifak (hipokrit, plin-plan), takabur (sombong), ujub (ta’azub, bangga), dusta (bohong), suudzon (buruk sangka), benci, dendam, bermusuhan, fitnah, namimah (adu domba), hasad’ (iri, dengki), khianat, ingkar janji, sumpah-serapah, tipu-muslihat, tinggi-hati, bakhil (kikir.pelit), riya’ (ingin dilihat dan dipuji), sum’ah (ingin didengar dan dipuji), gibah (gunjing), nafsu amarah (emosional), fasik (berbuat dosa dan maksiat) dan sebagainya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda, ‘Siapa saja yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, niscaya ia pulang (suci) seperti hari dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa dan penyakit hati).” (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, At- Tirmidzi, dan Ibnu Majah). (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu