Orang tua merindukan kehadiran fisik anaknya untuk merayakan Lebaran bersama, bukan hanya sekadar kabar atau uang kiriman. Kehadiran fisik anak memberikan rasa aman, dihargai, dan bahagia bagi orang tua, yang tidak dapat disamakan dengan transfer uang sebesar apapun.
Bagi lansia atau orang tua, momen lebaran adalah saat di mana mereka ingin merasakan kehangatan keluarga secara langsung, seperti bersalaman, berpelukan, dan bercengkrama, bukan hanya sekadar mendengar suara lewat telepon, tetapi kenangan semasa hidup bersama ketika anak-anak masih berkumpul sebelum pada menikah, kenangan itu suit terulang kecuali di momen Lebaran ini.
Mudik bukan sekadar pulang kampung, tetapi ritual pertemuan untuk mempererat tali silaturahmi yang jarang terjadi selama setahun bekerja di perantauan.
Uang kiriman atau baju baru memang membantu, namun tidak bisa menggantikan kehadiran anak yang dirindukan untuk merayakan hari kemenangan bersama. Jangan sampai baru pulang hanya bertemu dengan keranda. Naudzubillahi min dzalik.
Ada kesadaran bahwa usia orang tua terbatas, sehingga pertemuan fisik saat Lebaran menjadi sangat berharga sebelum kesempatan itu hilang.
Semua orang tua pasti ingin dekat dengan anak-anaknya, terutama di masa tua dan masa sepuh mereka. Setiap orang tua, terutama ibu pasti sangat ingin berada bersama anak-anak yang sangat ia cintai.
Tidak jarang sang ibu meminta anaknya agar tidak tinggal jauh darinya atau agar tidak tinggal di luar kota, atau sang ibu meminta anaknya agar segera pulang ke kampung masa kecilnya untuk menemani orang tua dan ibunya.
erinduan orang tua, terutama ibu, untuk dekat dengan anaknya di masa tua adalah hal yang wajar karena ikatan kasih sayang yang mendalam, sering kali memicu keinginan agar anak pulang atau tidak tinggal berjauhan.
Berbakti kepada orang tua (birrul waalidain) adalah perintah agama yang utama, bahkan kedudukannya tinggi di sisi Allah, sehingga menjaga mereka di usia lanjut merupakan prioritas.
Allah memerintahkan kepada kita dalam Al-Quran agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bagaimana pengorbanan dan perjuangan ibu untuk anaknya. Beliau menafsirkan,
وقال هاهنا {ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن} . قال جاهد: مشقة وهن الولد. وقال قتادة: جهدا على جهد. وقال عطاء الخراساني: ضعفا على ضعف
“Mujahid berkata bahwa yang dimaksud [“وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ”] adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atha’ Al Kharasani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 6/336)
Demikian juga firman Allah,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaaf : 15)
Surah Al-Ahqaf ayat 15 menegaskan perintah Allah untuk berbakti kepada orang tua, terutama ibu yang mengandung dan melahirkan dengan susah payah. Ayat ini menyoroti masa kandungan hingga menyapih selama 30 bulan, serta menganjurkan doa syukur, amal saleh, dan permohonan kebaikan bagi keturunan saat mencapai usia kematangan 40 tahun.
Ayat ini juga sering dikaitkan dengan kisah sahabat, salah satunya Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang berdoa dengan doa di ayat ini saat mencapai usia 40 tahun, kemudian Allah mengabulkannya dengan keislaman seluruh keluarganya.
Saat manusia mencapai usia 40 tahun, ia dianggap telah mencapai puncak kedewasaan akal dan fisik. Di usia ini, seseorang didorong untuk lebih fokus beribadah, bertaubat, dan memperbaharui komitmen kepada Allah.
Kasih sayang ibu tidak lekang oleh jarak dan waktu. Sekiranya sang ibu mengatakan:
“Ibu sih terserah kamu nak, jika di kota A kamu lebih sukses, ibu hanya bisa mendoakan kamu dari kampung masa kecilmu ini”
Ketauhilah, ketika engkau memilih bertahan di kota A, hati ibumu sangat kecewa sekali tetapi ia berusaha menguatkan diri dan tersenyum di depan mu dan tentunya selalu mendoakanmu, buah hati tercinta.
Meskipun kita sukses di kota A atau merasa sangat senang dan nyaman tinggal di kota A, jika engkau ada kesempatan tinggal bersama orang tua khususnya ibumu, maka pulang lah, temani ibumu dan berbaktilah.
Mereka lah yang menjadikan engkau suskes dan berhasil dengan izin Allah. Atau sertidaknya pulang lah di momen lebaran ini dengan membawa kabar dan buah tangan yang tentunya akan membahagiakan kedua orang tua kita.
Berbaktilah kepada kedua orang tua kita, terutama ibu, karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang paling mudah memasukkan seseorang ke surga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Ahmad, hasan)
Maksud pintu yang paling tengah adalah pintu yang paling mudah dimasuki. Perhatikan jika ada tembok di depan kita, lalu ada pintu di tengah, di samping pinggir kanan dan kiri, tentu secara psikologi kita akan pilih yang tengah karena mudah untuk memasukinya.
Mengapa mudah berbakti pada orang tua, terurama ketika mereka sudah tua? Karena orang yang sudah tua sudak tidak menginginkan “gemerlapnya dunia” lagi.
Mereka sudah tidak minta pada anaknya makanan-makanan lezat karena lidah mereka mungkin sudah kaku. Mereka sudah tidak minta pada anaknya jalan-jalan yang jauh karena kaki sudah mulai rapuh. Mereka sudah tidak minta kepada anaknya perhiasan dunia karena mata mulai merabun
Yang mereka inginkan hanyalah engkau menemani mereka, mengajak ngobrol, membawa cucu-cucu mereka untuk bermain dengan mereka. Suatu perkara yang cukup mudah dengan balasan surga Allah yang paling utama.
Karenanya celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya sudah tua dan sepuh tetapi tidak masuk surga, karena tidak memanfaatkan amalan yang cukup mudah yaitu berbakti kepada kedua orang tua kemudian masuk surga. Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” (HR. Muslim 2551)
Ingatlah di masa kecil kita sangat sering membuat susah orang tua terutama ibu kita, bersabarlah ketika berbakti kepada keduanya.
Mengingat masa kecil yang sering menyulitkan ibu adalah pengingat untuk bersabar dan berbakti. Berbakti kepada orang tua, terutama ibu, adalah kewajiban utama yang menjadi jalan termudah menuju surga. Bersabar atas perubahan perilaku orang tua di usia senja adalah bentuk ibadah besar yang mendatangkan ridha Allah SWT.
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِم
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ashr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keridhaan Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi, no. 1899)
Hadits tersebut menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua dan mencari ridha keduanya, dan membuat mereka senang (bahagia).
Karena rida dan kecintaan Allah itu datang karena keridhaan orang tua, murka Allah itu datang karena murka orang tua. Siapa yang berbuat baik pada orang tua, maka ia telah menaati Allah. Siapa yang berbuat jelek pada orang tua, berarti ia telah membuat Allah murka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments