Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rezeki, Hukum Allah, dan Nilai Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Rezeki, Hukum Allah, dan Nilai Kehidupan
KH. Najih Ihsan. Foto: DOK/PWMU.CO
pwmu.co -

Rezeki tidak akan tertukar, hukum Allah berlaku di setiap sendi kehidupan, dan kesabaran adalah kunci keberkahan.

Begitulah pesan utama KH Najih Ihsan dalam ceramahnya yang mengajak umat untuk kembali memahami makna hidup sebagai bagian dari ketentuan Allah.

Dengan gaya khas yang hangat, Kiai Najih menegaskan bahwa keberhasilan manusia bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari seberapa dalam ia mensyukuri dan menegakkan hukum Allah dalam hidupnya.

“Allahu Akbar… manusia itu hidup di dunia hanya sebentar. Tapi selama di dunia, setiap langkahnya punya hukum dan pertanggungjawaban,” ujarnya, seperti dikutip dari kanal Youtube YAHS TV.

Menurut Kiai Najih, manusia sering kali lupa bahwa segala sesuatu di alam semesta sudah diatur oleh Allah SWT. Air yang mengalir, udara yang dihirup, hingga rezeki yang didapatkan setiap hari, semuanya merupakan bagian dari ketentuan Allah.

“Subhanallah, tidak ada satu pun di dunia ini yang terjadi tanpa izin Allah. Bahkan air yang mengalir itu pun ada hukumnya. Kita ini cuma menumpang hidup di bumi-Nya,” tegasnya.

Dalam bagian lain ceramahnya, KH Najih menyinggung soal rezeki. Dia mengingatkan bahwa manusia tidak perlu iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Menurutnya, setiap orang sudah memiliki bagian masing-masing, dan tidak ada rezeki yang akan tertukar.

“Kalau sudah jadi rezekimu, tidak akan jatuh ke orang lain. Tapi kalau bukan rezekimu, sudah kamu kejar pun tetap bukan milikmu,” ujarnya.

Kiai Najih menambahkan, rezeki tidak selalu berbentuk harta. Kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, dan teman yang baik juga merupakan bagian dari rezeki yang sering dilupakan manusia.

“Banyak orang punya uang, tapi tidak punya rasa bahagia. Itulah tanda rezeki tidak hanya soal uang, tapi juga keberkahan,” tuturnya.

Tentang Hukum dan Kehidupan Sosial

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kiai Najih kemudian menyinggung pentingnya memahami hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dia mengajak umat untuk tidak sekadar menjalankan ibadah ritual seperti salat, zakat, puasa, dan haji, tetapi juga menegakkan nilai-nilai keadilan dan kejujuran dalam hubungan sosial.

“Hukum Allah itu bukan cuma di masjid. Ia hidup di pasar, di rumah, di kantor, di jalan, di mana pun kita berada,” katanya.

Menurutnya, banyak persoalan bangsa hari ini lahir karena manusia melupakan hukum Allah dalam mengatur kehidupan sosial. Kalau hukum Allah diterapkan dengan adil, tidak akan ada korupsi, tidak akan ada orang menzalimi yang lemah.

Kiai Najih juga menyinggung kisah Nabi Yusuf as sebagai contoh keteguhan iman dan kesabaran dalam menghadapi ujian.

“Nabi Yusuf itu dipenjara bukan karena salah, tapi karena mempertahankan kehormatan. Tapi justru dari penjara itulah Allah mengangkat derajatnya. Begitulah, kalau kita sabar, Allah pasti kasih jalan keluar,” terang KH Najih.

Di bagian akhir ceramah, Kiai Najih berpesan agar umat Islam tidak mudah berselisih hanya karena perbedaan pendapat, baik dalam masalah hukum maupun kehidupan sehari-hari.

“Perbedaan itu rahmat. Jangan jadikan perbedaan untuk saling menjatuhkan. Wong sama-sama Islam kok ributnya karena hal kecil,” ucapnya sambil tersenyum.

Dia juga mengingatkan agar umat senantiasa menjaga silaturahmi dan saling menghargai sesama.

“Kalau kamu ingin rezeki lancar, panjangkan silaturahmi. Kalau ingin hidup damai, hormati sesamamu,” pesannya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡