Dakwah tauhid merupakan ruh sekaligus asas fundamental gerakan Muhammadiyah.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Rifki Jakfar Tholib dalam Tabligh Akbar penutup rangkaian kegiatan Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kediri.
Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Al Amin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Badas, yang terlalu di Jalan HOS Cokroaminoto, Kabupaten Kediri, pada Ahad (14/12/2025).
Berdasarkan pantauan PWMU.CO, acara berjalan dengan sangat meriah. Tidak kurang dari 2.000 warga Muhammadiyah se-Kabupaten Kediri tampak memadati Masjid Al Amin hingga meluber ke halaman masjid.
Panitia telah menyiapkan lokasi parkir mobil di Terminal Bus Pare yang berjarak sekitar 300 meter dari masjid.
Bagi para sopir, disediakan transportasi ojek dari terminal menuju masjid. Sementara itu, jamaah yang menggunakan kendaraan roda dua dipersilakan turun di sekitar lokasi masjid agar tidak kelelahan berjalan kaki.
Hal tersebut dilakukan mengingat Masjid Al Amin terletak di Jalan HOS Cokroaminoto yang berdampingan dengan Pasar Induk Pare sehingga kepadatan lalu lintas meningkat drastis dibandingkan hari biasa.
Puluhan anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) tampak disibukkan oleh kehadiran para jamaah yang ingin menghadiri undangan.
Dalam ceramahnya, Ustaz Rifki Jakfar Tholib menegaskan bahwa ruh sekaligus asas fundamental gerakan Muhammadiyah adalah dakwah tauhid. Menurutnya, ruh Muhammadiyah yang paling utama adalah dakwah tauhid, sebagaimana yang menjadi landasan KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta.
“Pada masa itu, dakwah KH Ahmad Dahlan sempat dianggap “merecoki” keyakinan masyarakat Kauman, terutama ketika ia meluruskan arah kiblat Masjid Besar Kauman,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa ceramah-ceramah KH Ahmad Dahlan yang menekankan dakwah tauhid membuat masyarakat setempat terkejut, namun justru dari situlah lahir ruh dakwah Muhammadiyah hingga kini.
“Itulah yang menjadi ruh dakwah Muhammadiyah sebagaimana diilhami oleh QS. Al-Anbiya’ ayat 25,” sambungnya.
Allah SWT berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْۤ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدُوْنِ
wa maaa arsalnaa ming qoblika mir rosuulin illaa nuuhiii ilaihi annahuu laaa ilaaha illaaa ana fa’buduun
Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku. (Q.S Al-Anbiya’ Ayat 25).
Selain itu, pada surat An-Nahl 36 Allah SWT berfirman:
وَلَـقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَا جْتَنِبُوا الطَّا غُوْتَ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَا نْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
wa laqod ba’asnaa fii kulli ummatir rosuulan ani’budulloha wajtanibuth-thooghuut, fa min-hum man hadallohu wa min-hum man haqqot ‘alaihidh-dholaalah, fa siiruu fil-ardhi fangzhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul-mukazzibiin
Artinya: Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl Ayat 36 ).
Ia menegaskan bahwa seluruh Nabi dan rasul, sejak yang pertama hingga Rasul terakhir, membawa dakwah yang sama, yaitu dakwah tauhid.
“Karena itu, dakwah tauhid menjadi ruh gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, apabila membuka dan mempelajari kitab-kitab tauhid, kalimat lā ilāha illallāh mengandung banyak konsekuensi, tanggung jawab, dan kewajiban bagi setiap orang yang mengucapkannya. Hal tersebut merupakan salah satu kaidah penting dalam ilmu akidah,” tuturnya.
Apa pun yang terjadi, lanjutnya, di mana pun berada, dan dalam kondisi apa pun, umat Islam harus tetap menyembah Allah SWT semata. Inilah yang menjadi ciri khas warga Muhammadiyah sejati, yaitu berpegang teguh pada tauhid serta menghindari praktik Tahayul, Bid‘ah, dan Khurafat (TBC). (*)






0 Tanggapan
Empty Comments