Media Muhammadiyah perlu berani bertransformasi. Tidak cukup hanya rajin memproduksi berita dan mengandalkan semangat dakwah, media juga harus mampu menarik perhatian pembaca, mengembangkan jurnalisme berkualitas, serta membangun kemandirian finansial.
Pesan tersebut disampaikan jurnalis senior Dr. Rohman Budijanto, S.H., M.H., saat menjadi pemateri kelima dalam Pelatihan Hukum Jurnalisme Siber 2026 bertema Mitigasi Risiko Hukum, Etika, dan Keamanan Digital bagi Wartawan di Villa Graha Umsida, Jumat–Sabtu (30–31/10/2026).
Dalam materi bertajuk “Headline, Caption, dan Clickbait”, Rohman mengajak peserta memahami perubahan karakteristik pembaca di era digital. Menurut dia, pola konsumsi informasi masyarakat saat ini jauh berbeda dibandingkan dengan era media konvensional.
Jika dahulu koran, radio, dan televisi menyajikan informasi yang relatif sama untuk seluruh khalayak, kini setiap orang memiliki pilihan dan kecenderungan berbeda dalam mengakses informasi.
“Dulu satu jenis informasi disiapkan untuk semua khalayak. Sekarang setiap orang mempunyai pilihan sendiri. Meskipun sama-sama memegang handphone, informasi yang diakses bisa berbeda,” jelasnya.
Perubahan tersebut menuntut media untuk tidak sekadar memproduksi berita. Wartawan juga harus memahami cara menyajikan informasi agar mampu menarik perhatian sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Headline Bukan Sekadar Judul, tetapi Pemantik Rasa Ingin Tahu
Rohman menjelaskan, headline merupakan pintu pertama yang menentukan ketertarikan pembaca terhadap sebuah berita. Judul harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu sehingga pembaca terdorong membuka dan menyimak informasi lebih lanjut.
Namun, ia mengingatkan agar clickbait tidak dimaknai sebagai upaya menjebak pembaca melalui judul sensasional.
Menurut dia, judul yang menarik justru merupakan janji kepada pembaca bahwa informasi penting dan menarik yang ditawarkan benar-benar tersedia dalam isi berita.
“Clickbait itu bukan memancing pembaca untuk ditipu. Judul harus menjadi janji bahwa di dalam berita memang ada informasi menarik yang layak dibaca,” pesannya.
Ia menyarankan wartawan lebih berani menonjolkan peristiwa, sisi kemanusiaan, dan nilai menarik dari sebuah kejadian daripada sekadar mengulang nama lembaga atau penyelenggara kegiatan.
Dalam konteks pemberitaan Muhammadiyah, misalnya, penggunaan kata Muhammadiyah secara berulang dalam judul perlu dipertimbangkan. Pembaca lebih membutuhkan informasi tentang peristiwa yang terjadi, pihak yang terlibat, serta manfaat dan nilai penting dari peristiwa tersebut.
Dengan pendekatan ini, berita kegiatan sekolah, rumah sakit, maupun amal usaha Muhammadiyah berpeluang menjangkau pembaca yang lebih luas, termasuk masyarakat di luar lingkungan persyarikatan.
Rohman juga mengenalkan konsep attention economy atau ekonomi perhatian. Dalam ekosistem digital, perhatian pembaca menjadi aset berharga. Ketika sebuah berita mampu menarik banyak pembaca dan membuat mereka bertahan menyimak informasi, terbentuklah kerumunan digital yang memiliki nilai ekonomi.
Karena itu, media harus mampu bersaing melalui penyajian informasi yang menarik tanpa mengorbankan akurasi dan etika jurnalistik.
Foto dan Caption Harus Memiliki Nilai Jurnalistik
Selain headline, Rohman menekankan pentingnya kekuatan foto dan caption dalam sebuah berita.
Menurut dia, foto yang tampak serupa belum tentu menceritakan peristiwa yang sama. Setiap foto harus memiliki konteks dan mampu memperjelas pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Pemilihan foto utama atau featured image juga harus dilakukan secara cermat. Foto yang ditampilkan sebaiknya menggambarkan momen paling penting, menarik, dan memiliki nilai jurnalistik.
Ia mencontohkan pemberitaan tentang prestasi siswa di bidang robotika. Foto utama sebaiknya menampilkan siswa ketika bekerja sama merancang atau membuat robot. Sementara itu, foto bersama kepala sekolah, guru, dan siswa dapat ditempatkan sebagai foto pendukung.
Dengan demikian, foto utama benar-benar memperkuat pesan berita, bukan sekadar menjadi dokumentasi kegiatan.
Rohman juga mendorong media untuk mulai mengembangkan jurnalisme video. Berita dapat dilengkapi dengan video singkat berdurasi sekitar satu menit yang menampilkan momen penting sebuah peristiwa.
Video pendek dapat menjadi pelengkap tulisan sekaligus memperkuat daya tarik visual. Kehadirannya tidak perlu dipandang sebagai pesaing media lain, tetapi justru menjadi sarana untuk memperkaya penyampaian informasi.






0 Tanggapan
Empty Comments