Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Salat Idulfitri di Kapasan: Misbahul Munir Ajak Umat Ikhlas Memaafkan Luka Terdalam

Iklan Landscape Smamda
Salat Idulfitri di Kapasan: Misbahul Munir Ajak Umat Ikhlas Memaafkan Luka Terdalam
Misbahul Munir saat menyampaikan khotbah Salat Id di Jalan Kapasan Surabaya. Foto: Elan Kamal/PWMU.CO

Memaafkan luka terdalam menjadi ujian keimanan yang sesungguhnya, bahkan lebih berat daripada menahan lapar dan dahaga selama Ramadan. Pesan itu disampaikan Misbahul Munir, M.Pd., Ketua Tajdied Center Pusat PWM,, dalam khotbah Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Jalan Kapasan, Surabaya, Jumat (20/3/2026)

Dalam khotbahnya, Misbahul Munir menggambarkan Ramadan sebagai medan perjuangan batin. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, sakit hati, dan dendam yang sering kali tersembunyi di dalam diri.

“Selama Ramadan, kita berperang melawan marah, menahan luka, meredam dendam. Tapi pertanyaannya, hari ini apakah kita benar-benar ikhlas saling memaafkan?” ujarnya.

Dia lalu mengilustrasikan bahwa memaafkan bukan perkara mudah. Banyak orang terlihat kuat di luar, namun hatinya masih menangis karena luka yang belum sembuh.

“Kita berkata kuat, tetapi di dalam hati masih ada perih. Bahkan yang paling menyakitkan, sering kali adalah orang-orang yang justru pernah kita tolong,” tambahnya.

Untuk memperdalam pesan, Misbahul Munir mengangkat kisah besar dalam sejarah Islam, yakni fitnah terhadap Sayyidah Aisyah. Dia menjelaskan bagaimana ujian tersebut tidak hanya melukai Aisyah, tetapi juga mengguncang hati Abu Bakar, ayahnya.

Dalam kisah itu, salah satu nama yang terseret adalah Mistah, seseorang yang justru pernah mendapatkan bantuan dari Abu Bakar. Ketika fitnah itu menyebar, Abu Bakar merasakan luka yang sangat dalam, bukan hanya sebagai seorang ayah, tetapi juga sebagai pribadi yang dikhianati oleh orang dekat.

“Ini luka kehormatan. Luka yang datang bukan dari orang jauh, tapi dari dalam sendiri,” jelasnya.

Akibat luka itu, Abu Bakar sempat bersumpah tidak akan lagi membantu Mistah. Namun, Allah kemudian menurunkan ayat yang menegur sekaligus membimbing: agar orang-orang beriman tetap memberi, memaafkan, dan berlapang dada.

Salat Idulfitri di Kapasan: Misbahul Munir Ajak Umat Ikhlas Memaafkan Luka Terdalam
Jamaah Salat Idulfitri di Jalan Kapasan Surabaya. Foto: Elan Kamal/PWMU.CO

“Janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan bersumpah untuk tidak memberi kepada kerabat, orang miskin, dan orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada,” kutipnya, merujuk pada pesan Al-Qur’an.

Memaafkan: Ujian Keimanan yang Sesungguhnya

Menurut Misbahul Munir, peristiwa tersebut menjadi cermin bahwa keimanan seseorang diuji justru ketika hatinya terluka. Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang tinggi.

“Jangan karena satu kesalahan, kita bakar seluruh cinta yang pernah ada,” tegasnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dia mengingatkan pentingnya mengamalkan nilai walyakfu walyasfahu—hendaklah memaafkan dan berlapang dada. Keikhlasan dalam memaafkan, kata dia, menjadi jalan bagi turunnya ampunan Allah.

“Jika kita ingin diampuni, mengapa kita sulit memberi ampun? Maafkanlah walau berat, walau perih,” ujarnya.

Misbahul Munir mengajak jamaah untuk tidak menjadikan Idulfitri sekadar ritual tahunan tanpa makna. Ia menegaskan pentingnya pulang dari hari kemenangan dengan hati yang bersih.

“Jangan pulang membawa luka. Jangan wariskan dendam. Karena dendam tidak pernah menyembuhkan, justru membakar keimanan kita sendiri,” pesannya.

Dia juga mengingatkan bahwa tidak semua luka harus diselesaikan sendiri. Ada saatnya manusia berserah dan membiarkan keadilan Allah bekerja.

“Saat kau diam, Allah yang bekerja. Keadilan-Nya tidak pernah tertukar,” katanya.

Menutup khotbahnya, ia kembali mengajak jamaah untuk membuka hati seluas-luasnya.

“Lapangkan hati, luaskan dada. Hati yang sempit tidak akan mampu menerima maaf. Mungkin saat kita memaafkan, di saat yang sama Allah sedang menuliskan ampunan untuk kita,” pungkasnya.

Salat Idulfitri di Kapasan pun berakhir dengan suasana haru. Jamaah saling bersalaman, sebagian dengan mata berkaca-kaca, seolah mengamini pesan khutbah: pulanglah dengan membawa maaf, bukan luka. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡