Saya pertama kali mendengar nama Muhammad Mirdasy pada tahun 1998. Saat itu, saya masih sangat muda—baru belajar mengenal dunia organisasi—ketika mengikuti Musyawarah Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur di Sarangan, Magetan.
Di forum itulah nama Muhammad Mirdasy mencuat. Dia maju sebagai calon Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, berhadapan dengan Kuswiyanto. Pertarungan itu terasa berbeda—bukan sekadar kontestasi organisasi, tetapi juga pertemuan dua latar belakang besar: politik dan aktivisme.
Dan Mas Mirdasy-lah yang terpilih.
Bagi saya yang masih pemula, itu bukan sekadar kemenangan. Itu adalah perkenalan pertama dengan sosok yang kelak memberi banyak warna dalam perjalanan kaderisasi saya.
Dari Jarak yang Jauh, Menjadi Dekat
Awalnya, saya hanya mengenalnya dari jauh. Kedekatan itu baru terbangun ketika saya aktif di Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Jawa Timur (2000–2002).
Kami berada dalam satu lingkungan kantor. Mas Mirdasy sebagai Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, saya sebagai bagian dari PW IRM. Interaksi mulai terbangun—tidak formal, tidak kaku, tetapi hangat dan membumi.
Tahun 2002 menjadi salah satu momen penting. Jawa Timur menjadi tuan rumah Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke-12, dan Mas Mirdasy dipercaya sebagai ketua panitia.
Di bawah kepemimpinannya, muktamar itu bukan sekadar sukses—tetapi berkesan. Ia mengusung konsep “tiga sukses”:
- Sukses penyelenggaraan
- Sukses perekonomian
- Sukses pendanaan
Acara berlangsung meriah dan dihadiri tokoh nasional, termasuk Prof. Amien Rais.
Bagi saya, itu adalah bukti awal: Mas Mirdasy bukan hanya organisator, tetapi juga eksekutor ide.
Rumah yang Terbuka, Pikiran yang Lapang
Suatu hari, kami—rombongan PW IRM Jawa Timur—bertandang ke rumahnya di Pandaan, saat itu dipimpin oleh Abd. Adjis.
Tidak ada jarak. Tidak ada protokoler.
Yang ada hanyalah obrolan santai, canda ringan, dan nasihat yang mengalir tanpa menggurui. Dari situ saya melihat sisi lain Mas Mirdasy: seorang kakak, bukan sekadar pemimpin.
Ia berbicara tentang organisasi, politik, dan kehidupan dengan cara sederhana, tetapi mengena.
Waktu berlalu. Kami sempat jarang bertemu, hingga akhirnya dipertemukan kembali dalam kegiatan family gathering Kader Sang Surya di Taman Rekreasi Sengkaling UMM.
Saat itu, saya melihat sesuatu yang tak biasa—Mas Mirdasy ikut senam pagi dengan memakai sarung.
Sederhana, tetapi membekas.
Dari situlah saya tahu, ia bukan hanya serius dalam kerja, tetapi juga tahu bagaimana menikmati kebersamaan. Ia aktif kembali dalam kegiatan family gathering, bahkan hingga edisi-edisi berikutnya, termasuk di Trawas, Mojokerto—yang menjadi kegiatan terakhir yang ia ikuti.
Diskusi dengan beliau selalu hidup. Kadang serius, sering kali diselingi guyonan. Bahkan dalam pengajian, ia kerap menyelipkan humor yang membuat suasana cair.
Ia membuat orang belajar tanpa merasa digurui.
Pertemuan Terakhir yang Tak Terlupakan
Pertemuan terakhir kami terjadi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Saat itu, saya menjadi instruktur Baitul Arqom mahasiswa baru.
Mas Mirdasy hadir untuk memberikan tausiyah menjelang berbuka. Bersamaan dengan itu, hadir pula Fadli Zon, Menteri Kebudayaan.
Waktu yang sempit membuatnya hanya memimpin doa.
Namun yang paling membekas bagi saya adalah saat ia menjadi imam salat Magrib—diikuti oleh tokoh-tokoh besar, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Rektor UMSurabaya, Mundakir.
Setelah itu, seperti biasa, kami bercanda, tertawa, dan mengobrol ringan.
Tak ada tanda bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir.
Isyarat yang Diam, Doa yang Panjang
Awal April 2026, kami merencanakan survei lokasi family gathering di Sarangan, Magetan. Namun sebuah kabar datang—Mas Mirdasy sakit dan tidak bisa hadir.
Ada yang terasa kurang.
Kami kemudian memutuskan menjenguknya di RS UMM Malang. Dari Sarangan, kami langsung menuju Malang. Dari balik kaca ruang isolasi, kami melihatnya—dengan selang oksigen, namun masih menyunggingkan senyum.
Ia tak banyak bicara. Hanya isyarat.
Namun itu cukup untuk menguatkan kami: bahwa semangatnya masih ada.
Perpisahan yang Menggetarkan
Tak lama setelah itu, kabar duka datang. Mas Mirdasy telah berpulang.
Saat itu, saya sedang takziah di Lembor, Brondong, Lamongan. Perjalanan kami yang semula menuju Sidoarjo berubah arah ke Pandaan. Kami ingin mengantar kepergiannya.
Di sana, lautan manusia hadir. Jalanan penuh. Doa-doa menggema.
Saya mengikuti salat jenazah yang dipimpin oleh Syafiq A. Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dalam suasana haru, Prof. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menyampaikan bahwa Mas Mirdasy adalah sosok yang istiqamah—pejuang yang tak lelah mengabdikan diri, baik di dunia politik maupun pendidikan.
Jejak yang Tak Akan Hilang
Mas Mirdasy bukan hanya seorang tokoh. Ia adalah energi.
Ia hadir dengan ide, menggerakkan dengan keteladanan, dan mengikat dengan kehangatan.
Bagi kami—kader-kader yang lebih muda—ia adalah bukti bahwa menjadi besar tidak harus berjarak. Bahwa kepemimpinan sejati lahir dari ketulusan dan kedekatan.
Kini, ia telah pergi.
Namun jejaknya tetap tinggal—dalam kenangan, dalam gerakan, dan dalam semangat yang terus menyala.
Selamat jalan, Mas Mirdasy. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, bersama orang-orang yang Engkau cintai dan mencintai-Mu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments