Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sepulang dari London, Syafiq Mughni Cerita Oxford dan Peluang Pendidikan bagi Kader Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Sepulang dari London, Syafiq Mughni Cerita Oxford dan Peluang Pendidikan bagi Kader Muhammadiyah
Prof Syafiq A Mughni ketika berbincang dengan tim redaksi PWMU.CO.di Media Center PWM Jatim. Foto: Fauzul/PWMU.CO
pwmu.co -

Usai Salat Jumat, (28/8/2026) siang, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA., Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyempatkan waktunya untuk menemui wartawan PWMU.CO di Media Center Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Baru beberapa hari sebelumnya, Ketua PWM Jawa Timur (2005-2010) itu berada di London, Inggris, menghadiri pengukuhan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia.

Dari perjalanan itu, Prof. Syafiq bercerita banyak hal. Tidak hanya tentang aktivitas PCIM Britania Raya dan Irlandia, tetapi juga tentang pertemuannya dengan sejumlah lembaga strategis di Inggris.

Pengukuhan PCIM Britania Raya dan Irlandia tersebut berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London, Sabtu (22/8/2026). Dalam kesempatan yang sama, PCIM Britania Raya dan Irlandia menerima sertifikat keanggotaan resmi Muslim Council of Britain (MCB).

Menurut Prof. Syafiq, agenda tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperluas jejaring di Inggris. Namun, perjalanan itu tidak semata-mata berbicara mengenai organisasi.

Membuka Jalan ke Pusat Keilmuan Terkemuka

Ada peluang lain yang menurutnya juga penting untuk diperhatikan, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan keilmuan.

Salah satunya adalah Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS), salah satu institusi yang dikenal dalam kajian Islam di lingkungan Oxford University.

Dalam rangkaian kunjungan ke Inggris mewakili PP Muhammadiyah, ia menjajaki kemungkinan kerja sama dengan lembaga yang berada di lingkungan Oxford tersebut. Penjajakan itu menjadi bagian dari pertemuan Muhammadiyah dengan sejumlah lembaga strategis di Inggris.

Prof. Syafiq mengatakan, OXCIS memiliki program Visiting Scholar yang membuka kesempatan bagi akademisi muda dari Indonesia untuk belajar dan mengembangkan kajian Islam di Oxford. Meski kuotanya terbatas, menurutnya, kesempatan tersebut tersedia setiap tahun.

“Islamic Studies di Oxford Centre for Islamic Studies itu multidisipliner. Jadi, institusi ini tidak hanya membahas tafsir dan hadis, tetapi juga ekonomi Islam, politik Islam, sastra Islam, dan berbagai bidang lainnya,” kata Prof. Syafiq.

Ia melihat hubungan dengan lembaga pendidikan internasional bukan hanya sebagai kerja sama antar lembaga, tetapi juga sebagai jalan untuk memperluas pengalaman akademik kader Muhammadiyah.

“Kader Muhammadiyah menjadi memiliki peluang untuk memperluas pengalaman akademik mereka di ranah global,” ujarnya.

Nama almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra kemudian muncul dalam cerita Syafiq. Ia mengingat pengalaman akademik mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut ketika berbicara tentang Oxford dan perjalanan intelektual akademisi Muslim Indonesia di tingkat internasional.

Azyumardi memang pernah menjadi Fellow di Oxford Centre for Islamic Studies pada 1994–1995. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan pascasarjana di Columbia University, Amerika Serikat. Ia memperoleh gelar M.A., M.Phil., dan Ph.D. dari kampus tersebut.

SMPM 5 Pucang SBY

Dari cerita tersebut, pembicaraan kemudian kembali pada agenda Muhammadiyah di Inggris. Bagi Syafiq, penguatan jejaring internasional memiliki arti penting karena Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir sebagai organisasi diaspora, tetapi juga perlu membangun hubungan dengan berbagai institusi dan komunitas di negara tempat kadernya berada.

Memperluas Jejaring Muhammadiyah

Selama berada di Inggris, rombongan Muhammadiyah menjajaki hubungan dengan sejumlah lembaga, antara lain East London Mosque, Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), University of Cambridge, dan Oxford Centre for Islamic Studies.

Penjajakan tersebut mencakup sejumlah bidang, mulai dari hubungan antaragama, krisis iklim, pendidikan tinggi, hingga kemungkinan beasiswa bagi kader Muhammadiyah.

Syafiq sebelumnya mengatakan, berbagai pertemuan tersebut membuka kemungkinan kerja sama dalam sejumlah bidang.

“Berbagai macam kemungkinan kerja sama dilakukan termasuk juga berbagai program interfaith dan climate crisis. Kemudian kami juga merencanakan adanya kemungkinan pemberian beasiswa kepada kader-kader Muhammadiyah.”

Peluang pendidikan itu menjadi salah satu hal yang kemudian ditekankan Syafiq ketika menceritakan kembali perjalanan tersebut di Media Center PWM Jatim.

Menurutnya, jaringan Muhammadiyah di luar negeri dapat menjadi penghubung antara kader Indonesia dengan berbagai pusat pendidikan dan keilmuan dunia. Dengan begitu, keberadaan PCIM tidak hanya berfungsi sebagai wadah dakwah dan silaturahmi warga Muhammadiyah di luar negeri, tetapi juga dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.

Dari PCIM untuk Jejaring Global

Penguatan jejaring tersebut sejalan dengan pesan Syafiq ketika mengukuhkan PCIM Britania Raya dan Irlandia. Ia menekankan pentingnya membawa spirit Islam Berkemajuan dalam kehidupan masyarakat global.

PCIM Britania Raya dan Irlandia juga mencatat momentum penting melalui keanggotaannya di Muslim Council of Britain. Keanggotaan tersebut membuka ruang bagi Muhammadiyah untuk berinteraksi lebih luas dengan komunitas Muslim dan berbagai lembaga di Inggris.

Bagi Syafiq, pengalaman Muhammadiyah di Inggris menunjukkan bahwa diaspora tidak harus berjalan sendiri. Jaringan yang telah terbentuk dapat menjadi pintu untuk memperkuat dakwah, pendidikan, pengembangan keilmuan, dan kerja kemanusiaan.

Dari ruang Media Center PWM Jatim siang itu, cerita Syafiq tentang London akhirnya tidak hanya menjadi cerita perjalanan. Ada Oxford, ada Azyumardi Azra, dan ada peluang yang ingin dibuka Muhammadiyah bagi generasi setelahnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 29/08/2026 02:47
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 29/08/2026 08:14
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu