Peringatan Hari Ulang Tahun ke-120 Kota Blitar diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan pelajar di seluruh wilayah kota. Salah satu kegiatan tersebut adalah penggunaan pakaian “Djaman Doeloe” atau dikenal sebagai “Djadoel” oleh siswa dalam proses pembelajaran di sekolah pada Selasa (1/4/2026).
Pemerintah Kota Blitar mengimbau seluruh pelajar, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA, untuk mengenakan pakaian bertema masa lampau saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kebijakan ini bertujuan untuk mengenalkan serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan tradisi bangsa Indonesia kepada para pelajar.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga terlihat di SMP Muhammadiyah 1 Blitar. Suasana pembelajaran tampak berbeda dari hari biasanya. Seluruh siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar mengenakan berbagai jenis pakaian bertema masa lalu. Beberapa di antaranya berupa kebaya Jawa, pakaian tuan tanah Belanda, hingga kostum tentara Jepang.
Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan sebagai sarana edukasi budaya. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada ragam budaya dan sejarah yang pernah berkembang di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Aktivitas di sekolah berlangsung dengan nuansa yang berbeda. Siswa yang mengenakan pakaian “Djaman Doeloe” juga diarahkan untuk menyesuaikan perilaku dan tata krama sesuai dengan tema yang digunakan. Tidak hanya siswa, para guru juga turut mengenakan pakaian serupa selama kegiatan berlangsung.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Siti Muhibbah, S.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak mengurangi semangat belajar siswa. Ia menjelaskan bahwa suasana pembelajaran justru terlihat lebih semarak. Menurutnya, penggunaan pakaian tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan penggunaan seragam sekolah pada hari biasa.
“Agenda ini merupakan agenda rutin dalam ranmgka memperingati Hari Jadi Kota Blitar yang ke 120, yang digelar setiap awal bulan April, selama dua hari, yaitu sejak tanggal 1 hingga 2 April,” jelas Siti Muhibbah S. Ag.
Selama kegiatan berlangsung, siswa tampak berinteraksi satu sama lain dengan suasana yang lebih santai. Beberapa siswa juga saling memberikan tanggapan terhadap pakaian yang dikenakan oleh teman-temannya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya bangsa. Selain itu, kegiatan serupa diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan program pendidikan berbasis budaya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments