Kesuksesan hidup tidak cukup diukur dari tingginya jabatan, besarnya penghasilan, atau luasnya pengaruh seseorang. Kesuksesan yang sesungguhnya juga ditentukan oleh kehalalan rezeki, manfaat bagi sesama, terjaganya amanah, dan keberhasilan merawat keluarga.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. HM Sulthon Amien, MM, menyampaikan pesan tersebut dalam Pengajian Insyiroh di Masjid Al-Khoory, kompleks Universitas Muhammadiyah, Kamis (29/10/2026).
Mengangkat tema “Membangun Kesuksesan dengan Kesabaran dan Tawakal”, Sulthon Amien mengajak jamaah meninjau kembali makna sukses yang selama ini kerap diidentikkan dengan pencapaian duniawi.
Menurut dia, manusia masa kini dituntut menjalankan banyak peran sekaligus.
“Ada yang berkarier di dunia politik, menjadi pejabat pemerintahan, mengembangkan bisnis, hingga menjalankan tanggung jawab sosial dan keluarga,” kata Owner) Parahita Diagnostic Center itu.
Tuntutan tersebut, terang dia, mengharuskan seseorang terus mengembangkan kreativitas dan inovasi. Namun, pencapaian yang diperoleh tidak boleh berhenti pada kebanggaan pribadi.
“Prestasi baru benar-benar bernilai ketika menghadirkan manfaat dan memiliki added value atau nilai tambah bagi kehidupan,” tandasnya.
Sulthon menjelaskan, setidaknya ada empat hal yang perlu menjadi ukuran kesuksesan seorang Muslim.
Pertama, memperoleh penghasilan yang halal. Menurut dia, keberhasilan dalam bekerja dan berbisnis harus berjalan seiring dengan ketaatan terhadap ketentuan Allah.
Besarnya penghasilan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, apalagi jika diperoleh melalui cara yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Penghasilan halal menjadi fondasi penting agar rezeki yang diperoleh membawa kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga.
Kedua, memberikan manfaat bagi sesama. Ilmu, keterampilan, dan prestasi seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi. Semuanya perlu memberikan dampak positif bagi orang lain.
Sulthon mencontohkan, kemampuan menghafal Al-Qur’an, misalnya, semestinya melahirkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan.
“Dengan demikian, keberhasilan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang dikuasainya, tetapi juga dari kebaikan yang dapat dirasakan orang lain,” ujar dia.
Ketiga, menjaga amanah. Setiap pencapaian membawa tanggung jawab. Jabatan, kekayaan, ilmu, dan kesempatan yang dimiliki manusia bukan sekadar fasilitas untuk menikmati kehidupan, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, Sulthon Amien mengingatkan pentingnya kesadaran terhadap hisab atau perhitungan amal di hadapan Allah.
“Apa yang diperoleh dan bagaimana seseorang menggunakannya akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban tersebut,” kata anggota Badan Pembina Harian (BPH) Umsura itu
Kesadaran akan hisab semestinya membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bekerja, mengambil keputusan, menggunakan kekuasaan, dan memperlakukan orang lain.
Keempat, merawat keluarga. Kesuksesan juga harus tercermin dalam kehidupan keluarga. Bekerja keras untuk memperoleh penghasilan dan membangun karier tidak boleh membuat seseorang melupakan tanggung jawab mendidik anak.
Orang tua perlu memastikan anak-anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan salihah, sekaligus membangun hubungan keluarga yang sehat dan penuh kasih sayang.
“Keberhasilan orang tua bukan hanya ketika anak-anak mampu meraih prestasi, tetapi juga ketika mereka tumbuh dengan akhlak yang baik dan memiliki kebanggaan terhadap orang tuanya,” jlentreh Sulthon.






0 Tanggapan
Empty Comments