Tawakal Bukan Berarti Berhenti Ikhtiar
Dalam membangun kesuksesan, Sulthon Amien menekankan pentingnya tawakal. Namun, tawakal tidak boleh dipahami sebagai sikap pasif yang membuat seseorang berhenti berusaha.
“Tawakal berarti berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh,” tutur dia.
Seseorang tetap harus bekerja, menyusun rencana, meningkatkan kemampuan, mencari solusi, dan memperbaiki kekurangan. Setelah itu, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Prinsip tersebut berkaitan erat dengan etos kerja seorang Muslim. Etos kerja yang baik ditunjukkan melalui kedisiplinan dalam menjalankan tugas, kesungguhan mencapai target, kejujuran dalam proses, tanggung jawab terhadap hasil, serta kesediaan terus belajar dan berinovasi.
Menurut Sulthon, seorang Muslim juga perlu menjaga profesionalitas. Pekerjaan tidak cukup diselesaikan sekadarnya, tetapi harus dilakukan sebaik mungkin sesuai kemampuan dan tanggung jawab yang diemban.
“Dalam menghadapi kegagalan, dia tidak mudah menyerah. Terus berikhtiar,” ujarnya.
Dengan demikian, tawakal bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, tawakal memberikan ketenangan batin agar seseorang tetap bekerja keras tanpa diperbudak oleh kecemasan terhadap hasil.
Dalam kajian tersebut, Sulthon Amien juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surah ath-Thalaq ayat 3: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
Ayat ini memberikan penguatan bahwa rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang diperkirakan manusia. Namun, keyakinan terhadap pertolongan Allah perlu berjalan bersama ketaatan dan ikhtiar yang benar.
Sulthon mengajak jamaah membangun kualitas diri sebagai Muslim yang baik. Keimanan tidak cukup berhenti pada pengakuan, tetapi harus diwujudkan melalui ibadah, akhlak, kejujuran, kerja keras, dan kepedulian sosial.
Harapan memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka semestinya mendorong seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah sekaligus memperbaiki perilakunya terhadap sesama.
Selain tawakal, Sulthon juga menekankan pentingnya kesabaran dalam menjalani proses menuju kesuksesan.
“Sabar bukan berarti berdiam diri ketika menghadapi masalah. Sabar justru menuntut seseorang tetap taat, tekun berusaha, dan menjaga akhlak ketika menghadapi ujian,” katanya.
Dalam perjalanan hidup, tidak semua usaha langsung menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Ada rencana yang gagal, pekerjaan yang belum membuahkan hasil, dan kesempatan yang tidak kunjung datang.
Menurut Sulthon, situasi seperti itu membutuhkan kesabaran sekaligus kemauan untuk memperbaiki diri. Sabar bukan sikap pasrah tanpa tindakan.
“Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri agar tetap berada di jalan yang benar sambil terus memperbaiki ikhtiar,” ujar dia.
Pada akhirnya, kesuksesan membutuhkan perpaduan antara kerja keras, kesabaran, dan tawakal. Kerja keras membuat seseorang terus bergerak, kesabaran menjaganya tetap bertahan, sedangkan tawakal menguatkan keyakinannya bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments