Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Tabligh Akbar bertema “Muda Berdaya dan Berdampak” di Masjid Sudalmiyah Rais Kampus II, Jumat (27/2/2026).
Menghadirkan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah 2022–2027, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, kegiatan ini membahas tiga tips penting agar pemuda memiliki fondasi tauhid kuat, berbakti kepada orang tua, serta mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.
Ratusan mahasiswa memadati masjid sebagai wujud antusiasme generasi muda dalam memperkuat karakter dan kepemimpinan Islami.
Bachtiar Dwi Kurniawan dalam tausiyah-nya menegaskan bahwa masa muda adalah fase paling kuat dalam siklus kehidupan manusia. Ia mengibaratkan perjalanan hidup seperti pergerakan matahari terbit, berada di puncak, lalu terbenam.
“Ketika matahari berada di titik tertinggi, itulah simbol masa muda. Kuat, panas, dan penuh energi. Maka maksimalkan potensi diri saat muda. Anak muda harus kritis, kreatif, energik, dan kuat,” tegasnya di hadapan jamaah.
Dia mengingatkan bahwa kehidupan dunia kerap melalaikan karena penuh dengan “permainan dan senda gurau”. Namun, menurutnya, justru di dunia inilah manusia diuji kesungguhannya sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam paparannya, ia menekankan tiga karakter utama kader muda Muhammadiyah yang berdaya dan berdampak.
Pertama, memiliki fondasi tauhid yang kuat. Menurutnya, pemimpin masa depan harus lahir dari generasi yang berakidah kokoh dan takut kepada Allah.
“Kalau pemimpin memiliki tauhid yang lurus, maka ia akan menjalankan amanah dengan benar dan memakmurkan bumi,” jelasnya.
Kedua, berbakti kepada orang tua. Ia menegaskan bahwa kesalehan sosial dimulai dari hubungan yang baik dengan ayah dan ibu. Berbakti kepada orang tua merupakan bagian integral dari ketaatan kepada Allah.
“Jangan hubungi orang tua hanya ketika kiriman menipis. Bangun komunikasi yang hangat. Jadilah anak yang membanggakan dan menjaga harmoni antargenerasi,” pesannya, seraya mencontohkan kedekatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai teladan relasi ayah dan anak.
Ketiga, mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Ia mengutip pesan Al-Qur’an agar umat Islam tidak hanya mengejar akhirat hingga melupakan dunia, dan sebaliknya.
“Kita tidak diminta memilih dunia atau akhirat. Kita diminta meraih keduanya. Menang di dunia, bahagia di dunia, sekaligus selamat di akhirat,” tuturnya.
Bachtiar juga mengingatkan pentingnya penguatan intelektualitas. Mahasiswa, katanya, harus serius menempuh pendidikan, memperkuat literasi, dan tidak menjadi “mahasiswa abadi”.
“Umat Islam yang kuat lebih dicintai Allah daripada yang lemah. Jangan jadi generasi lemah fisik, lemah intelektual, dan lemah spiritual,” tegasnya.
Wakil Rektor III UMS Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Pengkaderan, dan Alumni, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian kegiatan.
Dia menegaskan bahwa Tabligh Akbar menjadi bagian dari komitmen UMS dalam menguatkan identitas kampus Islami.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari prioritas pembinaan rohani di kampus. Kita ingin menjadikan UMS sebagai kampus Islami, mencerahkan, unggul, mendunia, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang memenuhi masjid. Menurutnya, semangat kehadiran generasi muda dalam forum keislaman menjadi tanda optimisme lahirnya kader-kader umat yang siap berkontribusi bagi masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments