Kalimat yang akrab di dunia nyata maupun maya saat ini adalah pulang kampung.
Setiap hari raya Idulfitri, jutaan orang merayakannya dengan pulang kampung. Sebagian besar masyarakat menjadikan pulang kampung sebagai prioritas, sehingga memerlukan persiapan yang matang, baik biaya, waktu, kesehatan, maupun mental.
Sebagian Gen Z tidak menjadikan pulang kampung sebagai prioritas. Mereka memilih jalan sunyi karena mempertimbangkan kesehatan mental, serta biaya yang tidak sedikit. Pulang kampung juga sering dianggap sebagai simbol kesuksesan di perantauan.
Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah masyarakat yang pulang kampung pada tahun 2026 mencapai 143,9 juta orang, sedikit menurun dari tahun sebelumnya. Jalanan padat, kendaraan berjejal, dan tol yang merayap menjadi pemandangan yang terus berulang setiap tahun, diiringi rindu pada kampung halaman.
Pulang menjadi simbol kembali kepada keluarga dan kerabat. Namun di balik tradisi itu, terdapat makna yang jauh lebih dalam. Pulang yang sesungguhnya bukan sekadar kembali ke kampung halaman di dunia, melainkan perjalanan menuju “kampung akhirat”.
Di Dunia Ibarat Musafir
Perjalanan pulang kampung di dunia memerlukan perbekalan yang cukup agar selamat dan membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan keluarga. Begitu pula dalam makna yang hakiki, pulang membutuhkan bekal agar selamat dari neraka dan meraih kebahagiaan di kampung akhirat.
Sering kali kita mempersiapkan perjalanan pulang kampung dengan sangat matang. Tiket dipesan jauh hari, kendaraan diservis, dan oleh-oleh disiapkan. Namun ironisnya, persiapan menuju kampung akhirat justru sering terabaikan.
Padahal perjalanan itu jauh lebih panjang, lebih pasti, dan tidak bisa ditunda. Tidak ada yang tahu kapan “panggilan pulang” itu datang.
Firman Allah:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (Al A’raf: 34).
Manusia sejatinya adalah musafir. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tujuan akhir. Kita lahir, tumbuh, bekerja, mencintai, lalu perlahan waktu mengantar kita pada satu kepastian: kembali kepada Sang Pencipta.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari).
Menyiapkan Bekal Kehidupan
Kesadaran bahwa dunia bukan tujuan akhir seharusnya mendorong manusia untuk mempersiapkan bekal terbaik. Bekal tersebut adalah amal saleh, keikhlasan, dan ketakwaan.
Firman Allah:
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (Al An’am: 32).
Pulang ke kampung akhirat bukan sekadar peristiwa kematian, melainkan proses panjang sejak manusia hidup. Setiap amal menjadi bekal, setiap pilihan menentukan arah, dan setiap langkah menentukan tempat kembali.
Pulang yang Dirindukan
Jika kehidupan dunia diisi dengan kelalaian, perjalanan pulang akan terasa berat. Namun jika diisi dengan iman dan amal saleh, maka pulang akan menjadi momen yang dirindukan.
Firman Allah:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (Al Baqarah: 197).
Pada akhirnya, semua manusia akan pulang. Dan sebaik-baik pulang adalah ketika kembali dalam keadaan diridhai, disambut dengan kasih sayang, serta menetap di kampung yang tidak lagi mengenal perpisahan.





0 Tanggapan
Empty Comments