Kecerdasan tidak cukup diukur dari kemampuan akademik. Kejujuran, amanah, kedisiplinan, dan akhlak mulia juga menjadi bagian penting dalam membentuk generasi unggul. Keteladanan Zaid bin Tsabit, sahabat Nabi Muhammad saw. yang dikenal cerdas dan dipercaya sebagai penulis wahyu, menjadi inspirasi dalam Kajian Ahad Pagi K.H. Ahmad Dahlan PDM Kota Batu di Masjid At-Taqwa, Kota Batu, Ahad (18/10/2026).
Dalam kajian bertema Anak Super Cerdas di Zaman Nabi Muhammad saw. (Zaid bin Tsabit) tersebut, Ustadz H. M. Arief Hidayat, Lc., M.H., mengajak orang tua membangun kecerdasan anak secara utuh. Anak tidak hanya perlu memiliki kemampuan berpikir dan menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga harus tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia dan dapat dipercaya.
Menurutnya, ada lima pilar kecerdasan yang dapat diteladani dari Zaid bin Tsabit, yakni cerdas dalam berpikir, kuat dalam hafalan, luas dalam ilmu, santun dalam bertutur, dan terpercaya dalam berperilaku.
Tantangan Mendidik Anak di Era Digital
Tantangan mendidik anak pada masa kini semakin kompleks. Anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kemudahan mengakses informasi membuka peluang belajar yang luas, tetapi juga menghadirkan distraksi, mengurangi kesabaran, dan berpotensi membuat anak lebih banyak mengonsumsi hiburan daripada mengembangkan pengetahuan.
“Anak-anak perlu diingatkan bahwa kitalah yang harus menguasai teknologi, bukan teknologi yang menguasai kita,” ujarnya.
Ia menegaskan, kompetensi anak di berbagai bidang perlu terus diasah. Namun, kecerdasan tanpa integritas dapat mendorong perilaku menyimpang. Anak mungkin unggul dalam matematika, misalnya, tetapi masih berbohong, menipu, atau menyakiti temannya. Karena itu, pembentukan karakter harus berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan akademik.
“Orang tua adalah figur yang sehari-hari dilihat oleh anak. Oleh karena itu, orang tua wajib memberikan teladan terbaik karena anak adalah peniru ulung. Guru di sekolah juga harus menjadi sosok panutan bagi anak,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penguasaan kompetensi kerap lebih diutamakan daripada pembentukan integritas. Padahal, keduanya perlu dikembangkan secara seimbang agar anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.
Tiga Pilar Membangun Kecerdasan dan Integritas
Dalam kajian tersebut, Arief menekankan tiga pilar untuk membangun kompetensi dan integritas anak.
Pertama, menjadikan Al-Qur’an sebagai inti kecerdasan. Merujuk QS. Al-Qamar ayat 17, pembelajaran Al-Qur’an perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari tahsin atau memperbaiki bacaan hingga tahfiz atau menghafal. Orang tua dapat membangun rutinitas yang realistis, misalnya membaca Al-Qur’an selama 10–15 menit pada pagi hari, kemudian mempelajari terjemahan Al-Qur’an dan hadis pada malam hari. Pembiasaan ini diharapkan menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an sepanjang hayat.
Kedua, membangun kecakapan berbahasa dan mempercepat proses belajar. Anak perlu ditanamkan kemauan kuat, tujuan belajar yang jelas, serta semangat menuntut ilmu untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Kemampuan berbahasa hendaknya menjadi sarana untuk melayani dan memberi manfaat kepada sesama, bukan sekadar kebanggaan pribadi.
Ketiga, menanamkan amanah dan kejujuran sejak dini. Nilai-nilai tersebut perlu diajarkan melalui pembiasaan dan keteladanan nyata, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Belajar dari Zaid bin Tsabit
Zaid bin Tsabit merupakan teladan dalam memadukan kecerdasan, semangat belajar, dan tanggung jawab. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan keinginan kuat untuk berkontribusi bagi Islam. Dalam sejumlah riwayat sejarah, Zaid disebut pernah menawarkan diri untuk ikut berperang bersama Rasulullah saw., tetapi belum diizinkan karena usianya masih terlalu muda.
Zaid memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik serta pengetahuan mendalam tentang Al-Qur’an. Rasulullah saw. mempercayainya sebagai salah seorang penulis wahyu. Atas perintah Rasulullah, ia juga mempelajari tulisan kaum Yahudi agar dapat membaca dan menulis surat dalam bahasa mereka. Dalam riwayat yang disebutkan dalam HR. Abu Dawud nomor 3645, proses pembelajaran tersebut berlangsung selama 15 hari.
Peran Zaid tidak berhenti pada penulisan wahyu. Ia juga berperan penting dalam penghimpunan Al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Khalifah Utsman bin Affan. Tugas tersebut menuntut ketelitian, kecermatan, dan tanggung jawab besar. Amanah yang diberikan kepadanya menunjukkan bahwa kecerdasan perlu disertai integritas dan karakter yang kuat.
Zaid juga dikenal sebagai salah seorang sahabat yang ahli dalam ilmu faraid, yaitu ilmu tentang pembagian harta warisan. Keahlian tersebut memperlihatkan keluasan pengetahuannya.
Komitmen Tujuh Hari Menjadi Lebih Baik
Pada akhir kajian, peserta diajak membangun komitmen selama tujuh hari untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Komitmen ini dapat dilakukan orang tua bersama anak melalui kebiasaan sederhana yang dijalankan secara konsisten.
Tujuh kebiasaan tersebut meliputi:
- Membaca atau mengulang hafalan (murajaah) Al-Qur’an setiap hari sesuai kemampuan.
- Mempelajari minimal tiga kosakata bahasa Arab baru.
- Membaca buku atau materi ilmu pengetahuan selama 10–15 menit.
- Menggunakan gawai untuk satu kegiatan belajar yang positif.
- Menuntaskan satu tanggung jawab di rumah tanpa harus disuruh.
- Melakukan satu kebaikan dengan tulus kepada orang tua, guru, atau teman.
- Mengevaluasi kebiasaan selama sepekan bersama orang tua atau guru.
Melalui pembiasaan tersebut, keluarga diharapkan mampu membangun lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuhnya kecerdasan, kedisiplinan, kemandirian, dan akhlak mulia.
Pesan yang ditekankan dalam kajian ini sederhana, tetapi bermakna: mulailah dari hal kecil dan lakukan secara konsisten. Dengan keteladanan orang tua dan guru, kecerdasan anak diharapkan tumbuh seiring dengan integritas sehingga melahirkan generasi berilmu, amanah, dan bermanfaat bagi umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments