Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

The Art of Less: Seni Melawan Banjir Birokrasi di seModern

Iklan Landscape Smamda
The Art of Less: Seni Melawan Banjir Birokrasi di seModern
dr. Anwar Hariyono. Foto: Dok/Pri
Oleh : Dr. Anwar Hariyono, SE, M.Si, CIAP Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

The Art of Less adalah cara kritis memeriksa dan mendalami fenomena modern yang tersebar luas yang dikatakan oleh penulis disebut “organizational sludge”.

Buku ini di tulis oleh Mats Alvesson dan Andre Spicer, isinya menantang hal keyakinan akan institusional yang berada luas antara kompleksitas, pertumbuhan, dan proliferasi kebijakan yang terkait inisiatif yang otomatis yang menghasilkan hasil yang diharapkan baik nantinya.

Buku di harapkan akan ada respon balik terhadap argumen menyakinkan kelebihan organisasi akan secara aktif menghambat produktivitas, membuat frustasi, dan menghalangi institusi untuk mencapai tujuan utama mereka.

Konsep Inti: Sludge Organisasional (Organizational Sludge)

Organizational sludge adalah beban tambahan berlebihan yang diberikan organisasi kepada karyawan, meski hal ini sering kali tidak berkaitan langsung dengan tugas utama. Fenomena ini dipahami sebagai proses akumulasi, aturan, dan regulasi yang bersifat kaku sehingga mempersempit ruang lingkup tindakan individu dalam organisasi.

Para penulis menunjukkan biaya yang mengejutkan dari fenomena ini melalui contoh-contoh nyata:

Penulis mampu mengilustrasikan konsekuensi signifikan dari fenomena ini melalui berbagai kasus empiris: sebuah korporasi multinasional yang mengalokasikan sekitar 300.000 jam kerja staf per tahun hanya untuk persiapan rapat eksekutif, tenaga pendidik di Inggris yang menghabiskan lebih dari 60 per jam kerja pada aktivitas administrasi non pendagogis, serta akademisi yang menghadapi hambatan birokratis berupa proses ethical clearance yang kompleks dengan tuntutan dokumentasi hingga 70 halaman.

Secara sistematis, buku ini mengklasifikasikan Sludge ke dalam enam dimensi utama yang di sebut Enam P: policies, paperwork, platforms, project, positions, dan practices. Manifestasi dari katagori ini dapat ditemukan listas sektor, misalnya melalui kebijakan pengadaan yang menimbulkan beban admistratif, mekaisme pelaporan yang minim nilai tambah, infrastruktur teknologi informasi yang tidak efisien, serta intensitas rapat yang berlebihan.

Mengapa Sludge Menyebar (Siklus Sludge)

Kontribusi sentral buku ini adalah analisis mengenai sludge cycle (siklus sludge) proses tidak normal di mana sludge menghasilkan sludge itu sendiri. Sludge organisasional muncul dari campuran rasionalitas, kepentingan pribadi, dan niat baik, didorong oleh tekanan internal dan eksternal.

Buku ini memberikan kontribusi penting melalui analisis mengenai sludge cycle suatu mekanisme disfungsional ketika sludge mereproduksi dirinya sendiri. Sludge organisasional dipandang sebagai hasil interaksi antara rasionalitas formal, kepentingan aktor, dan intensi normatif, yang terbentuk dalam konteks tekanan institusional baik dari dalam maupun luar organisasi.
Siklus ini bekerja melalui empat tahap:

1. Fenomena overloaded organizations menggambarkan institusi modern yang menghadapi ekspektasi berlebihan, sehingga bertransformasi menjadi all-inclusive organizations yang berupaya menjangkau berbagai agenda, mulai ari pengentasan kemiskinan hingga isu keadilan sosial. Kondisi ini diperparah oleh menurunnya kapasitas organizational buffering serta melimpahnya aktor eksternal sebagai solution-mongers (konsultan dan pakar), yang secara kolektif memicu proses disfunsional dalam organisasi.

2. Fenomena overwhelmed systems menggambarkan kondisi organisasi yang kehilangan kapasitas untuk melakukan seleksi terhadap tuntutan eksternal maupun internal yang tidak relevan. Situasi ini mendorong terbentuknya silo organisasional yang memfragmentasi profesional, sekaligus melahirkan prosedur-prosedur disfungsional yang kerap diasosiasikan dengan karakteristik kafkaesque bureaucracy.

3. Fenomena distraction and marginalization menggambarkan kondisi di mana pekerja terdistraksi oleh kebutuhan untuk merancang solusi sementara (fudges) demi menavigasi aturan yang irasional. Akibatnya, aktivitas inti organisasi terdesak ke pinggiran. Sebagai ilustrasi, kewajiban entri data yang berlebihan dapat menciptakan inferno of documentation yang mengeser perhatian tenaga kesehatan dari fungsi utama, yakni pelayanan pasien.

4. Fenomena poor outcames and renewed sludge menunjukkan bahawa distraksi dalam organisasi berimplikasi pada penurunan kinerja serta erosi legitimasi institusional. Kegagalan publik terseut sering kali mendorong manajemen merespons dengan intervensi reaktif, misalnya progam pelatihan berbiaya tinggi, implementasi sistem teknologi informasi baru, atau regulasi yang leboh ketat yang pada praktiknya berfungsi sebagai sludge-adding solutions dan memperkuat siklus disfungsional organisasi.

Seni Mengurangi (The Art of Less): Melawan Balik

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Para penulis berpendapat bahwa organisasi harus “menghentikan kebiasaan lebih” (drop the habit of more) dan merangkul “seni mengurangi” (the art of less). Perlawanan ini melibatkan solusi pada tingkat individu, organisasional, dan institusional:

Pada level individu, strategi bertahan dalam lingkungan yang sarat sludge diwujudkan melalui tiga mekanisme utama: ignorance berupa selektivitas terhdap informasi yang dianggap tidak relevan, avoidence melalui penghindaran interaksi dengan sistem yang terlalu kompleks, serta windows dressing yang mencerminkan kepatuahn simbolis tanpa transformasi subtantif.

a. De-Sludging Organisasi (Tingkat Sistematis): Buku ini menggunakan metafora pengelolaan sludge untuk mengusulkan perbaikan organisasional:

Pendekatan mitigasi sludge dapat dipahami melalui tiga tahapan utama. Pertama beginning of pipe menekankan mekanisme seleski awal, seperti penerapan spam filters dan prtofolio inisiatif strategis, guna mencegah masuknya proyek non-esensial.

Kedua, in pipe berfoksu pada upaya de-clogging melalui strategi pengurangan, termasuk penerapan rule of halves, simplifikasi prosedural, dan otomisasi aktivitas bernilai rendah.

Ketiga, end of pipe menititk beratkan pada rekayasa ulang antarmuka penguna serta pemberian otonomi kepada stree-level bureaucrats untuk menggunakan diskresi profesional dalam melewati regulasi yang terlalu restriktif, sehingga melindungi kepentingan klien dari dampak sludge organisasional.

Konsep unblocking leadhership menekankan peran pemimpin sebagai organizational plumbers yang beroarientasi pada penciptaan nilai inti. Hal ini mencakup pemeliharaan ground contact dengan pekerja garis depan guna memperoleh pemahaman empiris atas persoalan nyata, eliminasi aktivitas non-produktif, serta penguatan kapasitas institusional untuk menolak beban tambahan yang tidak relevan.

Secara kritis, pendekatan ini mengadvokasi penerapan solusi good enough sebagai altenatif dari pencarian kesempurnaan yang tidak realistis dan berpotensi memperburuk kompleksitas birokratis.

b. Konsep institusional minimalism menegaskan bahwa upaya pengurangan sludge menuntut resistensi terhadap dinamika sosial yang meluas. Hal ini mencakup pengendalian ekspektasi publik yang kian meningkat, rasionalisasi regulasi yang tidak sensial, kritik terhdap proliferasi pseudo expertise, serta evaluasi kritis terhdap so-so technologies yang cenderung mengalihkan beban administratif kepada pekerja inti.

Kesimpulan

Karya The Art of Less diposisikan sebagai referensi signifikan bagi aktor dalam organisasi kompleks. Buku ini menyajikan analisis komprehensif mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhdap rendahnya produktivitas dalam konteks kerja kontemporer, serta menawarkan seperangkat instrumen praktis untuk mengimplementasikan strategi progressive subtraction sebagai pendekatan perbaikan organisasi.

Melalui analisis mendalam dan rekomendasi yang aplikatif, buku ini mendorong aktor organisasi baik pemimpin maupun karyawan untuk mengembangkan refleksi kritis dan mengarahakan sumber daya pada prioritas esensial.

Tujuannya adalah memastikan bahwa akumulasi sludge tidak mengikis orientasi institusional maupun makna kerja. Penulis menegaskan bahwa kompleksifikasi sistem merupakan kecenderungan yang relatif mudah dilakukan, sedangkan upaya simplifikasi menuntut kapasitas intelektual dan keberanian yang lebih tinggi. (*)

——————————————————–

Judul: The Art of Less How to Focus on What Really Matters at Work
Penulis : Mats Alvesson, André Spicer
Publisher: Bloomsbury Publishing; Bloomsbury Publishing
Tahun: 7 Oktober 2025
Halaman: 243
ISBN: 9781399422598; 9781399422574; 9781399422604

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡