Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiongkok dan Pakistan Dorong Gencatan Senjata, Bidik Peran Kunci di Tengah Perang AS-Iran

Iklan Landscape Smamda
Tiongkok dan Pakistan Dorong Gencatan Senjata, Bidik Peran Kunci di Tengah Perang AS-Iran
Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Foto: Detik News
pwmu.co -

Ketika konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran memasuki bulan kedua dan mengguncang pasokan energi global, Tiongkok mulai mengambil peran sebagai mediator perdamaian.

Langkah ini muncul di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut operasi militer di Iran berpotensi berakhir dalam dua hingga tiga pekan, meski belum ada kejelasan terkait skenario akhir konflik tersebut.

Dilaporkan Detik News, Sabtu (4/4/2026), Tiongkok bergabung dengan Pakistan yang secara tak terduga tampil sebagai penengah dalam konflik. Kedua negara mengusulkan rencana lima poin untuk mendorong gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi dunia.

Pakistan disebut berhasil meyakinkan Washington untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi ini. Sementara itu, keterlibatan Beijing terjadi menjelang rencana pertemuan dagang antara Presiden Xi Jinping dan Trump dalam waktu dekat.

Menurut Zhu Yongbiao, akademisi dari Universitas Lanzhou, dukungan Tiongkok memiliki bobot penting secara moral, politik, dan diplomatik, sekaligus memperkuat peran Pakistan dalam upaya mediasi.

Perubahan sikap Beijing juga terlihat jelas. Jika sebelumnya cenderung berhati-hati, kini Tiongkok mulai aktif mendorong penyelesaian konflik. Inisiatif tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Pakistan berkunjung ke Beijing untuk meminta dukungan dalam membuka jalur negosiasi.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan kedua negara tengah menjalankan inisiatif bersama guna mendorong perdamaian. Mereka menegaskan bahwa dialog dan diplomasi merupakan satu-satunya solusi realistis, serta menyerukan perlindungan jalur laut strategis seperti Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik.

Di balik langkah ini, kepentingan Tiongkok tidak hanya soal energi. Meski memiliki cadangan minyak yang cukup untuk beberapa bulan, Beijing sangat berkepentingan menjaga stabilitas global demi menopang pemulihan ekonomi domestik.

Ketergantungan Tiongkok terhadap pasar ekspor membuat guncangan energi global menjadi ancaman serius. Lonjakan harga minyak berpotensi mengganggu rantai pasok industri, mulai dari bahan baku plastik, tekstil, hingga komponen penting untuk ponsel, kendaraan listrik, dan semikonduktor.

Matt Pottinger dari Foundation for Defense of Democracies menilai kekhawatiran Tiongkok cukup beralasan. Ia melihat adanya keseriusan Beijing dalam mendorong Iran mencari jalan keluar demi mencegah krisis energi berkepanjangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok juga memperluas pengaruh ekonominya di Timur Tengah. Kawasan ini menjadi pasar potensial bagi produk Tiongkok, termasuk kendaraan listrik, serta lokasi investasi besar dalam proyek infrastruktur dan desalinasi air.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Melalui perusahaan seperti Power Construction Corporation of China, Beijing terlibat dalam berbagai proyek strategis di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, dan Irak.

Jaringan ekonomi tersebut memungkinkan Tiongkok menjalin hubungan lintas blok, baik dengan sekutu dekat AS seperti Arab Saudi maupun dengan Iran. Bahkan, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar Iran dengan menyerap sekitar 80 persen ekspor minyaknya.

Peran Tiongkok sebagai mediator bukan hal baru. Pada 2023, Beijing berhasil memfasilitasi normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran yang sempat terputus sejak 2016. Setahun kemudian, Tiongkok juga menjadi tuan rumah dialog antar faksi Palestina yang menghasilkan kesepakatan pembentukan pemerintahan persatuan.

Meski demikian, pendekatan Beijing tetap memiliki keterbatasan. Tiongkok tidak memiliki kehadiran militer signifikan di kawasan, berbeda dengan AS yang memiliki banyak pangkalan di negara-negara Teluk. Pangkalan militer terdekat Tiongkok hanya berada di Djibouti dan difokuskan untuk misi logistik.

Dalam konflik sebelumnya, termasuk ketegangan Iran-Israel pada 2025, Tiongkok memilih tetap berada di pinggir dan hanya memberikan dukungan terbatas.

Hingga kini, baik Amerika Serikat maupun Iran belum memberikan respons resmi terhadap inisiatif perdamaian terbaru tersebut. Namun langkah ini dinilai dapat memperkuat citra Xi Jinping sebagai mediator global.

Di sisi lain, klaim netralitas Tiongkok masih dipertanyakan. Kedekatannya dengan Rusia, kebijakan terhadap Hong Kong, serta sikap terhadap Taiwan dan isu hak asasi manusia menjadi catatan yang memengaruhi persepsi internasional.

Meski begitu, dengan kepentingan strategis yang luas dan pengaruh ekonomi yang kuat, Tiongkok tetap menjadi aktor penting dalam dinamika geopolitik Timur Tengah dan berpotensi memperbesar perannya di masa depan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡