Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UAH: Penyakit Jiwa Sesungguhnya Itu Ketika Potensi Baik Tidak Dioptimalkan

Iklan Landscape Smamda
UAH: Penyakit Jiwa Sesungguhnya Itu Ketika Potensi Baik Tidak Dioptimalkan
Ustaz Adi Hidayat. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Inti kehidupan manusia terletak pada jiwanya. Dan penyakit jiwa yang sebenarnya bukanlah kondisi hilang kesadaran sebagaimana dipahami umum, melainkan ketika seseorang tidak mampu mengoptimalkan potensi kebaikannya sehingga justru dikuasai potensi buruk.

Hal ini ditegaskan Ustaz Adi Hidayat (UAH), wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Menurut UAH, setiap manusia hanya memiliki dua potensi dalam jiwanya: takwa sebagai sumber kebaikan, dan fujur sebagai potensi keburukan yang sering dimanfaatkan setan.

Penjelasan ini merujuk pada QS Asy-Syams ayat 7–10, ketika Allah bersumpah atas jiwa manusia dan kesempurnaan penciptaannya.

“Kalau Allah sudah bersumpah, artinya perkara itu sangat serius,” tegasn seperti dikutip dalam kanal Youtube Adi Hidayat Official.

UAH menjelaskan bahwa penyakit jiwa yang sejati tampak ketika seseorang tidak bisa mengeluarkan potensi takwanya, sehingga tindakan buruk mendominasi hidupnya. Bukan soal hilang akal atau ketidaksadaran, melainkan ketidakmampuan mengelola jiwa.

“Kalau keluar dari mulut kata-kata tidak pantas, itu tanda jiwanya sedang sakit. Kalau tangan memukul, mencuri, korupsi, itu pun tanda jiwanya bermasalah,” terangnya.

Keadaan jiwa, kata beliau, menembus akal dan diterjemahkan menjadi tindakan fisik. Karena itu, anggota tubuh menjadi cermin kualitas jiwa.

UAH menekankan rasa syukur atas hadirnya Al-Qur’an, satu-satunya kitab suci yang secara detail menjelaskan mekanisme jiwa, cara kerja hati, hingga metode mengeluarkan potensi baik (takwa). Inilah sebabnya mengapa Al-Qur’an penuh dengan perintah untuk meningkatkan takwa.

“Takwa itu potensi baik. Untuk mengeluarkannya butuh cara. Caranya disebut syariat,” jelasnya.

Syariat adalah Jalan Mengeluarkan Takwa

Dalam paparannya, UAH menguraikan bahwa syariat bukan sekadar aturan, tetapi jalan luas (asy-syari’) yang membawa potensi takwa keluar menjadi tindakan nyata.

Segala bentuk ibadah – salat, puasa, haji, umrah – adalah metode pembentuk takwa. Ketika seseorang melaksanakan syariat dengan benar, perubahan karakter akan terjadi secara otomatis.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

UAH mencontohkan salat. “Salat itu tidak dimaksudkan untuk memberatkan. Ia mengubah pelakunya. Inna shalata tanha ‘anil fakhsyai wal munkar. Jika salat tidak memberi perubahan, itu tanda ada yang salah dalam kualitas salatnya,” jelasnya.

Demikian pula puasa, yang mampu menekan kecenderungan maksiat dan memperbaiki akhlak seseorang.

UAH kemudian memberikan ilustrasi historis. Allah menurunkan Islam di tengah bangsa Arab yang tingkat kriminalitasnya paling tinggi pada masa itu, bukan pada masyarakat yang relatif lebih baik. Tujuannya untuk menunjukkan betapa agungnya syariat dalam mentransformasi manusia.

Tokoh seperti Umar bin Khattab, Abu Dzar al-Ghifari, hingga seluruh sahabat yang dikenal hingga hari ini adalah bukti bagaimana syariat mampu mengubah pribadi dari titik nadir menuju kemuliaan.

Sebagai contoh, Abu Dzar berasal dari suku Al-Ghifar, daerah yang terkenal sebagai “kampung begal”. Namun setelah mendapat bimbingan Islam, ia menjadi sosok yang sangat dihormati, bahkan namanya kini banyak diabadikan.

“Orang baik itu membawa cahaya. Kampungnya jadi bercahaya. Masyarakat merasakan dampaknya,” ujar UAH.

Salah satu pengingat rutin yang Allah berikan adalah khotbah Jumat. Seruan “ittaqullah” bukan sekadar pelengkap khutbah, tetapi ajakan mengevaluasi seberapa banyak potensi takwa telah diwujudkan dalam sepekan terakhir.

“Ketika mendengar ajakan bertakwa, tanyakan pada diri sendiri: sebagai anak, apa kebaikan kepada orang tua minggu ini? Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai warga? Kumpulkan itu sebagai hasanah,” pesan UAH.

Dia menegaskan bahwa seluruh proses takwa, syariat, dan ibadah bermuara pada satu tujuan: mengumpulkan kebaikan atau hasanah sebagai bekal menuju akhirat.

Doa yang kita baca setiap hari, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah,  menunjukkan bahwa kebaikan (hasanah) adalah inti perjalanan hidup seorang Muslim, dari dunia hingga akhirat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡