Adakah Tuntunan Islam tentang Rebu Wekasan?

4576
Pasang Iklan Murah

PWMU.CO – Sejak kemarin di berbagai media social (medsos) beredar broadcast yang mengingatkan tentang kehadiran “Rebu Wekasan”. Diantaranya yang beredar adalah “Rebu pungkasan jatuh pada hari Selasa malam Rabu 29 November 2016. Ba’da Maghrib, silahkan laksanakan amalan berikut dengan mengutip sebuah kitab tertentu.

Diantara petunjuk yang beredar adalah tuntunan berbagai wirid dengan berbagai amalan dan bacaan. Sebelum melaksanakannya, terlebih dahulu shalat sunnah li daf’il bala’ yakni shalat Hajat untuk menolak bala’, 4 rakaat (setiap 2 rakaat salam). Dalam setiap rakaat yakni setiap saat berdiri setelah baca surat al-Fatihah, membaca surat tertentu dengan jumlah tertentu.

Setelah selesai shalat 4 rakaat tersebut kemudian membaca surat Yasin satu kali. Saat sampai ayat “Salamun Qoulam mir Robbir Rohim”, yang satu ayat tersebut diulang-ulang hingga ratusan kali. Kemudian dilanjutkan dengan membaca doa tertentu, kemudian kembali dilanjutkan dengan bacaan surat Yasin, dan diakhiri doa tertentu.

Sebenarnya bagaimana tuntunan Islam yang sesuai petunjuk Nabi tentang masalah Rebu Wekasan ini? Benarkah amalan Rabu akhir Safar (yang dalam istilah Jawa Rebo Wekasan), bisa menghindari penyakit dan sebagainya?

(Baca juga: Doa Memasuki Bulan Rajab dan Bagaimana Tuntunan Puasa Rajab?)

Sebelum membahas pada inti persoalan, yang patut diketahui, Rabu Wekasan (Jawa: Rebo Wekasan) adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, guna memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Karena bulan Shafar, sama halnya dengan bulan hijriyah lainnya, maka tanggal itu dihitung sejak matahari terbenam. Karena itu, Rebu Wekasan jatuh pada hari Selasa, dimulai sejak Maghrib.

Bentuk ritual Rebo Wekasan biasanya meliputi empat hal; (1) shalat tolak bala’; (2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat; dan (4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Konon, amalan ini berasal dari kabar adanya seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) yang mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’ dalam satu malam.

(Baca juga: Masih Bingung Ibadah Nishfu Sya’ban? Inilah Penjelasan Lengkapnya dan Hadits-Hadits Palsu Seputar Nishfu Sya’ban)

Oleh karena itu, waliyullah itu menyarankan Umat Islam untuk shalat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala’ tsb. Tata-caranya adalah shalat 4 rakaat. Setiap rakaat membaca surat al Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali.

Kepercayaan tentang Rebu Wekasan yang seperti itu, dalam Islam disebut tasya’um atau tathayyur, ada perasaan sial karena sesuatu. Kepercayaan seperti ini membuat seseorang berusaha untuk menangkalnya, yang salah satunya dengan berbagai amalan yang beredar tidak jelas itu.

Syekh Muhammad Abadussalam Khadhar asy-Syuqairi menulis dalam as-Sunan wal Mubdata’at halaman 137. “Orang-orang bodoh membuat suatu tradisi menulis ayat-ayat yang berhubungan dengan salam (selamat), misalnya salaamun ‘alaa nuuhii fiil ‘alamiiin (Selamatlah atas Nuh di seluruh alam/QS ash-Shaffat: 79), di hari Rabu terakhir dari bulan Shafar, yang kemudian tulisan itu direndam dalam bejana-bejana (bak-bak) untuk diminum dan (mandi) untuk diambil barakahnya (bertabarruk) serta dibagi-bagikan kepada khalayak dengan keyakinan akan bisa menyelamatkan dari bencana.”

(Baca juga: Bagaimana Tuntunan Puasa Sya’ban? dan Adakah Tuntunan Puasa Tarwiyah sebelum Idul Adha, 8 Dzulhijjah?)

Menurut almarhum KH Mu’ammal Hamidy, kepercayan seperti itu adalah rusak (fasad), dan menganggap kesialan yang tercela. Merujuk pada berbagai hadits Nabi, Islam sudah tentu melarang semuanya itu.

Misalnya, dalam Musnad Ahmad dan Bukhari dalam Adabul Mufrad, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Abdullah meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Merasa sial karena sesuatu itu syirik 3x, dan tidak seorang pun diantara kita melainkan (satu saat ada perasaan seperti itu), tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal.

Imam Thabrani juga mencatat hadits yang sama, dan menilainya hasan, sebagaimana termaktub dalam al-Jami’ush Shaghir,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلا تُطُيِّرَ لَهُ، وَلا تَكَهَّنَ وَلا تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ

Bukan dari umatku barangsiapa yang menganggap sial karena burung dsb (tathayyur) atau minta ditebakkan kesialannya, tidak pula barangsiapa yang meramal atau minta diramalkan, atau mensihir atau minta disihirkan.

(Baca juga: Bolehkah Kita Berdoa dengan Potongan Ayat al-Qur’an? dan Allah Esa, Tapi Mengapa Menyebut-Nya “Kami”?)

Sementara dalam Musnad Ahmad dan Sunan Thabrani, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Barangsiapa yang hajatnya digagalkan karena menganggap sial karena sesuatu (tathayuur) maka dia itu syirik. Para sahabat betanya : lalu, apa kaffarahnya ya Rasulallah? Jawab beliau yaitu hendaknya dia mengatakan : “allahumma la khaira illa khairuka wa la thaira illa thairuka wa la ilaha ghairuka” (Ya Allah tidak ada satupun keberunutngan melainkan keberuntungan yang datang dariMu, tidak ada satupun kesialan melainkan kesialan yang datang dariMu dan tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Engkau.)

Masih dalam al-Jami’ush Shaghir, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا هَامَةَ وَلَا نَوْءَ وَلَا صَفَرَ-  وَلاَ غَوْلَ

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Tidak ada penularan penyakit, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan karena bintang, tidak ada kesialan kerana bulan Shafar dan tidak ada kesialan karena makhluk halus. (HR Ahmad dan Muslim)

Dengan demikian, kepercayaan bala’ akan datang pada Rebu Wekasan, pada Rabu  akhir bulan Safar menyalahi nash-nash hadits yang sharih dan jelas. Wallahu a’lam

1 KOMENTAR

  1. ISLAM MUNDUR KARENA UMAT ISLAM SENDIRI. MAKA UMAT HARUS BELAJAR ISLAM SECARA UTUH. ISLAM AKAN MUNDUR KARENA PENGARUH DARI DALAM DAN JUGA DARI LUAR.
    BILA TIDAK UTUH, SEPENGAL- PENGGAL, SEBAGIAN- SEBAGIAN, SEPARO- SEPARO, AKAN BERCAMPUR DENGAN BERBAGAI:
    HAL- HAL YANG LAIN ” DILUAR AGAMA YANG SUCI DAN FITRAH INI “, BAIK IDEOLOGI, POLITIK, EKONOMI DAN SOSIAL-BUDAYA, HANKAM DAN YANG LAINYA.
    ISLAM ITU SEBENARNYA AGAMA YANG SIMPLE, TIDAK NEKO- NEKO, TIDAK NGANEH- NGANEHI, TIDAK BIM SALABIM, TIDAK ABRA KADABRA, DAN SESUAI AKAL PIKIRAN MANUSIA YANG DIBATASI OLEH AL- QURAN DAN AS- SUNNAH. TENTUNYA AL- HADITS YANG SHAHIH.
    MENURUT SAYA PRIBADI BILA KAJIAN- KAJIAN ISLAM PERTAMA KE FIQIH LEBIH CENDERUNG SUBYEKTIF, SEHARUSNYA KAJIAN- KAJIAN DARI AQIDAH, ITU BARU OBYEKTIF.
    KALAU MAU MENGAJARI FIQIH, KENALKANLAH BERBAGAI FIQIH YANG BERANEKA WARNA, MAAF, DAPAT DIIBARATKAN SUPAYA TIDAK MENJADI KATAK DALAM TEMPURUNG.
    WALLAHUA’LAM.