
PWMU.CO – Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Aisyiyah Jawa Timur yang berlangsung di Surabaya menyoroti tiga aspek utama dalam penguatan organisasi, yaitu penataan, pendataan, dan pendanaan, Ahad (9/2/2025).
Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Hj Rukmini MAP dalam sambutan iftitahnya menegaskan bahwa rangkap jabatan akan menjadi perhatian khusus agar kepemimpinan tetap berjalan dengan baik.
Selain itu, lemahnya sistem pendataan di Aisyiyah menjadi tantangan yang perlu segera diatasi dengan mengusung slogan Ranting Penting, Cabang Berkembang sebagai wujud semangat Al-Ma’un dalam mendorong kemajuan organisasi.
“Masjid ramah anak adalah tempat di mana anak-anak merasa nyaman dan bisa berdampingan dengan jamaah lainnya,” ujar Rukmini.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah dalam pendanaan guna mewujudkan peradaban berkemajuan sesuai cita-cita nasional dan harapan masyarakat.
Memaknai 100 Persen dalam Ber-Aisyiyah
Musypimwil juga menegaskan bahwa seorang Muslim harus bersikap inklusif dalam urusan kemanusiaan, tanpa membedakan agama saat mengajak kepada kebaikan.
Sikap ini harus diwujudkan dengan mengedepankan ajakan, bukan ejekan, serta memperkuat iman dan takwa dalam segala aspek kehidupan.
Perempuan berkemajuan dalam Aisyiyah diharapkan memiliki tujuh karakter utama, yaitu:
- Beriman dan bertakwa (imtaq)
- Berakhlak mulia (akhlaqul karimah)
- Bersikap wasatiyah (moderat)
- Inklusif dan terbuka terhadap semua kalangan
- Memiliki layanan terpadu dalam keluarga
- Aktif dalam Bimbingan Keluarga Sakinah (BIKKSA)
- Berperan dalam edukasi dan perlindungan hukum melalui Pos Bantuan Hukum (Posbakum)
Selain itu, Balai Kesejahteraan Sosial (Bakesos) yang dikelola oleh Majelis Kesejahteraan Sosial terus dikembangkan untuk memberikan perlindungan dan layanan kepada anak, perempuan, serta keluarga.
Sejalan dengan hal ini, Salmah Orbayinah MKes dalam forum Tanwir pada 17 Januari 2025, menegaskan pentingnya perempuan Aisyiyah berperan 100 persen di berbagai ranah kehidupan.
“Sebagai istri dan ibu dalam keluarga, sebagai profesional di tempat kerja, dan sebagai kader Aisyiyah, kita harus memberikan 100 persen usaha agar dapat mewujudkan Qaryah Thayyibah dan hidup dalam Hayaatan Thayyibatan,” ungkapnya.