
PWMU.CO – Menjadi guru dan Tenaga Kependidikan (Tendik) di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus memiliki akhlak mulia: tidak mudah marah, tidak suka berbohong, bertanggung jawab, dan disiplin.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr Muhammad Solihin MPSDM, pada acara Darul Arqam Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Sabtu (22/3/25).
Solihin menyampaikan bahwa seorang guru tidak akan menjadi baik jika hatinya tidak bersih, suka berbohong, dan melakukan perbuatan tercela.
“Guru tukang bohong, suka marah, tidak amanah, tidak tanggung jawab, dan tidak disiplin tidak akan mendapatkan simpati dari siswanya,” ucapnya di hadapan seluruh guru dan tendik AUM se-Kota Pasuruan di Masjid Darul Arqam.
Untuk itu, guru SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya ini menekankan bahwa bekerja dan mengajar di AUM tidak hanya sekadar bekerja.
“Mengajar harus diniatkan sebagai perintah Allah. Orang mengajar pasti ditolong Allah. Orang mengajar pasti dibalas oleh Allah. Dan orang mengajar dimintai pertanggungjawaban oleh Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, pria kelahiran Lamongan itu juga menyampaikan nilai dasar pendidikan Muhammadiyah. Pertama, kolektivitas. Sekolah Muhammadiyah, menurut Solihin, tidak bersaing dengan sekolah lainnya, tetapi bersaing dengan perubahan dan tuntutan masyarakat.
Kedua, humanitas atau kemanusiaan. Bagi Solihin, masyarakat yang memperhatikan pendidikan adalah masyarakat yang memiliki harkat dan martabat tinggi, begitu pula negara. Ketiga, spiritualitas. Keempat, moralitas. Dan kelima, profesionalitas.
“Muhammadiyah dinilai sebagai organisasi masyarakat (Ormas) paling rapi,” ungkapnya.
Selain hal tersebut, Solihin juga menyampaikan kekuatan pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, kekuatan pendidikan Muhammadiyah terletak pada beberapa hal berikut: ruhul jihad atau kesediaan untuk berkorban.
Selanjutnya adalah nilai Islam yang dikembangkan, yaitu Islam yang murni dan berkemajuan.
Menyusul berikutnya adalah ideologi yang dikembangkan di setiap AUM, bahwa AUM adalah sarana untuk berdakwah. Dan terakhir adalah militansi guru dan tendiknya.
“Jadi guru Muhammadiyah itu militan, bukan meletan dan nggak sambatan,” ucapnya.
Penulis Dadang Prabowo Editor Zahra Putri Pratiwig