Kondisi Masyarakat Seperti Inilah yang Dikhawatirkan Rasulullah

140
Hikmah Press
Ustadz Nur Qosim sedang khutbah iedul adha di lapangan Desa Sumberbendo, Pare, Kediri ( foto dahlansae/pwmu.co)

PWMU.CO-Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tawang Sumberbendo Pare, Kediri  menyelenggarakan kegiatan salat Iedul Adha di lapangan desa setempat, Rabu (22 /08 /2018). Kegiatan yang dihadiri ratusan jamaah gabungan dari beberapa PRM se-PCM Pare tersebut diadakan dengan mengundang Ketua PCM Badas, Kabupaten Kediri 2005-2010, Ustadz Nur Qosim sebagai imam dan khotib.

Dalam khutbahnya, Nur Qosim merasa prihatin atas kondisi masyarakat dewasa ini. Nur Qosim kemudian menjelaskan, apabila datang iedul fitri atau iedul Adha, pelaksanaan salat Ied sesuai sunnah adalah di tanah lapang. “Saat itu kita boleh pamer kepada manusia atas izin Allah  sebagai syiar Islam,” tutur Nur Qosim.

iklan

Dalam melaksanakan salat Ied, lanjut dia, juga disunnahkan agar berangkat ke tanah lapang melewati jalan berbeda juga saat pulang menuju rumah masing-masing. Hal ini sebagai bentuk konkret dilakukan sebagai umat yang patuh kepada perintah Allah, dan mengikuti sunnah rasul bukan semata-mata mencari pujian dari manusia, tetapi ingin mendapat ridho Allah Swt.

Dengan mengikuti sunnah Rasul ini, kata dia, harapannya mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. Ini sekaligus disampaikan untuk mengingatkan umat Islam secara mayoritas saat ini yang mengalami kebingungan dalam menentukan arah hidupnya sendiri.  Hal tersebut karena dalam perkembangan ilmu saat ini dikembangkan cederung destruktif yang mengajarkan pemilihan ilmu atas dasar pemikiran dan nafsu belaka, padahal umat Islam secara akumulatif adalah mayoritas.

Kondisi ummat saat ini seperti digambarkan  dalam keprihatinan Nabi Muhammad SAW, yang dicantumkan dalam surat al-Furqon ayat (30), seolah-olah Rasulullah mengeluh kepada Allah, kemudian Ustad Nur Kosim membacakan ayat tersebut beserta artinya: Berkatalah Rasulullah: “Ya rabbku sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sesuatu yang diacuhkan.”

Kebingungan umat Islam pada akhir zaman ini, lanjutnya, adalah terbukti tidak mengindahkan al-Quran. Mereka mengacuhkan al-Quran sampai-sampai nabi berdoa: “Yaa Robbi sungguh ummatku, menjadikan al-Quran ini Mahjulan, mereka meninggalkan al-Qur’an.”

Dan apa yang sudah disinyalir 14 abad yang lalu tersebut, lanjut dia, ternyata sudah ada di depan wajah kita. ”Oleh karenanya, janganlah kita larut meninggalkan syariat seperti yang kebanyakan manusia laksanakan,” nasihat dia.

Mereka, tambahnya, yang meninggalkan al-Quran sesungguhnya adalah merasa kebingungan untuk merumuskan tujuan hidup. Ada yang menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri, mencapai predikat dan titel menumpuk. Tapi sayang, kata dia, ujung-ujungnya mereka menjadi maling (kiroto boso qirotul  aMALe wong se raeLING). Kepintarannya tanggung, sehingga hanya mencari korban orang lain dan pada gilirannya menjerumuskan banyak umat, yang tidak paham terhadap pola pikirnya. Sebaliknya pendidikan sekolah yang mengajarkan al-quran, malah tidak diakui dan tampak kurang diperhatikan.

“Kita tahu ada seorang anak gara-gara bisa memanjat tiang bendera ketika tali bendera putus, disanjung . Berapa banyak anak mendapatkan apresiasi hingga di istana negara, sebagai seorang pahlawan. Kita tidak dalam posisi menyalakan, tapi sungguh kontradiktif tatkala anak-anak hafal al-Qur’an, tanpa mendapatkan apresiasi yang semestinya,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, dengan hafal al-Qur’an mereka telah menyelamatkan banyak manusia dari dunia hingga akhir hayat. Umat Islam saat ini tampaknya dalam hidupnya tanpa konsep al-Quran, bahkan kebingungan menentukan arah kehidupannya, mereka hanya menuruti dirinya sendiri, menuruti nafsu pemikiran orang-orang sekuler, sehingga tepatlah Allah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menjadikan keinginan nafsunya itu sebagai Tuhan ?”

Apabila mereka memiliki cita-cita, kata dia, tidak peduli apakah melanggar tuntunan Allah atau sebaliknya, pastilah tetap diperjuangkan, dan dengan catatan asal mendapat pendukung, walau dijalankan secara berjamaah dalam kekeliruan. “Kita hendaklah merevisi ulang definisi masa depan karena telah salah kaprah  terjadi di masyarakat luas, dimaknai hanya kepentingan duniawi semata,” nasihat dia.

Padahal yang disebut dengan masa depan itu, lanjut dia, adalah ketika manusia telah berada di alam kubur. Berpisah dari dunia ini, kta dia,  itulah yang disebut masa depan. Sedangkan saat ini pemahaman orang tentang masa depan adalah jika mereka masih di dunia inilah beda kelas. (dahlansae Pare Kediri)